Aisyah & Afnan

Aisyah & Afnan
Tantangan


__ADS_3

“Aisyah,” sapa Farah kepada Aisyah yang tengah duduk di ruangan paski.


“Ya, ada apa?” sahut Aisyah.


“Kamu udah kasih tantangan kan ke junior?” tanya Farah.


“Tantangan apa?” tanya balik Aisyah.


“Ihh, kamu ini gimana sih. Setiap junior baru harus di beri tantangan dari seniornya dan setiap tahunnya tantangan tersebut berbeda-beda,” ujar Farah sambil berjalan menuju Aisyah.


“Terus, tahun ini tantangannya apa dong?” tanya Aisyah sambil menoleh kearah Farah.


Farah pun mempunyai ide jail untuk Aisyah, “Kalau menurut ku sih, lebih baik kamu ngasih tantangan yang seperti ini … bagaimana, kamu setuju ‘kan?” ujar farah sambil tersenyum manis.


“Ok,” sahut Aisyah sambil mengangguk setuju.


Saat mereka sedang asik-asiknya tertawa, Bayu dengan tiba-tiba datang menghampiri mereka.


“Lo ngapain di sini Bay?” tanya Farah.


“Emangnya kenapa kalau gue duduk disini? Ada masalah?” tanya Bayu kembali.


“Ada,”


“Apaan?”


“Masalahnya, ini sofa nggak kuat nampung lo di sini. Soalnya dosa lo terlalu banyak,”


Aisyah yang mendengar perkataan Farah pun tertawa puas. “Makanya Bay, perbanyakan ibadah,” sahut Aisyah disela tawanya.


“Gue udah tobat kok Bul,” ujar Bayu dengan wajah yang meyakinkan.


“Kapan? Tahun lalu?” tanya Farah dengan setengah tertawa.


“Barusan,” jawab Bayu dengan wajah cemberutnya.


Sontak Aisyah dan Farah tertawa ketika melihat ekspresi dari Bayu, Bayu yang merasa dirinya ditertawakan ia pun memilih untuk pergi meninggalkan Aisyah dan Farah. Setelah kepergian Bayu mereka berdua pun hendak pergi meninggalkan ruangan paski tersebut, tetapi langkah mereka terhenti ketika Nico datang menghampiri mereka berdua.


“Aisyah, lo udah siapin tantangan buat junior ‘kan?” tanya Nico kepada Aisyah.


“Udah kok, emangnya kenapa?” ujar Aisyah.


“Setelah jam istirahat kita segera kumpulkan junior, kita akan membahas tentang tantangan yang akan kamu berikan kepada mereka,”


“Harus hari ini juga?”

__ADS_1


“Iya”


“Ok deh.”


Tepat dijam istirahat para senior paski pun datang di tempat titik kumpul anggota paski berada. Kini aisyah mengambil alih para junior, kali ini mereka semua harus memasang telinga dengan benar karena jika mereka tidak mendengar dengan teliti bisa-bisa mereka akan kena masalah dengan Aisyah.


“Ok, kami para senior mengumpulkan kalian di sini untuk memberikan informasi kepada kalian semua. Saya harap kalian dapat mendengarkan dengan baik, mengerti!” ujar Aisyah.


“Siap, mengerti kak!” jawab mereka.


“Setiap tahunnya para senior akan memberikan sebuah tantangan kepada para juniornya. Tantang tersebut setiap tahunnya berbeda-beda dan saya sendiri yang akan menentukan tantangan apa untuk kalian.” Papar Aisyah sambil menatap wajah mereka satu persatu.


“Tantangan buat kalian adalah setiap 1 junior harus bisa mendapatkan tanda tangan dari para seniornya, kalian bisa membeli buku kecil khusus untuk tanda tangan para senior. Dan ingat! Setiap kalian meminta tanda tangan kepada senior, senior tersebut harus memberi tantangan kepada junior yang meminta tanda tangan padanya. Dan kalian semua harus mengikuti perintah mereka!” sambung Aisyah menerangkan penjelasannya.


“Kalau boleh tau tanda tangan yang terkumpul minimal berapa ya kak?” tanya Afnan.


“Minimal 25 dan maksimal 35 tanda tangan, siapapun yang tidak memenuhi syarat mereka harus menerima hukumannya!” jelas Aisyah.


“Tantangannya mulai kapan ya kak?” tanya Mila.


“Mulai besok,” jawab Aisyah. “Ok, sekian dari saya. Selanjutnya akan di lanjutkan oleh kak Nico,” ujar Aisyah dan mulai mengalihkan kepada Nico.


“Disini saya akan memberikan NACAN (nama cantik) untuk kalian, nacan tersebut sudah di pegang oleh para senior yang akan memberikan kepada kalian. Seperti biasanya palu angkatan kami akan memberikan nacan tersebut pada bulu di angkatan kalian dan sebaliknya juga begitu,” jelas Nico dan segera memerintahkan pada anggotanya untuk memberikan nacan kepada junior.


“Oh ya saya lupa, kakak senior yang memberikan nacan kepada kalian, mereka adalah kakak asuh kalian atau bisa di panggil kakak pelindung kalian. Sampai sini mengerti?” timpal Nico.


Seketika aisyah dan afnan terkejut mendengar perkataan nico, mereka berdua sempat saling menatap satu sama lain dengan rasa bingung. Apakah mereka berdua bisa saling akrab?


“Kalian boleh buka nacan tersebut” ucap Nico.


“Ucok?” Seru Afnan yang masih bingung dengan nama tersebut. Aisyah yang mendengar perkataan Afnan tersebut pun tersenyum simpul melihat Afnan yang tidak tau apa kepanjangan nacan tersebut.


“Sudah di buka?” tanya Nico.


“Sipa, sudah kak!” jawab mereka.


“Nacan tersebut mempunyai kepanjang masing masing, kalian harus mencari tau kepanjangn nacan tersebut. Kalian juga bisa bertanya kepada kakak asuh kalian, dan jangan lupa nacan tersebut kalian print dan buat seperti kalung.” Jelas Nico.


Afnan pun berniat untuk bertanya pada Aisyah, “ Kak-“ belum sempat Afnan bertanya Aisyah malah memotong perkataan Afnan.


“Cari tau sendiri!” ketus aisyah yang langsung pergi meninggalkan kerumunan.


‘Ya elah, baru juga manggil’ guman Afnan.


“Ok sekian pemberitahuan dari kami, setelah ini kalian bisa menuju kelas masing masing,” jelas Nico dan membubarkan mereka semua.

__ADS_1


Mereka pun berjalan menuju kelas masing masing, Afnan masih memikirkan kepanjangan dri nacannya tersebut.


“Nan, nacan lo apa?” tanya Fais yang berda di sebelah Afnan.


“Ucok,” jawab Afnan sambil memegang nacan tersebut.


“Kepanjangannya apaan?” tanya Fais lagi.


“Kagak tau gue,” balas Afnan. “Kalaok lo apaan?” tanya Afnan.


“Mutu,” jawab Fais dengan wajah lesu.


“Kepanjanganhya?” tanya Afnan.


“Muka tua,” jawab Fais.


Seketika Afnan tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan dari sepupunya tersebut. Fais yang merasa kesal karena di tertawakan akhirnya pun pergi meninggalkan Afnan.


“Eh, lo mau kemana?” tanya Afnan bingung.


“Kelas!” ketus Fais.


“Eh bambank, kelas kita kearah kanan. Lah, lo mau kemana?” ujar Afnan yang bingung melihat Fais yang salah mengambil jalan, ia pun tertawa melihat ekspresi Fais.


“Gue lupa!” jawab Fais yang kalah malu karena ketauan salah mengambil jalan.


Afnan pun mengikuti Fais dari belakang, ia masih bingung dengan kepanjangan nacannya tersebut.


“Lo tau dari mana kepanjangan nacan lo?” tanya Afnan.


“Dari cewek cantik,” jawab Fais sambil tersenyum-senyum tak jelas


“Siapa?” tanya Afnan yang masih penasaran dengan jawan Fais.


“Bidadariku, kak Farah,” ujar Fais sambil tersenyum tak jelas seperti orang gilak.


“Semua wanita aja lo bilang bidadari” sindir Afnan.


“Kalau yang ini beda, dia paling special,” ujar Fais membela diri.


“Hilih, bacot!” ledek Afnan yang tidakk percaya sama sekali dengan playboy yang satu ini.


“Dah lah, gue capek ngomong ama lo!” kesal Fais yang pergi meninggalkan Afnan.


“Lah? Gue salah apa coba? Kan emang bener dia kayak gitu,’ ujar Afnan membela diri.

__ADS_1


__ADS_2