
Setelah solat ashar mereka pun kembali duduk untuk berkumpul mendengarkan informasi dari aisyah.
Aisyah pun berjalan menuju kearah junior berada.
“Ok, sekarang saya akan menyampaikan sesuatu buat kalian semua,” ujar Aisyah.
Dan di detik itu juga Bayu dan Nico berjalan menuju mereka dengan membawa sebuah kotak besar. Aisyah Pun menyuruh Bayu dan Nico untuk membagikan isi dalam kotak tersebut.
“Di dalam kotak tersebut berisi seragam latihan, sepatu sport, dan topi. Itu semua adalah bantuan dari pihak sekolah terhadap ekskul paski. Jadi, saya harap kalian bisa menjaga barang-barang tersebut dan jangan sampai saya dengar kalian membuat nama paski kita buruk. Mengerti semua?” ujar Aisyah panjang lebar.
“Mengerti Kak,” jawab mereka serentak.
“Saya harap kalian bisa menjaga batasan kalian terhadap senior dan satu lagi setiap ada pertanyaan dari kakak senior kalian wajib menjawab dengan kata ‘siap’. Mengerti semua?” ujar Aisyah.
“Siap, mengerti Kak.” Jawab mereka.
Hari sudah mulai sore dan para anggota paski dipersilahkan untuk pulang. Para junior dipersilahkan pulang terlebih dahulu sedangkan senior masih berbincang-bincang tentang masalah untuk perkembangan junior nantinya.
****
Seperti biasanya, kantin selalu ramai jika sudah memasuki jam istirahat. Para siswa sudah menempati semua meja yang kosong, tak perduli jika mereka harus bersempit-sempitan yang terpenting perut mereka terisi oleh makanan.
“Nan, lo mau pesan apa?” tanya Fais.
“Kok tumben lo baik sama gue? Lo lagi sakit ya?” tanya Afnan yang merasa heran dengan sikap sepupunya yang tidak seperti biasanya.
“CK, lo itu sepupu gue. Jadi, wajar dong kalau gue baik.” Jawab Fais.
“Iya deh iya, gue pesan nasgor aja deh. Cepetan ya,” ujar Afnan sambil bergaya seperti sedang dilayani seorang pelayan.
“Kalau mau cepat pesan aja noh sama kang sulap,” ujar Fais dengan kesal sambil berjalan.
Tak perlu waktu lama pesanan tersebut pun datang, mereka berdua pun langsung melahap makanan mereka.
Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba pandangan mereka tertuju ke arah pintu masuk kantin tersebut. Bukan hanya mereka saya, melainkan seluruh siswa yang ada di kantin tersebut.
Mereka melihat sekumpulan anggota paski angkatan 35 yakni angkatan senior mereka. Kumpulan tersebut di pimpin oleh Aisyah yang berada di depan barisan. Seketika ruangan tersebut penuh dengan suara gosipan dari semua siswa yang keheranan melihat anggota paski yang sudah lama tak pernah mengunjungi tempat ini.
“Loh itu ‘kan senior paski. Kok tumben mereka kesini?”
“Mungkin karena pemimpinnya udah kembali kali,”
“Loh, bukanya pemimpinnya udah ngundurkan diri ya?”
“Alah, palingan kepingin jadi terkenal,”
__ADS_1
Begitulah gossip-gosip dari siswa yang sangat menyebalkan menurut Aisyah. Aisyah tetap berjalan didepan ia tidak memperdulikan apapun gosipan dari seluruh siswa di kantin tersebut.
“Eh, Akang-akang dan Neng gelis ku udah kembali …. Duduk atuh,” ujar Bu Gotik selaku sang penjaga kantin tersebut. “Aduh … Bugo kangen banget sama kalian semua,” ujar Bu Gotik dengan semangat 45-Nya.
“Kangen sama orangnya atau sama uangnya nih?” tanya Bayu yang membuat semua orang tertawa.
“Aduh ... kok nanya gituan sih kang, yang pastinya kangen sama uangnya dong,” jawab Bu Gotik dengan gaya centilnya.
Seketika semua pun tertawa mendengar perkataan Bu Gotik, Aisyah pun tersenyum-senyum melihat gaya bicara Bu Gotik.
“Udah ah, Si Akang selalu aja gangguin Bugo. Eh, ada Si Neng gelisku udah lama nggak ketemu. Neng gelisku mau pesan apa nih biar Bugo bikinin sekarang” ujar Bu Gotik yang antusias saat melihat kehadiran Aisyah di antara mereka.
“Kok Aisyah doang yang di tawari, kita enggak?” ujar Nico dengan memasang wajah cemberutnya.
“Kalau kalian belakangan aja soalnya utang yang kemarin aja belum dibayar,” ucap Bu Gotik dengan polos nya.
“Astagfirullah … Bugo berdosahh banget,” ujar Nico dengan gaya lebay super lebaynya.
“Aku pesan bakso bakar aja Bugo,” ujar Aisyah.
“Oke, siap meluncur.” Ujar Bugo sambil bergaya ala superman terbang.
Pesan mereka pun datang dengan cepat, mereka pun melahap makanan yang sudang tersedia. Aisyah merasa haus, ia pun berjalan menuju dispenser yang tersedia di kantin tersebut. Saat Aisyah sampai di tempat, ia malah disiram oleh orang yang ia kenal, yaitu tika.
“Ups, sorry.” Ujar Tika dengan gaya sombongnya.
“Gue punya mata kok, tapi mata gue nggak bisa ngeliat orang kayak lo!” ucap Tika.
“Gue punya masalah sama lo? Hah?” tanya Aisyah yang tidak sedang dengan sikap Tika.
“Masalah lo banyak sama gue, itu yang buat gue benci sama lo,” ucap Tika yang menatap Aisyah dengan tatapan tidak suka. “Dasar cewek nggak tau malu!” sindir Tika sambil mendorong bahu Aisyah.
Aisyah yang mendengar perkataan itu pun tidak terima. “Maksud lo apa bilang kayak gitu, langsung to the point aja nggak usah banyak bacot!” balas Aisyah.
“Ok, gue to the point aja sekarang. Gara-gara lo hubungan gue dengan Reza putus dan sekarang Reza menjauh dari gue. Dan dia masih tetap ngejar-ngejar lo,” Ucap Tika.
Aisyah yang mendengar tersebut pun tersenyum kecut. “Itu masalah lo bukan masalah gue, sampah itu harus dibuang pada tempatnya. Dan orang seperti kalian ini lebih pantas disebut sampah!” ujar Aisyah penuh penekanan di setiap perkataannya.
Aisyah pun berjalan meninggalkan Tika, seketika ia berhenti ketika mendengar kalimat yang membuatnya amat marah.
“Dasar cewek murahan!” teriak Tika.
Aisyah yang mendengar kata-kata tersebut pun langsung berjalan menuju lawan bicaranya tersebut. Dengan cepat Aisyah mencekik leher tika dan mendorong tubuh Tika tepat disebuah jendela. Semua orang yang berada di tempat terebut tidak ada yang berani melawan Aisyah, begitu pula dengan Afnan yang masih memperhatikan Aisyah dari kejauhan.
“Lo, udah salah berhadapan dengan siapa,” bisik Aisyah kepada tika.
__ADS_1
“Gue benci sama lo, lo adalah cewek munafik yang pernah gue tau. Kok bisa ya Reza milih lo?” balas Tika dengan nada yang tersengal.
Aisyha pun melayang kan satu pukulan ke arah wajah Tika.
“Aisyah!” teriakan seseorang dari arah pintu.
tindakan-nya tersebut terhentikan, pukulan aisyah tidak mengenai wajah Tika. Pukulan tersebut melesat ke arah jendela yang berada di belakang Tika, sehingga menyebabkan kaca jendela tersebut pecah. Dan menyebabkan darah segar mengalir dari buku-buku jari Aisyah. Seketika Aisyah melepaskan Tika dan ia melihat seseorang yang memanggil namanya. Aisyha terdiam ketika melihat orang yang telah memanggil namanya, ternyata seseorang tersebut adalah Abang Asiyah.
*****
Seorang laki-laki yang sedang duduk menatap keluar jendela ruangan UKS merasa gagal dalam mendidik adik kesayangannya. Ia tak tega untuk memarahi adik-nya tersebut.
“Abang kecewa sama kamu dek, abang ngerasa gagal dalam membimbing kamu,” ucap Adnan yang masih menatap ke arah yang sama.
Aisyah yang mendengar perkataan tersebut merasa bersalah telah melakukan tindakan diluar batasnya. Aisyah hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap wajah Adnan.
“Jujur selama ini abang nggak pernah ajarin kamu bersikap seperti itu, kamu ingatkan pesan abang waktu itu ‘jangan pernah mengambil keputusan saat sedang marah dan jangan pernah berjanji ketika kamu sedang bahagia’ kamu lupa?” tanya Adnan yang sedang memandang Aisyah.
“Maafin Aisyah ya bang, Aisyah nggak bermaksud membuat abang kecewa. Aisyah Cuma ingin membela diri saja, hiks … hiks ….” Jawab Aisyah sambil terisak-isak.
Adnan lansung memeluk erat tubuh Aisyah, ia tidak ingin melihat adiknya menangis seperti itu.
“Sudah jangan nangis, masa udah gede masih nangis sih. Nanti wajahnya jadi tua,” ledek Adnan mencairkan suasana. Aisyah pun membalas pelukan Adnan, ia pun tersenyum mendengar perkataan dari Adnan.
“Ngomong-ngomong abang kenapa datang kesekolah Asiyah?” tanya Aisyah.
“Abang mau jemput kamu,” jawab Adnan.
“Mau ke mana?” tanya Aisyah yang masi kepo.
“Hari ini papa mau pulang ke Indonesia, waktu itu abang pernah janji sama kamu ‘kan? Jadi kamu mau kan?” ujar Afnan sambil berdiri menatap Aisyah.
“Mau dong,” sahut Aisyah dengan semangat.
“Tapi, gimana sama luka yang ada ditangan Aisyah bang?” tanya Aisyah sambil melihat kearah tangannya.
“Udah tenang aja, urusan itu biar abang yang pikirin.” Jawab Adnan dengan senyuman manisnya.
*****
Mereka berdua pun sampai di bandara, hari ini tampak ramai sekali orang berlalu lalang di bandara dan membuat mereka bingung mencari sosok Papa mereka di kerumunan tersebut. Tak butuh waktu lama mereka pun bertemu dengan Papa mereka, Aisyah yang melihat sosok Papa yang tengah berdiri sambil memberi senyuman kepadanya dan ia pun berlari menuju sang papa. Papa yang melihat putrinya yang sedang berlari pun tersenyum saat melihat Aisyah yang sudah tumbuh besar, Aisyah pun langsung memeluk putri semata wayangnya tersebut.
“Aisyah kangen banget sama Papa,” ujar Aisyah yang sudah berada di pelukan Papa.
“Papa juga kangen sama kamu Nak,” ujar Papa sambil memeluk Aisyah dengan erat.
__ADS_1
Adnan dan Mama pun segera menyusul ke arah mereka berdua, Papa yang melihat kedatangan mama pun langsung melepaskan pelukan Aisyah dan langsung menghampiri Mama.
****