
Sepanjang jalan menuju rumah, Aisyah tiada hentinya berbicara dengan Papa. Ia menceritakan semua kejadian tentang dirinya mulai dari pertama masuk ke sekolah, Papa pun dengan antusias mendengarkan cerita putrinya tersebut. Namun mata papa tertuju ke arah tangan kanan Aisyah yang terbalut dengan perban.
“Dek, tangan kamu kenapa?” tanya Papa kepada Aisyah dengan wajah yang penuh tanya.
Seketika Aisyah membeku dengan pertanyaan yang di ajukan papa kepadanya, ia bingung harus menjawab apa kepada papanya.
“Jangan bilang kalau kamu masih berkelahi lagi dengan teman kamu,” ujar Papa dengan wajah sinis nya.
‘Deg’
‘Papa kok bisa tau sih aku masih berkelahi sama teman ku di sekolah?” gumam Aisyah dalam hati.
“Dek,” ucap Papa yang membuat Aisyha tersadar dari lamunannya.
“Eh, enggak kok Pa. Ini itu Cuma … Cuma …” ujar Aisyah yang tampak bingung ingin menjawab apa kepada sang Papa.
“Cuma apa?” tanya Papa yang ingin mendapat jawaban dari Aisyah.
“Cuma luka kecil aja kok pa. Jadi ceritanya gini Pa, kemarin itu Aisyah sempat jatuh dari sepeda motornya di sekolah. Ketika jatuh tangan Aisyah yang lebih dahulu jatuh dan akibatnya tangan Aisyah yang lukanya parah.” Sambung Adnan di tengah percakapan antara Papa dan Aisyah.
“Ya ampun Dek, kok bisa sih? Lain kali kalau lagi ngendarai sepeda motornya hati-hati dong nak,” ujar Papa sambil mengelus rambut Aisyha yang lembut dengan pelan.
Aisyah pun tersenyum ketika Papa mengatakan seperti itu. “Iya Pa, lain kali Aisyah akan hati-hati kok,” jawab Aisyah.
Sesampai di rumah, mereka pun langsung menuju ke meja makan, di sana sudah tersusun rapi makan yang sudah disajikan oleh Bi Ijah. Mereka pun langsung menyantap makanan tersebut dengan tenang . Setelah siap mereka pun menuju kamar masing-masing, tapi tidak dengan Adnan. Adnan malah ingin pergi ke kamar Aisyah, ia sangat senang jikalau menggangu Aisyah pada saat seperti ini.
__ADS_1
“Syah,” panggil Adnan dengan suara pelan yang berada diambang pintu.
Aisyah pun segera melihat ke arah adnan, “kenapa bang?” tanya Aisyah.
“Kamu lagi ada kerjaan nggak?” tanya Adnan.
“Enggak ada tuh, emangnya kenapa bang?” ujar Aisyah.
Adnan pun berjalan menuju kearah tempat tidur Aisyah, ia pun menunjukkan sesuatu kepada Aisyah. “tada….” Teriak Adnan.
“Masker?” ujar Aisyah yang keheranan dengan abangnya tersebut dengan sebungkus masker organik ditangannya.
“Kamu harus pakai ini dek,” ujar Adnan.
“Hadehh … masa kamu nggak tau sih kegunaan masker. Ini itu supaya wajah kamu bisa glowing-glowing gitu,” ujar Adnan dengan antusias.
“owhh,” jawab Aisyah.
Adnan yang mendengar jawaban dari adeknya tersebut itupun merasa geram dengan sifat tidak pedulinya Aisyah, Adnan pun menarik Aisyah ke meja rias dan Adnan segera mengambil bahan-bahan yang diperlukan.
“Ih, abang mau ngapain sih?” ujar Aisyah dengan berontak.
“Udah diam aja,” ujar Adnan yang masih sibuk dengan peralatannya.
Aisyah hanya bisa diam saja jika abangnya tersebut menyuruhnya untuk tetap diam. Adnan pun mulai memoleskan masker ke atas wajah Aisyah, dengan pelan dan teliti Adnan memakaikan masker ke wajah Aisyah.
__ADS_1
“Udah belum?” tanya Aisyah dengan suara yang tidak begitu jelas dikarenakan ia tidak terbiasa memakai masker seperti itu.
“Belum” jawab Adnan yang masih setia dengan posisinya.
“Lama bener,” ujar Aisyah.
Setelah selesai memoleskan ke wajah Aisyah, Adnan malah ikutan ingin coba masker tersebut. Dan akhirnya Adnan selesai dengan kegiatannya, ia pun beralih melihat kearah Aisyah. Betapa terkejutnya Adnan melihat Aisyah yang sudah tertidur pulas dengan posisi duduk.
“Syah, bangun dong. Kamu kok malah tidur sih,” geram Adnan.
“Ih, apaan sih bang. Lagian abang lama banget sih,” ujar Aisyah yang masih setengah sadar.
“Syah, sini!” panggil Adnan yang sedang menggenggam handphone.
“Mau ngapain lagi sih bang?” tanya Aisyah sambil berjalan kearah Adnan.
“Selfi dulu,” ujar Adnan dengan pede nya.
“Ya ampun, abang sejak kapan jadi alay sih?” ujar Aisyah.
“Sejak … abang mengenal dia, hahaha.” Ledek Adnan kepada Aisyah.
“Dasar bucin,” ucap Aisyah.
****
__ADS_1