
Sudah seminggu lebih Afnan berada di rumah, dan kini ia sudah pulih. Dan satu minggu lagi 17 agustus akan tiba, para anggota paski akan lebih giat lagi dalam latihan. Dan pada hari ini seluruh anggota paski baik itu junior maupun senior diperintahkan untuk pulang lebih awal, dikarenakan pada malam ini mereka akan mengadakan penggukuhan bagi junior dan mereka akan mengginap pada malam ini. Mereka akan berkumpul kembali pukul 16.00 wib. Mereka diperintahkan untuk membawa barang yang wajib di bawa, seperti: mie instan, telur, susu, gelas, peralatan mandi dan peralatan solat.
***
Tepat pukul 16.00 wib mereka sudah berkumpul di sekolah, para senior mengumpulkan peralatan untuk melakukan pengukuhan pada malam. Sore ini para junior hanya melakukan sedikit latihan pemanasan saja, itu dikarenakan mereka akan melaksanan jadwal padat pada malam ini.
Malam pun tiba, para junior dipersilahkan makan bersama dan setelah itu mereka diperintahkan untuk berbaris semua posisi pengibaran bendera. Semua orang sudah datang, tetapi tidak dengan Aisyah, Asiyah belum juga datang. Mereka pun menunggu Aisyah, tetapi tidak terlihat tanda-tanda kedatangan Aisyah.
“Baiklah adik-adik, kita akan mulai acaranya. Tapi sebelum penggukuhan, kalian akan melewati beberapa tahap sebelum itu. Terlebih dahulu kalian harus berkeliling dan menyanyikan yel-yel paski kita dengan lantang, kita tidak akan berkeliling di dalam ke sekolah melainkan di luar sekolah.” Nico pun menjelaskan semua tentang peraturan dalam acara malam ini.
Ketika mereka hendak pergi, Aisyah datang menggunakan sepeda motor kesayanganya. Ia menggenakan pakaian yang simpel, ia memakai hoodie agar ia tidak merasa kedinginan.
“Ini dia, yang kita tunggu-tunggu,” teriak Bayu yang berada di belakang barisan junior.
“Maaf, gue telat,” ujar Aisyah.
“Santuy aja Bul,” sahut Bayu.
“Bul, lo aja yang bawa mereka. Kalau sama gue, mereka susah diatur,” ujar Nico.
Aisyah pun mengambil alih, ia mengarahkan junior untuk keluar dari gerbang. Mereka pun mengikuti arah jalan Aisyah dan sambil berjalan mereka selalu menyanyikan yel-yel.
Di tempat lain, para senior menyiapkan untuk acara selanjutnya yaitu jeritan malam. Para junior akan mencari nacan mereka yang sudah di sembunyikan oleh para senior di daerah yang akan di lewati para junior nanti, mereka akan berjalan mengikuti rute yang di persiapkan oleh senior. Mereka akan berjalan dengan di temani sebatang lilin sebagai penerang, dan tugas para senior ialah menakut-nakuti para junior yang akan melewati rute tersebut.
“Woi Farah! Jadi cewek yang lembut dong!" Ketus Bayu yang sedang didandani oleh Farah.
“Gue ini manusia, bukan kapas!" Sahut Farah yang tidak mau kalah. Farah mempunyai tugas untuk merias wajah senior yang akan menjadi hantu.
“Bay, lo nggak perlu dirias kayak gitu,” ujar Maya sambil memakan makanan ringan nya.
“Lah? Kenapa?” tanya Bayu.
“Wajah asli lo aja udah seram, jadi nggak perlu dirias kayak gitu, hahaha,” ledek Maya.
“Untung lo cewek. kalau lo cowok, udah gue jadiin peyek lo,” ujar Bayu dengan bersabar.
Selang beberapa menit kemudian para junior pun memasuki area sekolah kembali, meraka tidak melihat cahaya sedikit pun. Senior sengaja mematikan lampu, agar suasana terlihat menakut kan.
“Kak, ini lampu kenapa pada mati semua? Sekolah kita belum bayar tagihan listrik ya kak?” tanya Afnan.
“Iya, belum. Kenapa? Lo mau bayarin?” tanya Aisyah dengan lirikan tajamnya.
“Enggak sih, tapikan kak-“ belum sepat melanjutkan kata-kata Aisyah malah memotongnya.
“Diam! Nggak usah bising, nanti makhluk halus disini pada keluaran semua! Lo mau tanggung jawab?” ujar Aisyah menakut-nakuti para junior.
“Ya nggak segitunya juga kali kak,” ujar Afnan.
Mereka pun berkumpul ditempat yang sudah disiapkan para senior, ditempat tersebut sudah tersedia lilin yang menyala sebagai penerang mereka saat berjalan dalam kegelapan.
“Ok, sekarang kalian harus menemukan nacan milik kalian semua dalam kegelapan tersebut. Siapa yang tidak menemukan nacan milik kalian sendiri, kalian akan mendapat hukuman dari kami. Kalian mengerti?” ujar Aisyah.
“Siap, mengerti kak,” jawab mereka.
Afnan mendapat giliran pertama, ia pun berjalan mengikuti rute yang sudah tertera di peta. Afnan terus mencari nacan miliknya, di berbagai penjuru ia cari. Seketika Afnan merasakan seperti ada yang meniup lilinnya dari belakang, Afnan tetap berjalan sampai sampai ia merasakan seperti ada seseorang yang menginjak tali sepatunya. Seketika Afnan berhenti, tepat di waktu ia berhenti seperti ada seseorang yang menabrak dirinya.
Afnan berbalik dan melihat siapa yang telah menabraknya. “Kak Bayu,” ujar Afnan.
“Gue bukan Bayu … gue adalah hantu … hihihi,” ujar Bayu dengan bergaya seperti hantu.
“Owhh, hantu. Emangnya hantu bisa bicara ya?” tanya Afnan.
“Ya bisalah, gue buktinya. Hihihihi,” sahut Bayu yang masih berperan sebagai hantu.
“Kok hantu bisa bicara dengan bahasa gaul sih?” tanya Afnan kembali. Afnan bukanya takut, dia malah mengajak bicara hantu tersebut dengan santainya.
“Ya, ya bisalah,” jawab Bayu dengan terbata-bata. “Kan dialam gue juga ada kaum milenial,” timpal Bayu yang tidak mau kalah.
“Owh, gitu ya?” ujar Afnan.
__ADS_1
“Iya,” sahut Bayu.
“Ya udah, kalau gitu gue lanjut jalan dulu ya. Dadah.” Ujar Afnan meninggalkan bayu sendirian.
“Dadah” sahut Bayu. “Loh? Gue kok mau aja ya diajak dia bicara, padahalkan tugas gue nakut-nakutin dia. Kok dianya nggak takut ya sama gue? Apa gue kurang seram ya?” gumam bayu sambil berjalan menuju tempatnya kembali.
Afnan pun melanjutkan perjalanan, ia mendapatkan nacan miliknya yang berada di dalam tempat sampah. Semua junior pun telah selesai dengan misi ini, mereka dikumpulkan di tengah lapangan tepatnya di api unggun yang sangt tinggi.
“Ok, setelah kalian mendapatkan nacan kalian, kalian akan membakar nacan tersebut di atsa api ungun ini. Sebelum kalian membakar nacan kalian, kalian harus menyebut nama kakak senior yang kalian kagumi dan yang kalian benci dengan suara yang keras. Mengerti?” ujar Aisyah.
“Siap, ngerti kak.” Sahut mereka.
Mereka pun mengelilingi api unggun tersebut, Fais adalah orang yang pertama kali membakar nacan miliknya.
“Nacan saya mutu, kakak senior yang saya kagumi ialah Kak Farah dan kakak senior yang saya benci ialah tidak ada,” teriak Fais dengan lantang. Dan dilanjutkan oleh junior yang lainnya, tiba saatnya afnan yang membakar nacan.
“Nacan saya ucok, kakak senior yang saya benci tidak ada dan kakak senior yang saya kagumi ialah kakak asuh saya sendiri. Kak Aisyah,” ujar aisyah dengan lantang.
Aisyah yang mendengar itu hanya bisa menatap afnan dengan tatapan datar.
Setelah pembakaran nacan mereka semua dipersilahkan berkumpul umtuk menikmati waktu malam tersebut. Mereka pun menyanyi kan beberapa lagu denagn memainkan gitar.
“Kok dari tadi seniornya aja yang nyanyi, gantian dong. Sekarang kita akan memilih junior yang akan menyanyikan beberapa lagu terakhir, siapa yang bersedia?” tanya Nico.
“Kak, Afnan paling jago memainkan gitar dan menyayi.” Ujar Fais memberi usulan.
“Kalau gitu Afnan maju ke depan,” ujar Nico.
“Tapi kak-“ ujar Afnan.
“Nggak ada tapi-tapian, maju.” Ujar Nico.
Afnan pun maju, ia mengambil gitar yang berada di atas kursi plastik tersebut. Afnan mulai memetik senar gitar tersebut, ia mengalunkan melodi-melodi yang merdu.
{tak ingin sendiri]
Ciptaan : dian piesesha
‘Aku masih seperti yang dulu
Menunggumu sampai akhir hidupku
Kesetiaanku tak luntur hatipun rela berkorban
Biarkanlah aku memiliki
Semua cinta yang ada dihatimu
Apapun kan kuberikan cinta dan kerinduan
Untukmu dambaan hatiku
Malam ini tak ingin aku sendiri
Kucari damai bersama bayanganmu
Hangat pelukan yang masih kurasa
Kau kasih kau sayang
aku masih seperti yang dulu
Menunggumu sampai akhir hidupku
Kesetiaanku tak luntur hatipun rela berkorban
Malam ini tak ingin aku sendiri
Kucari damai bersama bayanganmu
__ADS_1
Hangat pelukan yang masih kurasa
Kau kasih kau sayang’
Semua orang meresapi setiap senandng lagu yang dinyanyikan oleh afanan. Ketika afnan hendak beranjak, mereka menarik lengan afnan untuk duduk kembali.
“Satu lagu lagi dong, terakhir,” ujar Maya dengan gaya centilnya.
“Woi, ingat! Dia udah ada yang punya,” sindir Bayu sambil melirik kearah Aisyah yang duduk dibagian belakang.
Afnan pun melanjutkan satu lagu terakhir.
[halu]
Ciptaan : feby putri
Senyumanmu …..
Yang indah bagaikan candu
Inginterus kulihat walau
Ku berandai
Kau disini
Mengobati rindu ruai
Dalam sunyi
Kusendiri meratapi
Perasaan yang tak jua didengar
Tak kana pa
Bila rasa ini tumbuh sendirinya
Tak berdaya
Diri bila dinatara
Walau itu hanya baying bayangmu
Senyumanmu Yang indah bagaikan candu
Inginterus kulihat walau dari jauh
Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhyal akan bisa bersamamu
Hu huh u hu
Senyumanmu Yang indah bagaikan candu
Inginterus kulihat walau dari jauh
Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhyal akan bisa bersamamu
Dihampiri seribu ragu
Hanya membisu (hu)
Dihampiri seribu ragu
Hanya membisu (hu)
__ADS_1
Ku berkhayal
Akhirnya Afnan selesai, dan mereka semua dipersilahkan untuk beristirahat untuk besok hari yang akan mereka nantikan.