
Sayapun menganti pakaianku kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur dan kamarku masi dalam keadaan berantakan. Saya masi memikirkan bagaimana cara agar semua ini cepat berakhir saya sudah begitu capek. Disisi lain saya harus memastikan bahwa ibuku akan baik-baik saja apalagi dia mengancam akan menyakiti orang saya sayangi. Saya tidak mau kehilangan orang yang saya sayangi karena diriku.
Saya menangis sepanjang malam entah kapan air mata ini menjadi air mata kebahagiaan.
Jam sudah menunjukkan pukul 06:00 saya bangun begitu pagi karena harus mencari alamat yang terterah di kertas itu, saya berharap kali ini bisa mendapatkan petunjuk.
"Ma saya berangkat dulu". Ucapku
"Ca' mau kemana pagi-pagi sekali, kamu tidak sarapan". Tanya ibuku heran.
"Ada urusan ma', ntar di luar saya sarapan". Jawabku
Jadi mungkin kalian bingung kok manggilnya kadang mama kadang ibu. Iya saya memang kadang mengganti panggilan untuk ibuku.
Sayapun bergegas keluar karena taksi yang saya pesan sudah datang. Di perjalan saya masi memikirkan bagaimana cara agar pencarianku tak sia-sia. Disisi lain saya merasa cemas karena harus meninggalkan ibuku sendiri. Karena hal ini membuat kesehatanku sedikit drop di samping karena banyak fikiran saya juga kurang tidur dan lagi saya harus bekerja di kantor. Terkadang saya ingin menyerah tapi disisi lain saya tidak mau kehilangan orang yang ku sayang.
Cukup lama perjalanan yang saya lewati sekitar 6 jam di perjalanan saya merasa tidak asing dengan jalan yang saya lalui, pada saat sudah sampai saya kaget karena ternyata alamat yang di kertas merupakan alamat rumah lamaku. Entah kenapa saya bisa tidak tau bahwa alamat ini adalah alamat rumahku.
Sayapun turun dari mobil, ku pandanginya sekeliling rumahku kosong tidak ada satu orang pun hanya ada penjaga kebun orang tua ku dulu. Saya sudah lama tidak datang kerumah ini, terkahir saya tinggal waktu ayahku masi ada. Saya mencoba masuk dan menghampiri pak naim yang merupakan penjaga kebun keluargaku dulu yang sekarang tinggal dirumah ini.
"Selamat pagi pak, masi mengenal saya". Tanyaku.
"Selamat pagi". Sambil menatapku.
Beliau begitu lama menatapku karena beliau sudah begitu tua bagaimana tidak saat saya masi duduk di bangku Sma beliau berumur hampir 60 tahun dan sekarang saya sudah bekerja.
"Non diandra". Memelukku sambil menagis.
Saya juga ikut menangis karena bapak naim sudah saya anggap sebagai bapak kedua ku, beliau begitu memanjakaannya begitu pun juga istrinya karena mereka tidak memiliki anak.
Sayapun di persilahkan masuk, dan kulihatnya ibu ina yang merupakan istri pak naim. Dia langsung memelukku ternyata dia masi mengenaliku. Saya pun duduk sambil memandangi isi ruangan ternyata tidak ada yang berubah masi seperti dulu hanya catnya saja yang perbahrui. Saya di tanya pak naik tumben saya datang tiba-tiba tanpa mengabari. Jadi saya menjelaskan maksud kedatangan saya karena alamat yang tertulis di kertas yang ternyata rumahku dulu.
Saya juga meminta izin kepada pak naim untuk berkeliling melihat isi rumah. Saya begitu merindukan suasana rumah ini. Disini saya tumbuh dan begitu banyak kenangan bersama ayahku.
__ADS_1
Setelah selesai mengelilingi rumah, saya kembali duduk, tiba-tiba pak naim berkata bahwa ada sesuatu yang mau di berikan padaku.
"Non diandra, ada sesuatu yang ingin saya berikan pada non". Ucapnya sambil meminta saya menunggu.
"Apa pak, tidak usah panggil non pak panggil diandra saja". Jawabku
Pak naim pun masuk ke dalam kamar dan kembali dengan membawa kertas di tangannya, kertas itu seperti surat tapi mungkin karena sudah lama jadi tampak sedikit lusuh.
"Ini nak". Sambil menyodorkan surat
"Ini apa pak". Tanyaku penasaran.
"Saya juga tidak tau nak, tapi itu surat yang di berikan seseorang".
Pak naim pun menjelaskan tentang surat itu, ternyata saat saya di rawat di rumah sakit ada seorang anak laki-laki yang datang berapa kali kerumah dan menanyakan saya tapi pada waktu itu saya masi dirumah sakit. Begitulan katanya.
Jadi saya cerita sedikit, saya perna masuk rumah sakit dan di rawat hampir satu bulan karena depresi akibat meninggalnya ayahku saya selalu menyalakan diriku dan juga perna melukai diri sendiri, karena hal inilah yang membuat ku harus di rawat di rs. Dan setelah sembuh ibuku memilih pindah agar kondisi saya bisa membaik.
Sayapun bertanya kepada pak naim seperti apa ciri-ciri orang tersebut.
Pak naim kemudian menjelaskan ciri-cirinya tapi saya tidak bisa mengenalinya mungin karena sudah lama.
Karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah dan saya tidak mau membuat ibuku khwatir saya berpamitan pulang pada pak naim dan bu ina dan berharap surat ini bisa memberikan petunjuk atas apa yang tejadi padaku selama ini.
"Pak saya pamit pulang dulu ya". Ucapku sambil memeluk orang tua keduaku ini.
"Iya nak hati-hati kapan-kapan datang lagi yah ajak ibumu".
"Baik pak, bu".
Sayapun berjalan keluar karena taksi yang ku pesan sudah datang. Ku pandangi pak naim dan bu ina yang sedari tadi melambaikan tangan dan begitu sedih, saya juga begitu berat meninggalkan mereka, sayapun membalas lambaian tangan mereka dan berteriak.
"Saya janji saya akan kembali lagi".
__ADS_1
Kulihatnya Ibu ina dan pak naim tersenyum mendengar ucapanku.
Di mobil saya hanya melamun dan menangis sambil menggenggam surat yang di berikan pak naim.
"Mba, mbak baik-baik saja kan". Tanya supir taksi.
"Iya pak, saya baik-baik saja".
Dia pun kembali menyetir dan saya kembali melamun tak terasa sudah sampai depan rumah.
"Mbak sudah sampai". Ucapnya
"Oh iya pak makasi". Sambil memberikan uang.
Sayapun turun dan langsung masuk kedalam rumah tanpa berkata apa-apa, sehingga ibuku khwatir. Ternyata pak naim sudah menelfon ibuku dan mengatakan bahwa saya datang kesana.
Hal inilah yang membuat ibuku khwatir karena dia takut hal yang terjadi beberapa tahun lalu terjadi lagi padaku, ibuku takut saya melukai diriku sendiri karena merasa bersalah akan kematian ayahku.
"Ca' kamu tidak apa-apakan nak". Tanyanya khwatir sambil mengetuk pintu kamarku.
"Tidak apa-apa kok bu". Jawabku.
Bayangan masa lalu kini datang menghantui ku kembali membuatku stress. Saya belum membuka surat yang di berikan pak naim tadi karena saya merasa kurang enak badan.
Di dalam kamar saya hanya manangis tak henti kapalaku mulai terasa sakit penglihatanku mulai kabur pada saya mencoba untuk berdiri tiba-tiba saya terjatuh dan terbentur ke lemari. Suaranya cukup keras sehingga terdengan oleh ibuku.
"Ca kamu kenapa". Ucapnya ibuku.
Saya masi bisa mendengar suara ibuku tapi sudah tidak bisa merespon. Semuanya begitu gelap hingga akhirnya saya pingsan.
Karena tidak ada respon ibukupun masuk mencoba membuka pintu kamarku yang terkunci dari dalam. Tapi semua sia-sia, ibuku mencoba mencari bantuan tapi tak seorang pun yang bisa di mintai pertolongan.
kira-kira siapa yang akan menolong diandra dan apa isi surat itu akan kah itu bisa menjadi petunjuk
__ADS_1