Akan Ka Neraka Menjadi Surga

Akan Ka Neraka Menjadi Surga
Rian dan Indra


__ADS_3

Hari ini rian tidak masuk kantor dan tidak pulang kerumahnya dia selalu menjaga kami entah kenapa setelah perlakuannya kepadaku saya seolah-olah melupakan dendamku padanya.


"Saya tidak sengaja". Ucapku


"Eh tidak apa-apa".Sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Nak rian kalau mau mandi dan ganti baju di kamar tamu sudah ibu siapkan pakai untu nak rian kebetulan ibu masi membawa baju ayahnya diandra, ucap ibuku".


"Makasi tante, jawabnya".


"Saya mandi dulu ya". Ucapnya sambil mengelus kapalaku.


"Apaan sih ya udah mandi aja, nga usah elus-elus juga kali emang saya kucing".jawabku sok judes, padahal dalam hati ih ih baper sumpah hahahaha.


(hati-hati jangan sampai pas udah baper terus di tinggal hahahhaha)


Sayapun juga pergi mandi, dan kagetnya saya saat bercermin melihat betapa burik dan kecelnya diriku.


Ya tahun jadi di depan rian penampilan ku kayak gini burik, kucel, lusuh, oh tuhan kayak barang rongsokan dan ini bibi kenapa pucat gini kenapa sih saat pingsan nga pake lipstik dulu maklum perempuan tanpa lipstik bagaikan malam tanpa bintang hahahhaha alay sumpah.


Tapi kenapa juga saya harus memikirkan penampilku depan dia, diakan sering katain saya wanita barbar.


Setelah selesai mandi saya langsung menggunakan bedak dan lipstik supaya kelihatan tidak seperti mayat hidup.


Saya keluar dari kamar kulihatnya rian sedang nonton tv dengan seriusnya sumpah dia sudah seperti pemilik rumah dan saya hanya ngontrak. Saat saya akan kembali kekamar ternyata rian sadar akan kehadiran ku.


(cie yang di sadari ke hadirannya, cie hahaha),


"Ngapain disitu ca, sini duduk anggap aja rumah sendiri",ucapnya.


"Eh iya makasi".


La ngapain saya yang makasi inikan rumah ku dan sejak kapan dia akrab sama saya panggil ca' lagi.


Saya langusung masuk kamar. Waktu menunjukkan jam 05:00 kulihatnya rian masi ada


"Itu anak apa nga mau pulang kerumahnya sampai kapan dia akan disini" . Gumamku.


Tiba-tiba saya mendengar suara mobil sepertinya mobil indra. Saya langsung keluar membuka gerbang dan mempersilahkannya masuk.


Sepertinya indra kaget kenapa bisa ada  rian di rumahku.


"Bapak juga ada disini",tanyanya.


"Iya baru pulang kantor ya".

__ADS_1


Sayapun mempersilahkan indra duduk tapi kenapa rumah ini suasananya jadi bedah seperti akan ada perang. Kulihatnya indra dan rian saling bertatapan tapi tatapannya mengartikan sesuatu (tatapan cinta thor) bukan tatapan seperti sedang melihat musuh.


(udah tidak usah memperebutkan athor, athorkan jadi malu hihihi


diandra: dasar atur ganjen yang di ceritakan saya bukan athor


athor: terserah saya dong kan yang buat cerita saya


diandra: athor gatal). eh malah berdebat lanjut cerita.


"Saya masuk ambil minum dulu ya".ucapku


Sayapun masuk kedapur ku dapatinya ibuku sudah membuat minum.


"Ca' di antara mereka siapa yang kami pilih", tanya ibuku.


"Eh ibu, itu bos dan teman ku bu ,ibu ada-ada saja". Sambil mengambil nampan di tangan ibuku


Saya kemudian masuk kembali keruang tamu dengan membawa minuman


"Silahkan pak, silahkan ndra". Ucapku sambil menyuguhkan


"Makasi ca'", jawab mereka sambil berbarengan.


Melihat tingkah mereka saya hanya terkekeh dalam hati.


"Iya udah ko ndra". Jawabku


"Ehmmmm, ca bajuku yang tadi mana ya". Tanya rian


"Kayaknya di cuci ibu".jawabku


Entah rian sengajah atau tidak, tapi mendengar rian berbicara seperti itu membuat wajah indra tidak nyaman.


Kami pun bercerita tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09:00


"Ca' aku pulang dulu ya udah malam soalnya nga enak di lihat orang". Ucap indra sambil mengisyaratkan pada rian untuk ikut pulang juga.


"Ya udah hati-hati ya, makasi udah datang".Ucapku.


"Pak rian tidak pulang, nga bagus pak bertamu sampai larut malam tidak enak di lihat orang". Ucap indra sambil menyindir rian.


"Ini juga sudah  mau pulang". Jawanya dengan ekspresi tak suka.


Kulihatnya indra tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Ayo pak kita bersamaan keluar".ajak indra pada rian.


"Ayo (dasar indra sialan aku pacat taurasa kamu). jawab rian.


Mereka berdua berpamitan dengan ibuku dan akhirnya mereka pulang, saya langsung masuk kamar begitu pun dengan ibuku. Di dalam kamar saya merasa sunyi sendiri dan uring-uringan.


Saya teringat sesuatu, saya teringat surat yang di berikan oleh pak naim, surat yang selalu gagal untuk saya baca karena ada saja halangan. Saya kemudian mencari surat itu entah saya letakkan dimana tapi seingatku sebelum saya pingsan saya masi memegangnya.


"Dimana sih surat itu", ucapku sambil membongkar kamar.


Karena sudah saya cari dimana-mana tapi tak ketemu saya kemudian membaringkan badan ku di atas kasur sambil mengingat dimana surat itu.


"Ah kok bisa hilang sih padahal itu bisa menjadi petunjuk". Gumamku.


Sayapun ketiduran dan pada saat bangun saya kaget melihat jam ternyata sudah pagi, sayapun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


Saat saya akan berangkat ke kantor, saya bertanya pada ibuku siapa tau dia melihat surat itu.


"Ma' lihat surat di kamar ku tidak", tanyaku.


"Surat yang warna ping tapi warnanya sudah pudar".jawabnya


"Iya ma itu, mama liat". Tanyaku lagi


"Iya mama masukkan dalam tas kamu yang kamu pake sekarang". Jawabnya


Sayapun kemudian mencari dalam tasku ,ternyata betul ada di dalam.


"Ya udah ma', eca berangkat kerja dulu".


Sayapun bergegas keluar dan di perjalanan menuju kantor saya membuka surat itu dan membacanya.


Tapi sangat sulit untuk dibaca karena tulisannya mulai pudar mungkin karena sudah lama. (tukan ada saja halangannya).


"Aduh gimana bacanya ini, tulisannya sudah mulai pudar".


Tak terasa saya sudah sampai depan kantor, dan berjalan masuk sambil memegang surat itu, saya melihat sekeliling kok sepi apakah hari ini orang libur tapi ini kan bukan hari libur, sayapun menanyakan pada satpam kemana semua orang dan dia mengatakan bahwa semua orang ada di aula karena akan ada rapat untuk semua karyawan. Saya tidak tau karena saya baru beberapa bulan kerja di perusahaan ini.


Saya pun bergegas ke aula dan benar saja semua orang sudah berkumpul tinggal menunggu direktur datang.


Kulihatnya ternyata begitu banyak tak tau harus duduk dimana, indra kemudian memanggilku untuk duduk di dekatnya kebetulan ada kursi kosong, sayapun menghampirinya dan duduk di sampingya.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya direktur muncul.


Tukan suratnya tidak di baca lagi

__ADS_1


Kenapa begitu sulit mencari petunjuk.


Akan kah diandra mendapatkan petunjuk dan dapat membaca surat itu.


__ADS_2