
Akhirnya dia mendapatkan sebuah surat lamaran kerjaku waktu itu disitu terterah no perusahaan ku, tanpa berfikir panjang langsung menelfon nomor itu, mencoba beberapa kali hingga akhirnya ada yang mengangkat telfon. Yang mengangkat telfon adalah sekertaris rian saya tidak tau ternyata di hari minggu merek Masi bekerja.
"Halo". Ucapnya
"Tolong saya,tolong anakku". Kata ibuku sambil menangis.
"Maaf anda salah sambung". Katanya
"Tidak, saya tidak salah sambung, tolong anak saya diandra".
"Diandra, diandra pratiwi angraeni" ucapnya untuk memastikan.
Ternyata rian ada di dekat sekertarisnya, karena dia mendengar nama diandra disebut dia langsung bertanya ke sekertarisnya itu.
"Ada apa siapa yang menelfon dan mencari diandra".tanyanya
"Saya juga tidak tau pak, tapi mendengar ibu ini menangis sambil minta tolong". Jawabnya
"Sini berikan pada saya". Sambil mengambil telfon.
"Halo, saya direkturnya diandra, ada apa ya bu". Jawabnya
"Tolong...tolong anak saya".jawab ibuku sambil menangis.
"Anak ibu kenapa". Tanya nya heran.
"Saya tidak tau, saya tidak tau apa yang terjadi padanya dia di dalam kamar saya sudah memcoba membuka pintunya tapi tidak bisa". Jawab ibuku sambil menangis.
" saya mohon selamatkan anakku". Ucapnya lagi
"Baiklah bu saya akan segera kesana".
Rianpun segera pergi beberapa saat kemudian akhirnya sampai, di dapatinya ibuku terus mendobrak-dobrak pintu kamarku, akhirnya rian segera mendobrak pintu. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya pintu terbuka dan ibuku langsung menangis histeris saat mendapatiku sudah tergeletak di bawa lantai.
Rian segera mengangkatku dan memindahkanku ke tempat tidur.
Beberapa menit kemudian saya sudah sadar.
"Apakah aku sudah mati, kenapa bisa saya bertemu rian si gila". Ucpaku sambil memegang kepalaku.
Mendengar perkataanku ibuku langsung berkata.
"Maaf ya nak rian, munkin dia belum sadar". Ucapnya.
"Tidak apa-apa tante".ucapnya.
Akhirnya kesadaranku sudah pulih kulihatnya kembali di hadapanku ada rian memang betul itu rian.
"Apa yang terjadi padaku, apakah aku sudah benar-benar mati apakah aku di neraka kenapa bisa bertemu rian si cowo sinting". Ucapku.
__ADS_1
Kupandanginya lagi muka rian
"Oh tuhan, apakah ini nyata". sambil mencubit pipi rian.
"Ah sakit". Erang rian
"Aku mendengar suaranya, mungkin saya sudah gila". Ucapku.
"Ca' sadar". Kata ibuku sambil memukul belakangku.
"Ah sakit bu', saya belum mati ternyata tapi kenapa ada cowok breng". Sambil menunjuk ke rian.
Belum sempat ku teruskan rian sudah menyelah ucapanku
"Cowok apa". Tanyanya sambil menjitak kepalaku.
"Eh pak rian". Ucapku sambil cengengesan.
Melihat ulah kami berdua ibuku langsung meninggalkan kami.
"Tante keluar dulu ya nak rian mau ambil minum".Alasannya.
Saya memberi isyarat kepada ibu untuk jangan keluar, karena saya sudah tau kesalahanku. Ibuku pun keluar, tinggal saya berdua dengan rian dalam kamar. Sayaa hanya tertunduk karena mengingat apa yang saya katakan tadi.
"Sejak kapan bapak disini". Ucapku dengan nada lemah lembut tak berdayah.
"Sejak kamu pingsan dan sejak kamu mencaci makiku di depan ibumu". Ucapnya.
"Besok kamu tidak usah masuk bekerja". Ucapnya.
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya saya sudah memotongnya.
"Jangan pecat saya pak, saya mau makan apa kalau bapak pecat saya apakah bapak tidak kasihan melihat saya hanya tinggal berdua dengan ibuku. kalau saya di pecat saya mau kerja apa pak kasihanilah kami pak". Ucapku panjang lebar dengan berpura-pura sedih.
"Siapa juga yang mau pecat kamu". Ucapnya sambil menjitak kapalaku lagi dan lagi.
"Ah saki'. Sambil memegang jidatku.
"Terus maksuf bapak tadi apa kalau bukan di pecat".tanyaku lagi.
"Makanya kalau orang bicara di dengarkan dulu jangan langsung di potong". Menjitak kepalaku lagi.
"Oh gitu to".
Saat saya sedang berbicara dengam rian ternyata ada orang yang diam-diam nguping di balik pintu sambil terkeke dan saya menyadari itu.
Ibu... ngapain disitu nguping ya, ucapku.
ibukupun masuk karena sudah ketahuan dilihatnya rian juga sudah bersiap-siap untuk pulang.
__ADS_1
"Sudah mau pulang nak rian". Tanya ibuku.
"Iya tante. kebetulan juga ini sudah jam 10 lewat tidak enak di lihat orang". Ucapnya.
Saat rian hendak keluar rumah tiba-tiba ibuku melihat orang lari keluat lewat jendela kamarnya.
"Siapa disana, maling....maling'. Teriak ibuku.
Karena teriakan ibuku membuat rian lari kembali masuk rumah ku. Dia juga melihat orang itu dan berusaha mengejarnya tapi kehilangan jejak.
Dia pun kembai dan menghampiri ibuku dan menenangkannya. Malam itu rian memutuskan untuk menginap, saya dan ibuku sedikit merasa aman karena kehadiran rian malam ini, tapi entah kenapa saya curiga pada rian, saya curiga itu suruhan dia. Memikirkan tentang kecurigaan ku dengan rian dan mrmikirkan kejadian tentang tadi membuatku sedikit tertekan. Dan entah kenapa bayang-bayang masa lalu kejadian itu kembali menghantui ku, membuat saya menangis dan berteriak sehinga membuat rian dan ibuku kaget. Menyadari hal itu ibuku mulai cemas akan kesehatan ku.
" Ca' kamu kenapa nak". Datang menghampiriku.
Melihat ke khwatiran ibuku membuat rian bertanya-tanya.
Ria hanya memandangiku, kulihatnya rian yang setia menemaniku dan ibuku membuatku sedikit melupakan apa yang terjadi di masalalu, tapi akibat fikiran ku itu malah tambah membuatku semakin bingung dan bertanya-tanya apa mau rian sebenarnya, apakah ini hanya sandiwara.
Sayapun kembali tertidur. Paginya saya kaget ternyata indra masi ada, ternyata dia yang sepanjang malam menjagaku. Saya kemudian bangun dan teringat akan surat yang di berikan pak naim ku carinya dan akhirnya ketemu.
Ketika ingin membaca surat itu tiba-tiba hpku berbunyi. kulihatnya ternyata dari indra.
Ting...ting..
"Kamu tidak apa-apa kan, saya dengar kamarin ibumu menelfon ke kantor". Tanyanya.
"Iya saya tidak apa-apa". Jawabku.
"Pulang kantor nanti aku singgah fi rumahmu ya" . ucapnya.
"Iya, tidak usah repot-repot ndra".
" Nga kok ca', saya ingin memastikan kamu tidak baik-baik saja, chatnya ntar lagi ya soalnya udah mau berangkat ke kantor'.
"Oke, hati-hati".
Saat saya akan meletakkan hpku, saya di buat kaget dengan rian yang duduk di sampingku, entah sejak kapan dia di situ.
"Kamu pacaran sama indra". Tanyanya tepat di belakangku.
"Astaga". Ucapku kaget dan hampir terjatuh karena duduk di pinggir kasur.
Milihat posisiku yang hampir jatuh rian langsung menarik tanganku sehingga saya jatuh di atasnya. Sumpah posisi kami begitu tidak nyaman karena saya berada diatas rian di atas ranjang.
Dan ibuku yang melihat itu hanya tersenyum dan membalikkan badan dan keluar dengan pelan tapi kedengaran oleh kami.
Saya dan rian buru-buru bangun dengan wajah yang memerah.
"Oh tuhan ini sangat memalukan'. Ucapku dalam hati.
__ADS_1
Akankah diandra kembali mengalami depresi atau hal lain, apa sebenarnya isi surat itu yang samlai sekarang gagal terus untuk di baca tunggu ya ke lanjutannya. karena masi banyak teka teki yang belum terpecahkan.