
"Hai, kenapa repot repot sih, yuk masuk" ujar Mutia sambil menyalami Mahendra.
"Engga repot kok, lagian aku ingin menunaikan janji sama almh mama kamu" jawab Mahendra.
Mutia menoleh ke wajah nya Mahendra ingin bertanya sejelasnya. Janji apa yang sudah diminta mama kepada seorang Mahendra.
Sementara Paul semakin mendekat, dan langsung memeluk Mutia. Sedari di pemakaman Paul ingin memeluk Mutia, hal yang dulu dilakukannya ketika alm papa Mutia meninggal, enam tahun yang lalu. Ketika itu Mutia juga sedih, tapi tidak sesedih sekarang ini. Karena dulu masih ada mamanya, tapi sekarang malah mama nya yang meninggalkannya.
Mutia pun terhanyut, pelukan ini pernah selama 10 tahun menenangkan nya. dan tahun terakhir menjadi hal yang sangat dirindukannya. Tapi tidak untuk saat ini di depan Mahendra.
"Ayok kita semua masuk, aku baru aja mau makan" Mutia melepaskan pelukan Paul dan berjalan kedalam rumahnya. Diikuti kedua lelaki yang sedari tadi sedang menahan hatinya masing masing.
"Resty, Vina kenalin ini Paul, teman kuliah gue"
Tentu saja mendengar nama Paul membuat Resty dan Helvina kaget. Ini lah ternyata si pria legendaris itu.
Helvina mengulurkan tangan sambil memandangi nya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Pantes saja Mutia nangis darah pisah Ama Paul, gantengnya kebangetan. Badannya yang atletis dan kulitnya yang putih bersih. Matanya tajam dan senyumnya ahh begitu mendebarkan. Dan hari ini dia tampak gagah dengan kemeja hitam dan celana panjangnya, yang sangat kontras dengan warna kulit nya. ahh peci itu begitu pas dia memakainya. Helvina senyum senyum sendiri.
"Paullll......" ujar Paul sambil berusaha melepaskan tangannya dari Helvina.
"Helvina eehh iya maafff" buru-buru Helvina melepaskan tangannya yang disambut pelototan mata dari Resty.
Mahendra menatap dingin ke Paul, dan Mutia buru-buru menyuruh mereka duduk untuk mencairkan suasana.
kemudian datanglah kedua kakak Mutia beserta Abang ipar mereka serta bergabung di meja makan, tentunya Mutia mengenalkan dulu teman-temannya ke kedua kakak dan abangnya.
Uni Nindy adalah kakak pertama Mutia yang saat ini sudah berusia 37 tahun, mempunyai dua orang anak yang lucu lucu dan sebuah bisnis oleh-oleh yang sangat terkenal di Padang. Bisnis yang dikembangkan nya bersama suami tercinta.
__ADS_1
Kemudian uni Anita kakak keduanya adalah pengusaha konveksi di Tanah Abang, Jakarta.
dimulai dari toko kecil dan sekarang usaha nya sudah besar bahkan sampai ekspor keluar negri. Uni Anita mempunyai satu anak lelaki yang gemes sekali, namanya Dilan.
"Oh iyaa Tia, nanti ada baiknya kita berembuk untuk membahas siapa yang melanjutkan usaha mama" ujar uni Anita membuka obrolan.
"Nah bener, kami udah punya usaha masing-masing, sekarang saatnya kamu lanjutin lah perjuangan mama" balas uni Nindy.
"Berhentilah dari kerjaan mu dan besarkanlah usaha kita sendiri dek" imbuh uni Nindy lagi.
"Kalian carikanlah pasangan untuk adik kesayangan kami ini" uni Anita menoleh melihat ke wajah teman-teman Mutia sambil tersenyum.
"uniiiiii,,," Mutia menjerit kesal dan malu.
"udah, makan dulu kita mau siap-siap lagi untuk acara nanti malam" kata suami uni Nindy memutus obrolan sore ini.
*****
Malam setelah pengajian, Paul mencari Mutia untuk berpamitan.
"Tya aku izin dulu, mau balik ke Padang malam ini. Besok pagi flight pertama aku balik ke Jakarta"
Mutia duduk disamping Paul,
"Iya, aku gak bisa bilang apa apa lagi, selain terimakasih dan aku juga minta maaf, apabila kemaren kemaren mama ada salah ucap ke kamu, karena mama gak merestui hubungan kita" ujar Mutia terisak
"Engga kok, Mama gak ada salah apa apa, malah aku berterimakasih aku dapat kesempatan untuk banyak belajar dari anak mama yang paling cantik dan baik ini" Paul mengusap air mata di pipi Mutia
"Tya, andai kamu tau gimana perasaanku ke kamu" ujar Paul lirih.
__ADS_1
"Aku juga, tapi kita udah mencoba dan gak bisa kan akhirnya" air mata makin mengalir deras di pelupuk mata Mutia
"Iya aku ikhlas kok, maaf kemaren aku egois, ngomong yang enga bener di depan cowo kamu, aku cemburu" Paul menghela nafas
"Aku maklum, semoga kita berdua berbahagia ya dengan hidup kita kedepan" Mutia menyeka air matanya.
kemudian Paul pun bangkit memeluk Mutia, sambil mencium rambutnya yang wangi. pelukan terakhir dari seseorang yang hanya bisa diingat tapi tidak bisa didapat.
Mutia pun semakin menguatkan peluknya, ya inilah pelukan terakhir nya untuk Paul yang sudah menemaninya dari awal kuliah. membantu nya menyelesaikan skripsi nya dan jadi orang pertama tempat Mutia mencurahkan rasa hatinya. Doanya semoga Paul bertemu dengan perempuan yang lebih baik darinya.
Mutia melambaikan tangan ketika mobil Paul beranjak pergi. Hatinya kosong untuk kedua kali hari ini. Kepergian Mama dan melepaskan Paul membuat nya sesak.
Kemudian dia berlari ketempat kosong dan berteriak sekuatnya.
"Mamaaaaa...... kenapa tinggalin Mutia ma..."
jeritnya...
Mahendra yang mengikuti dari tadi langsung datang dan memeluk Mutia.
"Mama udah tenang, gak usah dipanggil lagi. kalau kamu begini artinya kamu tidak percaya dengan rukun iman, percaya kepada Qadha baik ataupun Qadha buruk".
"Mungkin engga sekarang, tapi nanti kamu akan tau apa maksud Allah menguji kamu dengan kepergian mama" Mahendra mengelus rambut Mutia yang hanya terisak Isak dalam pelukannya.
"aku berjanji kepada mama untuk menjaga kamu, karena mama menitipkan kamu kepadaku" imbuh Mahendra lagi
"aaapppaa,, kaaapaann mamaa bilang begitu"? Mutia menegakan kepalanya untuk melihat wajah mahendra dan mencari kejujuran disana.
"Nanti kapan kapan aku cerita ya, sekarang kita masuk dulu.. kasian keluarga kamu udah nungguin".
__ADS_1