
Sudah seminggu kepergian mama, Mutia kini merasa sepi karena kedua kakaknya sudah kembali dan berjanji akan datang lagi, dua minggu lagi.
Malam ini Mutia tidak bisa tidur karena hatinya gelisah, hari kedua Mahendra tidak menghubunginya. Biasanya lelaki itu akan bolak balik chat ataupun telpon.
Kemudian dia menelpon Helvina sahabat plus teman curhatnya Mahendra
"Haii bebsss..... " sapa Mutia
"Tumben Lo nelp gue, nyariin mahendra kan??"
"Sejak kapan Lo punya indra ketujuh?" tanya Mutia berusaha melucu agar tidak begitu terlihat sedang rindu
"Gue juga heran, udah 2 hari Mahen gk masuk kantor beb."
"Hah ?? kemana ya ?? " Mutia makin penasar
an.
"Nah ilmu gue belum di upgrade nih, ntar kalau udah gue kasih tau Lo ya." iseng Helvina lagi.
"Payahhh Lo."
"Yee ngambek... ada yang rindu berat ya." Helvina semakin puas mengoloknya.
"Tapi suer beb, gue sama sekali engga tau Mahendra kenapa, dan gak pernah sih dia menghilang begini, coba besok gue mampirin rumahnya."
"Makasih ya bebs." jawab Mutia lirih
*****
Malam ini genap tiga Minggu kepergian mama, nanti malam akan digelar pengajian lagi.
Sementara itu Mutia masih belum bisa berkomunikasi dengan Mahendra.
Ting
__ADS_1
Mutia mengambil gawainya, ada satu pesan masuk.
kamu lagi apa ? udah makan ?
Mutia berharap Mahendra lah yang mengirim pesan, tapi ternyata itu pesan dari Paul.
"Belum, baru selesai pengajian."
"aku telpon ya, rindu."
"hah?"
"kok hah? masih boleh kan rindu?"
Mutia pun meletakkan kembali gawainya, mengangkat telepon Paul itu sama aja mengulang lagi kesalahan nya di masa lalu.
flashback on
Hari ini hari pertama ospek di kampus, Mutia tahun ini sudah menyandang predikat kakak senior. Tapi entah kenapa dia ogah-ogahan untuk ikut serta.
Satu tahun kuliah di kampus ini belum ada seorang pria pun yang nyantol dihati Mutia. yang mencoba mendekatinya banyak tapi entah kenapa belum ada yang bener bener cocok dihatinya.
Sambil memakan Taro Snack kesukaannya, mata Mutia mengamati para junior cowo satu persatu.
deg.
Mata itu, mata yang sedang menatap Mutia tajam. sulit terbaca entah tatapan apa kah itu, sekitar lima menit Mutia hanya bertatapan, kemudian mulai melihat hidung cowo itu yang mancung, kulitnya yang putih dan rahangnya yang tegas.
perfect.
Mutia mulai salah tingkah, memandangi cowo itu seperti menimbulkan debar aneh di dadanya. hatinya menghangat dan senyumnya nya merekah seketika.
Jangan tanya apakah Mutia pernah menjalin cinta sebelumnya, karena tentu saja jawabannya tidak.
Mama tidak akan memberikan akses untuk hal remeh remeh seperti itu. Tugas Mutia adalah fokus belajar, kemudian di waktu luang Mutia akan diajak berkeliling melihat bisnis nya mama.
__ADS_1
"Woooyyyy... melamun aja, nongkrong yuk dikantin."
tetiba Lubis datang membuyarkan lamunan Mutia.
"yuk, lapar nih." sahut Mutia sambil beranjak menuju kantin.
"Nasi soto ayam 2 dan es teh manis nya 2, yang bayar Abang ganteng ini." mutia mengeluarkan senyum termanis nya.
"Wah nyesal gue udah ngajak Lo." desis Lubis sambil mengeluarkan dompetnya.
Bagi orang lain yang tidak kenal mereka, tentu akan menyangka mereka adalah pasangan kekasih. Karena dimana ada Mutia dan disitu juga dipastikan akan ada Lubis.
Cowo putih dengan senyuman maut yang sanggup membuat para mahasiswi berebut menarik perhatiannya.
"Aku tadi liat penampakan di kampus." kata Lubis sambil mengaduk es teh manis nya.
"Hah ? siang begini ada hantu ?" jawab Mutia
"Yang bilang hantu siapa, neng?" Lubis menggeleng kan kepalanya
"kamu, barusan,, katanya penampakan."
"Iya .. tapi bukan hantu Oneng, itu penampakan cewe cakep.. gile mah ini, kriteria aku banget."
"Aku malah penasaran, yang bukan kriteria kamu itu seperti apa ?" tanya Mutia
"Mau tau aja apa mau tau banget?" ejek Lubis
"Engga peduli juga sih.." Mutia mulai esmosi
"Tipe cewe yang bukan termasuk kriteria aku itu adalah kamu."
Mutia tersedak, kemudian tertawa terbahak bahak. Sementara di sudut sana ada sepasang mata yang sedang megamati mereka berdua.
Dan kembali mata Mutia menemukan mata tajam dari cowo ganteng junior nya itu.
__ADS_1
lagi lagi hati Mutia menghangat.