
Ospek memasuki hari terakhir, biasanya di hari terakhir kegiatan akan berlangsung hingga malam hari. Dan nantinya akan ditutup dengan api unggun plus bernyanyi bersama. Tentu ritual wajib setiap tahun adalah pembacaan surat cinta. Dimana junior harus menuliskan surat untuk senior idola mereka.
Mutia dan Lubis sudah bersiap untuk ikutan di acara hari ini. Mutia kebagian mengurus panggung kecil untuk pertunjukan malam nanti.
Lubis akan tampil dengan band nya, sebagai bentuk persembahan dari senior untuk menyambut kedatangan junior mereka.
the wafer, band nya Lubis dan ketiga temannya sudah sangat terkenal di kampus mereka. Berbagai festival sudah mereka ikuti dan menjadi pemenang nya.
Tampak kesibukan dari mahasiswa lain yang sedang menghias panggung kecil itu.
Para junior tentunya mereka tidak melihat persiapan ini, karena mereka sedang mendapat orientasi pengenalan kampus dari Dosen mereka.
Rencananya, begitu mereka selesai orientasi langsung akan digiring menuju depan panggung ini untuk menutup rangkaian acara ospek.
"Lubis, aku mau ke kost sebentar mau mandi." ujar Mutia sambil mendekati Lubis yang sibuk dengan gitarnya.
"udah mau mulai kan acaranya."
"Tapi muka aku lecek begini." Mutia mengelap wajahnya dengan lengannya.
"Tetap cantik kok, udah sini aja temenin aku." sahut Lubis yang masih konsentrasi dengan gitarnya.
"Yaudah deh, aku ke kamar mandi dulu aja."
Mutia kemudian mencuci muka dan memakai bedak tabur plus lipstick warna bibir kesukaannya. tidak lupa parfum lancome Miracle yang lembut, dia semprotkan ke lehernya.
Entah kenapa semenjak melihat mata tajam dari junior itu, Mutia menjadi lebih sering memperhatikan penampilannya.
Kaos putih, celana jeans dan sepatu sporty serta rambut nya yang hitam yang dibiarkan tergerai melewati bahu. Mutia sudah kembali percaya diri.
*****
__ADS_1
Ternyata acara sudah dimulai, Band Lubis menjadi band pembuka di acara sore hari ini. Mutia selalu kagum saat Lubis memainkan gitarnya.
"Sore ini, aku mau minta temanku buat nyanyi ke panggung bersama kami. Please Wellcome Mutia Denalla."
Mutia bingung, engga ada perjanjian apa-apa sebelumnya. Dari jauh dia melambaikan tangan sambil menggelengkan kepala, namun suara mahasiswa lain bergemuruh memanggil namanya
Mutia... Mutia.. Mutia...
Semua mata sekarang sedang melihat kearahnya, akhirnya Mutia pun naik ke panggung.
"sore semuanya, maaf dadakan banget jadi saya sedikit kaget." Ucap Mutia setelah sampai di panggung, terdengar suara tepukan tangan plus suitan panjang.
"Ayok yang hapal lagunya kita nyanyi sama sama ya.... kesepian kita nya Pas Band"
Lagu kesukaannya dan Lubis kalau lagi gabut menunggu dosen datang. Sore ini di hadapan ratusan mahasiswa baru mutia menyanyikan dengan penuh penghayatan.
senyum nya terpancar begitu melihat para junior dan senior berbaur sambil melambaikan tangan dan bernyanyi bersama.
yang terasing di lautan
.........
Dan tibalah acara yang ditunggu para senior, yaitu pemberian surat cinta. Mutia melipir ke samping Lubis dan duduk menyeruput minumannya.
"Thanks ya udah bantuin kami." Lubis mencubit pipi Mutia
"Males aku, proyek amal Mulu, kagak Ado pitihnyo." ujar Mutia sambil memainkan jarinya
"Emang padang banget yaaa, uang Mulu di kepala ini isinya." jawab Lubis yang diiringi ketawa receh Mutia.
"Paul suratnya mau dikasih ke kakak senior yang mana?"
__ADS_1
suara MC itu mampu membuat Mutia menolehkan wajahnya, menatap cowo tinggi putih dengan mata tajam yang beberapa hari ini berputar dikepalanya.
ohh namanya Paul, batin Mutia
"Surat ini saya mau kasih untuk Mutia." kata Paul sambil menatap Mutia dengan tatapan tajamnya.
seketika suasana kembali riuh, Lubis menyikut Mutia dan menyuruh nya untuk naik ke panggung menerima surat cinta itu.
Mutia menujuk dirinya sendiri, sambil melihat ke Paul dan Rheina, MC sore ini.
dan keduanya kompak menganggukkan kepala, akhirnya Mutia pun melangkah ke panggung.
"Mungkin nantinya saya akan banyak membuat kamu susah, sedih, dan kecewa tapi saya hanya ingin kamu tau, saya jatuh cinta semenjak pertama melihat matamu dan saya yakin kalau kamu adalah tulang rusukku yang hilang."
suasana makin riuh, terdengar teriakan dari senior dan junior tertawa, suitan suitan pun semakin rame, muka Mutia mendadak merah, ya baru kali ini surat cinta dibuat sedemikian rupa.
Mutia hanya mampu menutup wajahnya dengan tangan, kemudian mengambil surat itu dan berlari turun dari panggung.
"Mutia, belum dijawab inii kok udah lari?" cecar Rheina sambil menahan tawa melihat reaksi Mutia
"wah dalem banget ya kata katanya, dari hati yang paling dalam kayaknya." sekarang giliran Lubis yang mengejek Mutia
"Bodoo ahhh, aku hausss.... " Mutia pun menyeret tangan Lubis menuju kantin untuk menghilangkan debar aneh didadanya.
Ting
satu pesan masuk dan Mutia pun mengambil gawainya,
Aku sangat serius dengan kata kataku di surat, Kamulah tulang rusukku yang hilang.
Aaarrghhhhhhhhh Mutia pun menjerit bingung.
__ADS_1