Akhirnya Ku Menemukanmu

Akhirnya Ku Menemukanmu
Ternyata kita berbeda


__ADS_3

Tepat dua bulan Mutia dan Paul menjalin kedekatan. setelah surat cinta yang fenomenal itu, Paul tidak pernah lagi menyatakan apa-apa. Baginya pernyataan itu cukup sekali dan tidak harus diulangi. Ketika Mutia menanyakan kedekatan mereka, Paul hanya menjawab ... "kita jalani saja".


Sosok Paul masih sangat misterius, Mutia hanya tau kalau dulu dia pernah kuliah di universitas Trisakti di Jakarta.


Kemudian karena di drop out, saking seringnya berbuat onar, maka dia mengulang lagi mendaftar di kampus yang paling terkenal di Sumatera ini.


Bersama Paul, membuat hari Mutia sangat berwarna. Di depan orang - orang Paul lebih banyak diam, tapi ketika bersama Mutia dia akan banyak bercerita tentang kuliahnya, tentang impiannya.


Malam itu Mutia dan Paul duduk di rooftoop nya kost an Mutia. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai, lantai satu dan dua itu kamar kamar untuk anak kost, dan lantai tiga didesain untuk bertamu dan nongkrong bagi penghuni kost an.


"Sepi ya, pada kemana semua." tanya Paul begitu mereka sampai ke rooftoop.


"Malam Minggu kali, palingan pada keluar jalan gitu." jawab Mutia


"Kamu mau jalan?"


"Engga ah, enakan disini. Di jalan cuma dapat macetnya doang, mau kemana - mana rame."


"Aneh kamu, orang tuh pada pengen malam mingguan gitu ke mall, atau resto "


"Aneh aneh gini aja kamu sukaaak buktinya"


cibir Mutia


ccupppp

__ADS_1


Mutia terdiam, tiba-tiba Paul mencium bibirnya. dan sekarang bibir itu masih menyatu seiring dengan dada Mutia yang berdebar kencang. Ciuman pertamanya. Dia bingung harus melakukan apa.


Karena Mutia hanya diam, Paul seakan mendapat lampu hijau. Dengan penuh kasih sayang dia kembali mencium bibir Mutia.


Tidak ada perlawanan seperti gadis-gadis Paul sebelumnya. ya Mutia berbeda, dan Paul semakin menyayanginya.


Ciuman itu berhenti ketika perut Mutia berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Paul sambil mengusap rambut Mutia


"Iiyaaa." Mutia memalingkan wajahnya karena malu


"Yuk kita cari makan." Paul mengandeng tangan Mutia


Di sinilah mereka menghabiskan malam Minggu, di kafe yang sekarang lagi terkenal karena ada live musik nya.


Mutia yang ditatap seperti itu hanya mampu tersenyum,


"Kamu belum pernah cerita tentang keluarga kamu kan?" tanya Mutia


"kamu juga gak pernah nanya." jawab Paul


"Sekarang aku kan sedang tanya."


"Hmmm... Keluarga ku biasa aja. Papa itu pegawai swasta, dan punya beberapa bisnis di Kalimantan. Mama ibu rumahtangga, aku anak kedua dari 3 bersaudara. Dua cowo dan satu adek ku cewe."

__ADS_1


"Sekarang mereka di mana?"


"Papa, mama dan adek di Kalimantan, kakak ku di Jakarta buka bisnis sendiri dan aku disini sama kamu." Paul mengenggam tangan Mutia


"Oh gitu, jadi kamu sering pulang kesana?"


tanya Mutia lagi.


"Mereka sih yang sering ngumpul kesini, karena kampung kan disini. Biasanya natal dan tahun baru mereka pulang."


"Hmmmm Natallll???" tanya Mutia heran


Paul tampak menghela nafas,


"Iya, aku belum cerita kalau kita berbeda keyakinan."


sekarang giliran Mutia yang nampak gelisah,


"Kamu kristen?"


Paul menganguk lemah..


Mutia merasakan ada perasaan sesak di dadanya. Tadinya setelah ciuman hangat dari Paul, Mutia berharap banyak dengan hubungan nya ini.


hubungan pertama yang dia rajut, dengan lelaki yang dia suka. yang berhasil membuatnya berbunga-bunga. Tapi dimenit kemudian hatinya seolah olah ditekan, dan seketika Mutia berfikir ini pasti tidak akan mudah untuk dijalankan.

__ADS_1


Sebaiknya Mutia menghindar setelah ini.


__ADS_2