
Hari ini adalah peringatan Kartini di kantornya. Sebagai perempuan Indonesia yang selalu bangga akan pahlawannya, maka kantor Mutia mewajibkan semua perempuan perempuan hari ini memakai kebaya.
Jadilah pagi ini Mutia sudah duduk manis di salon untuk membuat sanggul modern di rambut panjangnya.
Paduan kebaya warna merah terlihat sangat cocok di kulit putih Mutia. Dengan make up tipis dan sanggul modern membuat tampilan Mutia sempurna.
"Mba udah oke belom nih?" tanya nya Citra pemilik salon langganan nya.
"Udah cakep banget malah, cuma gue heran kok masih jomblo aja." Citra tertawa sambil membereskan peralatan salon nya.
"Udah senang tadi dipuji, eh akhirnya nyungsep lagi diingatin soal cowo." sungut Mutia.
Mereka pun tertawa bersama.
******
"Annyeong." sapa Mutia sumringah begitu masuk ke kantor.
"ondeh uni rancak Bana." jerit Resty
"Yang komen lebih rancakkkkk." Mutia balas memuji.
"Yuk kita ke lantai 2 untuk foto bersama." ajak Resty sambil menarik tangan Mutia.
Mereka harus gerak cepat karena setengah jam lagi kantor akan segera beroperasi.
__ADS_1
"Boleh geser dikit mba..." suara berat seorang lelaki mengagetkan Mutia yang sedang asik berfoto. Tanpa menoleh ia kemudian menggeser kursi nya.
"Nah ini dia orangnya yang kemarin gue ceritain loh Tia, kenalin namanya Mahendra"
helvina tetiba berdiri untuk saling mengenalkan mereka.
"Hen ini Tia, , teller baru di kantor kita, fyi namanya Mutia juga loh.. sama kan Ama yang di foto ini" cecar helvina yang akhirnya membuat mata Mutia mengarah ke foto yang dimaksud.
Dimeja kerja mahendra, ada foto seorang perempuan cantik yang sedang tersenyum dan memakai hijab.
Kemudian Mutia melihat ke arah cowo yang bernama Mahendra ini. Kulitnya laki banget, tidak putih seperti oppa Korea idolanya, tapi khas kulit lelaki Indonesia.
Wajahnya tampan dan sekarang dia sedang tersenyum ke arah Mutia, dan senyum nya mengandung gula satu karung sepertinya.
"Kmaren mahen pelatihan ke Jakarta, ini baru masuk kerja lagi." jelas helvina seakan tau isi kepala Mutia.
dan seketika Mutia seperti kesetrum, karena tangan ini sangat kokoh mengenggam tangannya yang mungil.
"Eh, kita lanjut foto-foto lagi yuk." ajak Mutia mencairkan suasana.
Dan Mahendra pun berlalu dari hadapan mereka, diiringi tatapan aneh dari mata Resty.
*****
Hari ini dilalui Mutia dengan berat. Karena ada promo di Kartini's day jadi banyak yang dapat discount untuk pelunasan kartu. sehingga sampai malam begini dia belum selesai closing.
__ADS_1
Mutia melirik jam di ruangannya dan sekarang tepat pukul 21.00 WIB.
Dia merenggangkan tangannya dan menarik nafas lega. Alhamdulillah Ballance juga akhirnya. Setelah menyimpan uang di brankas Mutia pun mengunci ruangannya.
Kantor sudah sepi hanya tinggal dua orang satpam yang berjaga.
Mutia berjalan keluar kantor sambil melirik tempat makan terdekat dari kantornya. Ternyata tidak jauh dari kantornya ada warung pecal lele yang khusus berjualan di malam hari dan dia pun melangkah menuju kesana.
"Ayam penyet nya satu, nasi uduknya satu dan cah kangkungnya satu ya mas."
"Makan disini neng?"
"Engga bungkus aja mas." jawab Mutia sambil duduk di bangku untuk menunggu.
Mutia melihat ada sosok yang dikenalnya tadi pagi. Mahendra sedang makan dengan teman temannya.
Ternyata Mahendra pun sedang menatapnya sambil melemparkan senyum, yaa senyum itu lagi. Bisa bisa diabetes nih kalau sering ketemu, kekeh Mutia di dalam hati.
"Teller baru kita kan ya?" tanya seorang cowo yang baru datang ke warung ini.
Mutia pun menoleh dan tersenyum.
"Duh cakep banget, mau diantar pulang engga?"
"Makasih tapi saya nyetir sendiri."
__ADS_1
Jawab Mutia dengan tetap sopan. Ia melirik ke arah Mahendra dan teman temannya. Ternyata yang dilirik malah cuek aja tanpa ekspresi.
Akhirnya Mutia memutuskan untuk pulang tanpa harus melihat muka Mahendra lagi.