
Pagi ini Mutia dan keluarga sudah datang lagi ke pusara ibundanya. mereka membawa bunga dan batu batu untuk disusun di pinggir makam. Mutia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, tapi benar yang dibilang Mahendra tadi malam. Tidaklah mungkin Allah SWT menguji hambanya diluar batas kemampuan nya.
Hati Mutia sudah jauh lebih tenang, ketika tadi malam Mahendra mengirim pesan, satu ayat di surat Al Baqarah yang berbunyi :
"apabila kamu ditimpa suatu musibah, ucapkanlah innalilahi wa innailaihi Raji'un"
Bagaimana Mutia bisa lupa kalau dirinya pun di Bumi ini hanya sementara. Hatinya tenang setelah mengulang ulang ayat tersebut.
******
Dirumah tamu masih berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa, tapi kebanyakan mereka adalah rekan bisnis mama dan kedua kakaknya. Mutia sudah merantau semenjak tamat SMA dan kuliah diluar kota. Teman-teman nya sendiri juga banyak yang diluar kota.
"Uda Agus, boleh tolong Uda antarkan teman Tia jalan-jalan sekalian kulineran uda?"
tanya Mutia kepada Agus salah satu supir di keluarganya.
"Buliah lahhh, ka Pai kama rencana Tya?" rencananya mau kemana Tia?
"ke danau boleh juga Uda, atau ke Bukittinggi liat jam gadang"
"Boleh, Uda siapkan dulu mobilnya"
Uda pun pergi sambil mengambil kunci mobil Alphard, mobil yang baru satu tahun ini dibeli mama nya.
"Resty, Vina siap-siaplah nanti Uda Agus mau bawa keliling" Mutia menghampiri kedua temannya di tempat tidur.
"Yah mana seruu, kalau lu gk ikut" kata Resty
"Iya mana ngerti nanti ambo ngomong Samo Udo" .ejek Helvina menirukan bahasa kampung Mutia.
__ADS_1
"Hmmm aku coba tanya mak etek dulu ya, boleh apa engga"
Mutia pun berlalu keluar kamar mencari Mak etek.
Mak etek atau mamak di sumatera barat adalah kakak laki-laki kandung dari ibu. mamak lah yang bertanggung jawab akan kemenakan nya. Jadi setelah mama nya tiada, tentu sekarang Mak etek lah orang yang dituakan Mutia.
"Assalamualaikum Mak etek",,, salam Mutia ketika melihat mamak nya sedang duduk di ruang tamu dengan sepupu Mutia yang lain.
"Walaikum salam" jawab Mak etek
"Itu teman Tia yang dari luar kota nak jalan Mak etek, besok kan mereka udah kembali pulang, jadi maksudnya Tia mau tanya, boleh kah Tia ikut mengantar mereka sebentar aja?' Tia berucap dengan hati hati, takut sekali nanti jadi salah dan melanggar norma
"Bolehlah, asal hati hati dijalan, jangan terlalu senang hati, nanti diliat orang indak rancak, dan usahakan sore sudah baliak karena nanti malam kita pengajian hari kedua" jelas Mak etek
"Iya Mak etek, Tia pergi dulu.. Assalamualaikum"
*****
kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, ada banyak tempat wisata disana dan tentu saja Mutia mengajak ketiga temannya untuk kuliner lagi serta berfoto di Jam gadang, landmark nya kota Bukittinggi.
Resty dan Helvina tentu saja sangat antusias, sementara Mutia dan Mahendra hanya memperhatikan mereka dari jauh. Apalagi mungkin ini adalah hari hari terakhir pertemuan mereka karena dipastikan Mutia tidak akan balik lagi ke kota perantauannya.
"kamu udah jauh lebih tenang, aku senang" kata mahendra persis di telinga Mutia
"Berkat support kamu dan mereka, Alhamdulillah"
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya mahendra lagi
"sesuai permintaan uni dan Mak etek, aku harus meneruskan usaha mama disini"
__ADS_1
"oh yaa mama usaha apa?"
"Konveksi Hijab, bisa dibilang grosir sekaligus pabrik nya, jujur selama ini aku engga pernah tau seperti apa bisnisnya, berhijab aja engga pernah, padahal mama udah sering meminta aku memakainya" Mutia mulai terisak.
Mahendra tersenyum
"Kok kamu malah senyum sih?" Mutia kesal
"Aku lagi ngebayangin kamu pakai hijab, jadi brand ambassador nya, pasti cantik banget Masya Allah" mahendra melebarkan senyumnya.
Mutia pun tersipu malu. Ide Mahendra memang selalu diluar nalarnya mutia tapi entah kenapa Mutia menyukai idenya. mungkin sudah saatnya dia untuk berhijab dan melihat model model hijab yang sedang diminati saat ini.
"Iya yaaa ide bagus, kenapa engga dicoba aja" mutia memberikan senyum manisnya kepada mahendra
"Mut, besok aku pulang dulu ya. secepatnya aku kembali untuk membawa keluargaku dan melamar kamu" tatap mahendra dan kemudian mulai berdiri persis didepan Mutia.
"Mutia aku sudah pernah mencoba melupakan kamu tapi itu sulit, apalagi ternyata aku berjanji sama mama untuk menjaga kamu.
Jadi hari ini aku ingin meminta kamu menjadi istriku, ibu dari anak anakku, apakah kamu bersedia Mutia Denalla Chaniago???"
Mahendra berlutut dengan setangkai bunga yang diambil nya asal di dekat taman tadi.
Mutia yang kaget tidak bisa berkata apa apa, air matanya turun sendiri dengan sukarela. Entah bagaimana takdir sedang berputar untuknya, sehari yang lalu kehilangan orang tua dan masa lalunya tapi hari ini kedatangan masa depannya.
"Iya, Bismillah aku mau" jawab Mutia terharu
"Yaayyyy congratssss kalian berdua" Resty dan Helvina ternyata sudah dari tadi merekam adegan romantis itu dan kemudian memeluk sahabatnya dengan bahagia.
Doa tulus Resty di dalam hati, semoga Mutia berbahagia dengan Mahendra.
__ADS_1