
Setelah empat puluh lima menit penerbangan, mereka bertiga tibalah di Bandara Minangkabau. Sepupu Mutia sudah ready untuk membawa langsung ke kota Padang panjang. Sebuah kota kecil yang sejuk dan dengan curah hujan yang tinggi. Disepanjang jalan mata dimanjakan dengan hamparan sawah-sawah dan gunung yang cantik.
"Assalamualaikum..." sahut kami begitu sampai di rumah duka. Semua keluarga dan beberapa tetangga tampak sudah menunggu kedatangan Mutia. dan tanpa terasa semua meneteskan air mata begitu Mutia memeluk jenazah ibundanya dengan haru.
Kedua kakaknya tampak memeluk Mutia dan kami hanya bisa terdiam sembari bersalaman dengan keluarga Mutia. kemudian kami duduk dan membacakan doa doa untuk kelancaran perjalanan ibunda Mutia menghadap pencipta.
ddddddrrrttt.....dddddrrrrttttt.....
Helvina merogoh hawainya ,"hallo..." ujarnya sambil berbisik
"Vin, gue mau titip sarapan yang Deket rumah lu Ya" terdengar suara berat Mahendra disebelah sana.
"Boleh tapi hari Senin gue bawain nya"
"Loh kok Senin, laparnya hari ini"
"Karena hari ini gue di rumahnya Mutia di Padang, mama nya meninggal".
Helvina kemudian mematikan selularnya.
*******
__ADS_1
Sementara di sana Mahendra termenung, seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan Helvina.
Kemudian dia membuka sosial media nya dan mencari nama Mutia disana. Ternyata benar, ada beberapa teman yang sudah mengucapkan belasungkawa. Beberapa dari almamater kampus, sebagian lagi teman sekolah dan rekan kerjanya.
Mahendra resah antara ingin datang kesana, atau mempertahankan egonya untuk tidak berhubungan lagi dengan Mutia. Jujur menghindari Mutia adalah hal yang paling berat buatnya. Karena perbedaan umur diantara mereka, Mutia sudah seperti kakak, seperti teman dan seorang pacar untuk Mahendra.
Flashback on
"Hallo nak Mahendra, ini ibunya Mutia. ibu titip Mutia yaa, memang anaknya agak sedikit keras kepala, tapi percayalah hatinya baik sekali, engga pernah mau liat orang lain susah karena dia"
Itu terjadi ketika di satu Minggu sore, ketika mereka menghabiskan waktu di kost-an. mama nya Mutia menelpon. Entah kenapa Mahendra merebut hapenya dan ingin berbicara dengan calon mertua.
"Aahhhh shiiiiii**** gue pernah janji jaga dia ke ibunya" mahendra memukul mukul stir mobilnya.
Penerbangan berikutnya pukul 12 siang, dan pemakaman dijadwalkan pukul 13.00 WIB setelah shalat Jumat. Sambil menunggu Mahendra sibuk menelpon kantor untuk mengabarkan bahwa dia tidak datang, kemudian dia menghubungi Helvina untuk mengirimkan alamat rumah Mutia karena ini adalah pengalaman pertamanya ke Sumatera Barat.
******
Sementara dirumah duka tamu semakin ramai, "mungkin orang tua nya Mutia orang yang berpengaruh disini ya" bisik Resty kepada Helvina.
Tamu nya sampai memenuhi halaman yang sebesar lapangan bola kaki ini. Rumah Mutia terdiri dari dua lantai, dengan puluhan pilar pilar kokoh yang menopang. Luasnya entah berapa hektar karena Resty dan Helvina belum mengelilinginya. Hanya saja dilihat dari luar, tentu yang punya rumah ini bukan orang sembarangan. Entah kenapa mereka tidak pernah bertanya apa pekerjaan orang tua Mutia selama ini.
__ADS_1
Mutia pun menjadi sorotan karena ternyata di Sumatera barat, garis keturunan itu matrilinial atau garis keturunan ibu. Para pelayat prihatin karena Mutia belum menikah dan kedua orang tuanya sudah meninggal pula.
Mutia tidak henti - henti mengusap air matanya, sambil memegang tangan ibunda nya. Ada gurat penyesalan diwajahnya. Sebentar dia nampak tegar tapi Lima menit kemudian air mata tampak membanjiri lagi pipinya.
"iko yang namonyo Mutia, anak bungsu Bu haji nur Yo"
"Iyo ibuk" Mutia membalas pelukan teman mamanya
"ibu haji tu sayang Bana ka situ nah, caliak la di tas nyo foto wisuda Mutia sajo nan nyo baok taruih.. sabanta - sabanta Inyo caliak Inyo cium" jelas ibu itu lagi.
*Ib**u mu sayang banget sama kamu, sampai di tas nya hanya ada foto wisuda mu yang tiap sebentar dia lihat dan dia cium*
Mendengar itu Mutia semakin terisak, begitupun para pelayat. Mereka membayang kan sedihnya Mutia, karena belum berhasil membawakan calon suami kehadapan mama nya. Bahkan hingga hari ini hari terakhir ibundanya di dunia.
Kemudian Mutia masuk ke kamar dan mencari tas yang dimaksud, dengan tidak sabar dia membuka semua tas almarhumah. dan semakin menangis melihat kenyataan di dalam nya, foto Mutia dengan toga dan kebaya serta beberapa foto bersama keluarga besar tampak memenuhi tas ibu haji Nur cahaya ibunda mutia.
Helvina dan Resty pun memeluk Mutia mengingat kan untuk bersabar dengan ketetapan Allah, karena semua manusia pun pasti akan menghadapNya. Hanya waktunya saja yang belum tau kapan dan dimana.
Dan sekekal-kekalnya sesuatu di dunia ini, hanyalah kenangan akan kebaikan - kebaikan semasa hidupnya.
**Haii ini tulisan pertama aku...
__ADS_1
maafkan kalau masih banyak yang kurang-kurang ya...
dan semoga ceritanya bisa menghibur teman-teman semuanya** ...