Akhirnya Ku Menemukanmu

Akhirnya Ku Menemukanmu
Berubah


__ADS_3

Mahendra menjaga jarak dari Mutia. apabila bertemu di kantor Mahen selalu membuang muka atau berpura - pura memainkan gawainya. Mutia maklum, dan merasa tidak perlu menjelaskan apa apa. Toh pasti sulit untuk menerima kekurangan orang lain kan.


Mutia pun sudah mulai pasrah dengan jodohnya. Hari-harinya dia sibukan dengan bekerja dan menonton drama Korea, kadang nongkrong bareng Resty dan Helvina. Sama seperti hari ini, mereka janjian nongkrong pulang kerja di sebuah kafe baru di dekat kantornya.


"uuww udah tau gosip hari ini belom sihhh?" Helvina membuka obrolan sore ini


"uuuwwww gosyiippp apaaa?" Mutia dan Resty langsung pasang muka serius.


"Mahendra diperebutkan dua cewe di lantai 3" Vina ketawa sambil cekikikan,


"Yee kirain gosip apaan" Mutia terlihat tidak bersemangat.


"Lu tanya dong cewe nya siapa aja?" kata Vina lagi.


"Siapa emangnya?" Resty penasaran


"The and only Bella Ama satu lagi si Desi"


Siapa sih yang gak tau Bella anak paling tajir di kantor mereka, cuma agak sedikit sombong kata orang-orang. Mutia tidak terlalu akrab dengannya.


"Siapa ya yang dipilih mahendra" gumam Resty

__ADS_1


ddrrrrtttttt.... dddddrrrrttttt....


"Assalamualaikum Ma"


Mutia mengangkat telepon dan langsung pingsan lima menit kemudian.


Helvina dan Resty panik. Sembari meminta pertolongan sama pengunjung kafe, mereka membawa Mutia ke klinik terdekat. Mereka penasaran perihal apa yang sudah membuat Mutia demikian shocknya.


Helvina mengambil telepon milik Mutia dan menghubungi penelpon barusan.


"Assalamualaikum, saya temannya Tia Bu, ini Tia nya pingsan setelah menjawab telpon tadi".


"Walalaikum salam iya saya kakak nya Tia, mama kami barusan saja meninggal makanya saya mengabari Tia agar bisa segera pulang besok pagi, penerbangan pertama". sahut suara diseberang sana.


Helvina pun meneteskan air mata disambut tatapan heran dari resty.


"Mama nya meninggal" ujar Helvina lirih


Mutia pernah bercerita kalau papa nya sudah lama meninggal, sewaktu Mutia lulus kuliah. dan sekarang mama nya menyusul, pasti berat sekali buat Tia pikir mereka.


Atas nama persahabatan Helvina dan Resty pun segera memesankan tiket pulang untuk Mutia. Mereka juga akan ikut bersama. untungnya ini hari Kamis, jadi cukup izin satu hari saja.

__ADS_1


Keesokan paginya, mereka bertiga sudah berada di bandara. Penerbangan pertama ada di jam lima pagi. Semoga Mutia masih sempat melihat jenazah ibundanya, batin mereka dalam hati.


Sementara Mutia tidak berhenti menangis, ini tidak mudah baginya, setelah papa pergi, mama lah yang berjuang untuk membesarkan ketiga anaknya. Mutia anak paling kecil dari tiga bersaudara, kedua kakak nya sudah berkeluarga, makanya Mutia yang paling dinantikan mama nya untuk segera menikah.


Ahh mengingat menikah air mata Mutia menetes lagi, satu hal yang belum bisa dia wujudkan hingga kepergian mama nya.


sebulan lalu sewaktu Mutia masih dekat dengan Mahendra, mama nya sempat menelpon dan berbicara dengan Mahen.


walaupun Mutia sudah menjelaskan kalau mahendra hanya temannya, tapi mama ngotot pengen ngomong. entah apa yang mereka bicarakan.


"Mutia, makan dulu, ini aku bawain nasi goreng" Resty berusaha memecahkan keheningan


"Engga, gue engga lapar" jawab Tia sambil menghapus air mata nya.


"lu harus makan biar gak sakit Tia" ujar Helvina


"Iya bener tuh, lu lagi butuh tenaga ekstra" imbuh Resty


Mutia pun menganguk lemah, dan makan beberapa suap nasi goreng buatan Resty. Air mata masih membanjiri wajahnya yang cantik.


Dan Pesawat yang ditunggu akhirnya datang..

__ADS_1


hellow Padang panjang...


__ADS_2