Akhirnya Ku Menemukanmu

Akhirnya Ku Menemukanmu
Tersudutkan


__ADS_3

Begitu selesai memarkirkan mobil, Mahendra keluar dan membanting pintu. untungnya kost an Mutia berbentuk rumah dengan satu kamar, satu kamar mandi, ruang tamu dan dapur serta garasi untuk satu mobil. Jadi tidak ada tetangga yang terganggu dengan pertengkaran mereka.


Airmata Mutia turun tanpa henti, Ia menyesali kenapa harus bawa Mahendra kesana, andai tadi dia datang sendiri pasti dia sudah ngobrol dengan Paul. Karena no wa dan semua sosial media Paul sudah di blokir Mutia. Jujur dia masih sangat mencintai Paul, sepuluh tahun bukan perkara mudah untuk dilupakan, apalagi Paul cinta pertama nya Mutia.


Tapi Mahendra kenapa mendadak jadi marah-marah, kok jadi rumit begini sih.. begitu banyak pertanyaan berkeliaran di pikiran mutia.


"Mahen, udah malam, besok aja yaa kita bahas. kamu pulang aja" Mutia mencoba merayu.


"Aku tidak akan tidur dengan kepala penuh pertanyaan, aku butuh jawaban sekarang agar tidurku tenang" cecar Mahendra.


"Aku bingung mulai dari mana" air mata mengalir lagi di pipi Mutia


"Mungkin bisa dimulai dengan gimana rasanya tidur dengan dia" kilatan marah dimata Mahendra yang membuat Mutia bergidik.


"Aapppaaa???" Mutia tercekat seakan tidak mampu lagi berkata-kata. dan air mata nya kenapa tidak berhenti mengalir sih, Mutia kesal dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"kenapa, kamu kaget aku tau rahasiamu?" Mahen masih punya banyak energi untuk berdebat malam ini sepertinya.


"Aku lelah, mau tidur"... Mutia pun menarik selimutnya dan segera meninggalkan Mahen yang masih tersulut emosi.


POV MAHENDRA


Lelaki didepannya terus mencuri pandang ke Mutia. sebenarnya siapa dia, kenapa dia menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan seolah olah ingin memberitahukan seseorang.


Aku melihat kilatan marah dimatanya begitu Mutia melayaniku saat makan bersama. Mutia mengambilkan nasi untuk ku dan bertanya apa yang ingin aku makan. Dengan terlatih dia mengambilkan minumku. Ya tentu saja dia melayaniku karena hanya aku orang lain di reunian mereka itu. Aku merasa itu hal yang wajar wajar saja.


ahh aku tidak ingat persis kata katanya, tapi di ujung lagunya aku jelas mendengar


"rasaku tlah mati untuk menidurinya" ditutup dengan senyum misterius yang dia perlihatkan.


Tentu saja Mutia tidak tau karena dia sedang sibuk di belakang. Namun aku mendengar dengan jelas, dan ya aku rasa aku butuh jawaban.

__ADS_1


akhirnya aku menyadari, inilah pria mantan kekasih Mutia. ya, aku mendengar cerita dari Helvina kalau Mutia patah hati karena tidak bisa menikahi kekasihnya karena perbedaan agama. dan yaa waktu sepuluh tahun tentulah sangat panjang. mana mungkin hanya sekedar pacaran pacaran biasa saja. apalagi Mutia sepertinya bebas menerima tamu di kost-annya.


Apabila Mutia benar sudah tidur dengan lelaki itu maka aku akan meninggalkan nya. Maaf aku tidak bisa terima.


Kalau soal hijab aku masih bisa terima, karena nanti setelah menikah aku akan mengajari ntuk memakainya. Tapi kalau soal sesuatu yang sudah retak, apa lagi yang bisa aku rekat.


Buuggggg....


Aku meninju dinding kamar mandi Mutia, aku marah melihat dia menangis tanpa membantah satu kata pun dari tuduhanku. bukankah itu artinya benar??


Darah mengalir dari tanganku, dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Mungkin cukup sampai disini saja. mungkin aku belum ditakdirkan untuk menikah dengan Mutia. Semoga Mutia menemukan orang yang bisa menerima dia apa adanya.


Aku mengambil kunci mobil dan meninggalkan Mutia yang sudah tertidur dengan tangisnya.


Maafkan aku Mutia, tapi ini adalah hal prinsip bagiku. Maaf harus berakhir seperti ini. Aku mencintaimu....

__ADS_1


__ADS_2