
Hari ini weekend dan seperti biasa, Mutia bangun siang dan Leyeh di kamarnya.
ddrrrtttt.....drrrrtttttt.suara gawainya membangunkan Mutia, duh siapa sih ganggu aja, batinnya.
"Hmmm" jawab Mutia
"Wuihh katanya mau jadi ibu rumah tangga, jam segini masih molor aja" Jawab suara diseberang sana
"Yee kan mau, artinya belum terjadi toh" balas Mutia
"Latian dulu kali, aku di depan kost kamu nih" dan Mutia gelagapan engga percaya, ngapain si Mahendra pagi pagi udah di kost-an.
Setelah memakai Bra dan ganti baju yang normal, Mutia membuka pintunya. eh beneran ternyata Mahendra udah tersenyum di depan kamarnya.
"Kamu ngapain sih pagi pagi gangguin aku?" protes Mutia
"Katanya disuruh ikut seleksi, buat calon suami" senyum Mahen sambil melangkah masuk.
"Kamu registrasi aja sudah gagal, belum cukup umur" Mutia tertawa
"Umur sih boleh muda, pengalaman udah expert nih. Mau test?" Mahendra menggoda
__ADS_1
"Huss.. kecil kecil mesum" wajah Mutia seperti udang rebus, merah karena malu
"Mahen,, aku liat kayaknya Resty suka deh sama kamu" Mutia mencoba mengalihkan obrolan.
"Tapi aku sukanya sama kamu, gimana dong" Mahendra menjawab sambil menatap bola mata Mutia, yang sukses membuat Mutia bergetar.
"Tapi aku nya mau cari suami, bukan cari pacar. gimana dong?" Mutia balik bertanya
"ayo siapa takut" Mahendra ternyata benar benar sukses membuat Mutia merinding terus.
"Laper, makan yuk" Mutia mulai kehabisan kata dan akhirnya hanya kata itulah yang terucap di mulutnya.
Flashback on
Setelah ngopi di kafe itu Mahendra dan Mutia semakin dekat, mereka saling cerita, tertawa dan berkeluh kesah. Walaupun menurut mutia, Mahendra tetap sosok dibawah umur yang tidak akan mungkin suka padanya. secara empat tahun lebih tua.
Perhatian Mahendra sempat membuat Mutia bimbang, kadang kalau pulang malam Mahendra setia menunggunya di warung pecel lele dan mengantarnya pulang.
Pernah Mutia selisih dan hampir menangis karena harus mengganti tiga juta rupiah, tapi Mahendra dengan sabar membantunya mencari dimana selisihnya. Hal - hal kecil dari Mahendra yang membuat Mutia merasa berharga kembali.
Namun prinsip umur yang dibuat Mutia seolah jadi benteng sendiri untuknya. karena janji dalam dirinya, tidak akan menjalin hubungan dengan pria dibawah umurnya. lelaki yang dewasa itu yang lebih tua umurnya dari dia. tapi semakin hari berada dekat Mahendra seperti candu juga baginya. tidak ada perbedaan umur ketika mereka berbicara atau sedang membahas sesuatu. Mahendra begitu dewasa, begitu memanjakan nya.
__ADS_1
flashback off
"Enak baangget ini nasi gorengnya, duh aku jadi malu" Mutia menutup muka nya
"Malu kenapa?" Mahendra menuangkan nasi goreng untuk Mutia.
"Aku engga bisa masak sama sekali"
"Gpp, aku bisa ajarin kok tiap hari" Mahendra tersenyum manis sambil menyuapi Mutia.
Hari itu mereka lalui dengan menonton dan berjalan jalan. Malamnya Mahendra mengantar Mutia kembali ke kost nya dan memastikan bahwa perkataanya tadi pagi benar benar serius.
Setelah Mahendra berlalu Mutia bimbang, antara prinsip yang dibuatnya sendiri atau mengikuti kata hati. Mahendra sejauh ini baik dan melindunginya, apakah ia harus mengabaikan soal umur keduanya. dan bagaimana dengan Resty nantinya.
Mutia lelah dan menenggelamkan badannya kedalam selimut. dan hitungan menit Mutia sudah terlelap.
*****
Sementara di rumahnya Mahendra masih memikirkan tentang keputusan nya. Dia melihat ada sosok berbeda dari seorang Mutia. dan soal umur tentunya tidak jadi Masalah buatnya. Dia hanya tidak ingin lagi kehilangan sosok yang membuat nya bahagia.
Beberapa Minggu ini hatinya yang kosong mulai terisi lagi dengan hadirnya Mutia lain. walaupun belum berhijab seperti perempuan impiannya, tapi Mahendra yakin Mutia adalah calon yang tepat untuk mendampinginya.
__ADS_1