AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 1.


__ADS_3

Pagi ini, untuk kesekian kalinya aku harus mendengar lagi gerutuan yang sama dari mulut wanita yang bergelar ibu bagi ku. Bukan sarapan yang ku dapat setiap kali hendak berangkat kerja, tapi keluhan yang sama. Tentang betapa sial nya wanita itu melahirkan putri seperti ku ini.


"Sudah lah bu, hentikan...!! ini masih pagi, dan ibu sudah ribut seperti ini", ujar kakak ku mencoba menghentikan makian ibu padaku.


"Jangan minta ibu untuk diam Mila, bukan kah adik mu memang begitu!!", lanjut ibu tak mau kalah dengan ucapan mbak Mila. Aku pun bergegas keluar dari kamar dan langsung berpamitan. Telinga ini sudah tak tahan rasanya selalu di jadikan obyek pembicaraan.


Aku langsung saja keluar rumah tanpa berpamitan. Biar saja ibu semakin jengkel padaku. Dia harus tahu kalau anaknya ini juga punya hati. Percuma saja wanita itu melahirkan ku kalau setiap hari aku harus terus-menerus di salahkan.


Dering ponsel mengagetkan lamunan ku. Ku buka dan kubaca pesan masuk dari Eri. Rupanya dia sudah menunggu di halte bis. Aku bergegas berlari agar tak membuatnya lama menunggu. Ku seka sisa butiran air mata yang sejak tadi sudah turun tanpa terasa.Dari kejauhan, Eri sudah menunggu di atas motor nya. Dia tak boleh sampai tahu kalau aku habis menangis lagi pagi ini.


"Kau pasti habis menangis lagi kan, mata mu terlihat sembab", tanya Eri. Hal sekecil apapun tak akan luput dari perhatian nya. Terlebih kami sudah berpacaran semenjak masih di bangku SMA. Eri tahu betul kisah hidup ku. Makanya dia selalu berusaha memberi kan semangat dan cinta yang begitu besar. Dan lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan dari Eri.


"Ayo cepat jalan,, nanti kau bisa terlambat masuk kuliah", ujar ku mengalihkan pembicaraan seraya menaiki motor nya. " Sampai kapan kita seperti ini terus Nida??. Aku sudah bosan sembunyi dari keluarga mu. Kalau kau mau, aku akan melamar mu sekarang juga. Kita bisa tinggal di rumah ku sampai aku menyelesaikan kuliah", tantang Eri pada ku. "Selesaikan dulu kuliah mu, aku bisa menunggu. Lagi pula tak enak kalau kita menikah tapi masih menyusahkan orang tua", lanjut ku.


"Tapi,,,kau lihat sendiri kan, mama aku jauh lebih baik daripada ibu mu. Kau pasti akan jadi menantu kesayangan mama", lanjut Eri tak mau kalah. Aku hanya bisa tersenyum sambil merapatkan tubuhku ke punggung nya. Tangan ku melingkar erat di perut Eri. Biasanya dia akan terdiam dan fokus mengendarai sepeda motor nya.Ku sandarkan kepalaku di bahunya sambil terus bercerita. Tak terasa kami sudah sampai di tempat kerja ku. Buru-buru aku turun dan mencium tangan Eri. Tak lupa dia berpesan agar menunggunya menjemput nanti malam.


Ku langkah kan kaki ku masuk ke dalam mall. Di sinilah aku bekerja selepas lulus SMA. Sementara kedua kakak ku kuliah, aku harus puas dengan hanya mengenyam bangku SMA. Ibu beranggapan kalau aku sudah menghabiskan banyak uang demi membiayai pengobatan ku, jadi sebisa mungkin aku harus segera bekerja agar bisa mengganti nya.


Hanya karena sejak kecil keluar masuk RS, ibu selalu menyalahkan aku atas penyebab dirinya kehilangan banyak perhiasan dan uang. Dia begitu marah padaku, sampai mengungkit biaya

__ADS_1


pengobatan itu terus-menerus. Bahkan setiap pagi, tak lupa dia selalu membahas nya. Aku harus mengganti semua perhiasan yang sudah di jual ibu, barulah dia mau memaafkan ku.


Beruntung kedua kakak serta ayah ku tidak bersikap seperti ibu. Ayah bahkan menyuruh ku melanjutkan kuliah, namun aku menolak. Biar lah aku bekerja kalau itu bisa menyenangkan hati ibu ku. Ku letakkan tas di loker dan mengganti seragam ku. Teman kerja ku Sari dan Ita rupanya belum datang. Sembari menunggu mereka, aku membersihkan lantai dan lanjut membuka gerai.


"Anak manis,, nich sarapan dulu, aku sudah masak nasi goreng spesial untuk mu", teriak Sari mengagetkan ku yang masih beres-beres.


Kedua sahabat ku ini memang begitu pengertian.


Mereka sering sekali membawakan makanan, mungkin karena mereka tahu aku tak pernah sarapan. Lagi pula aku selalu datang lebih pagi, jadi tugas mereka terkadang sudah ku ambil alih.


"Wah.....sepertinya enak nich. Makasih mbak Sari",ujar ku sambil menerima kotak makan dan segera berlari ke belakang. Sari dan Ita tersenyum melihat tingkah ku. Inilah yang membuat ku betah bekerja di mall ini. Apalagi mendapat rekan kerja yang sangat baik dan perhatian seperti mereka.


Kebetulan ini hari Sabtu. Dan weekend seperti ini sudah pasti toko sangat ramai. Seharian kami bahkan bergantian untuk makan siang. Hari ini penjualan juga melebihi target. Bisa ku bayangkan kalau kami bertiga pasti akan mendapat bonus nanti.


Jam 7 malam aku baru bisa keluar dari mall.


Lumayan capek, tapi aku senang. Bersama Ita dan Sari, kami bertiga berjalan keluar. "Tuh lihat,,


kau sudah di jemput cowok mu",ujar Sari sambil mendorong pinggang ku. "Apaan sich mbak,, biasa aja kali..!!,sahut ku. Eri melambaikan tangan nya ke arah ku. Aku pun menghampirinya setelah berpamitan pada kedua senior ku itu. Mereka sudah mengenal Eri dengan baik.Jadi, tak heran

__ADS_1


kalau melihatnya menjemput ku seperti ini.


"Gimana sayang,,kau pasti lapar kan,,kita makan dulu. Aku sudah pesan kan makanan untuk mu", ujar Eri sembari menarik kursi untuk ku duduk.


Ku lihat Eri sudah mengganti bajunya. Berarti dia sudah selesai kuliah dari tadi. Pria ini, aku sungguh mencintai dirinya. Hanya dia lah yang bisa memahami perasaan ku.


"Ayo makan,,,ku lihat kau bertambah kurus saja setiap hari", ujar Eri sambil menyodorkan piring berisi beef steak pesanan nya. "Kalau kau terlalu capek, lebih baik berhenti kerja. Atau kau jadi sekretaris papa saja, biar aku yang atur semuanya", tambah Eri. "Jangan sayang, aku sudah nyaman di sini. Mbak Ita dan Sari juga sangat baik, lagipula dari dulu badan ku memang cuma segini kan??", jawab ku akhirnya. Berulang kali Eri menawarkan padaku untuk berhenti kerja.


Namun, aku selalu menolak nya.


Cukup bagi ku menjadi wanita yang di cintainya. Aku tak mau merepotkan keluarganya juga. Mereka sudah sangat baik dan welcome padaku.


Padahal keluarga Eri adalah orang kaya, tapi sikap dan attitude nya sungguh sangat terpuji.


"Minggu depan kau bisa cuti kan Nida?". Aku ingin mengajak mu berlibur ke Bali. Aku juga sudah membeli tiket nya, ujar Eri tiba-tiba.


"Kenapa mendadak begini, aku tak yakin apa boleh mengajukan cuti",jawab ku. Eri tampak berpikir keras, sampai akhirnya dia sendiri yang memutuskan. "Kau tenang saja, biar aku yang bicara. Kau siapkan saja barang-barang mu.Kita berlibur seminggu di Bali", ujar Eri akhirnya.


Eri memang selalu penuh kejutan.Dia pria yang tak mudah di tebak. Kalau punya keinginan pasti harus terlaksana. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa mengalah dan menuruti kemauan nya. Itulah salah satu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2