AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 11.


__ADS_3

Sudah hampir 3 hari Nida terbaring lemah di ranjang hotel. Selera makan nya menurun dan perutnya terasa tidak enak. Sedianya bulan madu mereka hanya 1 minggu saja, tapi karena Nida sakit, Rendi pun menunda kepulangan mereka. Keduanya sudha tinggal di Bali 3 minggu lamanya. Menunggu Nida cukup fit untuk bisa terbang kembali ke Yogya.


Melisa dengan setia membantu Rendi mengurus Nida. Pagi ini keduanya berencana membawa Nida ke rumah sakit. Rendi ingin tahu pasti penyakit yang sedang di derita oleh istrinya.


Melisa mengantar Rendi dan Nida ke ruang pemeriksaan. Sebelumnya mereka sudah membuat janji, jadi tinggal menunggu dokter memanggil untuk memeriksanya.


"Nyonya Rendi, silahkan masuk ke dalam. Dokter Budi sudah menunggu", ucap perawat sembari membantu Nida masuk ke ruang periksa.


Dokter memeriksa Nida di temani oleh perawat dan Rendi di samping nya. Tak berapa lama, dia menelpon petugas laborat untuk membawakan hasil cek urine dan darah. Begitu hasil nya sudah di tangan, dokter pun menjelaskan pada Rendi dan Nida perihal penyakitnya.


"Maaf pak dan bu Rendi. Sepertinya anda salah datang kepada saya. Karena menurut hasil pemeriksaan, tidak ada penyakit apa pun di tubuh bu Rendi", ucap dokter hati-hati.


"Lalu, kami harus kemana lagi dokter?. Sudah 3 minggu istri saya tidak mau makan dan badan nya lemas", ucap Rendi cemas.


"Saya sarankan anda menemui dokter obsgyn untuk berkonsultasi seputar kehamilan istri anda pak Rendi. Akan lebih baik kalau istri anda di tangani oleh dokter yang tepat", ucap dokter menambahkan.


"Maksud anda, istri saya hamil dok?", tanya Rendi.


"Iya pak, dan usia nya kurang lebih sekitar 2 minggu. Untuk memastikan, saya sudah menelpon dokter kandungan. Perawat akan mengantar kalian ke sana", tutup dokter sambil menjabat tangan Rendi dan memberinya selamat.


Nida tersenyum lemah. Seketika dia tak tahu harus berbuat apa.Di satu sisi dia masih belum siap kalau harus mengandung buah hati Rendi, sementara belum tumbuh cinta di hatinya. Tapi, di sisi lain, janin itu sudah tumbuh di dalam rahimnya. Dan dia sama sekali tidak bersalah.


Pandangan Nida kosong saat perawat medorong kursi roda ke ruang pemeriksaan obsgyn. Rendi berjalan di samping Nida dan memegangi tangan istrinya erat. Senyum tak lepas menghiasi bibirnya. Dia sangat bahagia, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Nida masuk ke ruang pemeriksaan untuk melakukan USG. Dia memang positif hamil. Usia janinnya masih sekitar 10 hari. Dokter menjelaskan kalau gejala yang di alami oleh Nida sangat wajar di rasakan oleh ibu hamil di trimester pertama. Dia juga meminta kepada Rendi agar menjaga istrinya dengan baik, agar kehamilan nya berjalan lancar. Kedua nya keluar, setelah dokter memberikan vitamin kepada Nida.

__ADS_1


"Sayang,,kau lihat tadi,,,aku gembira melihat calon anak kita. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah. Terimakasih sayang, aku sangat mencintai mu", ucap Rendi sambil tak melepaskan pelukan nya dari Nida.


Dia sendiri hanya pura-pura tersenyum. Pikiran nya masih bingung mesti berbuat apa. Di depan ruang tunggu, Melisa harap-harap cemas menantikan hasil pemeriksaan. Dia terlihat pucat, tapi Rendi tampak tersenyum lebar dari dalam.


"Kau harus memberi ku selamat Mel, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah", ujar Rendi


sambil memeluk Melisa. Dia terlihat keheranan mendengar perkataan Rendi. Matanya mencoba memberi isyarat pada Nida yang di balas dengan anggukan.


"Ah....senang nya aku mau punya keponakan. Kau memang benar-benar macho. Tak sia-sia kalian bercinta siang dan malam. Akhirnya Rendi junior akan launching juga", teriak Melisa.


Dia sempat menarik perhatian pengunjung RS dengan kata-katanya. Nida pun terpaksa menutupi mukanya karena malu. Buru-buru dia mengajak Rendi untuk pulang.


"Berarti kalian akan tinggal lama di Bali kan?.


"Kami akan kembali naik travel saja. Masih banyak yang harus ku kerjakan. Aku sudah berkonsultasi dengan dokter tadi. Dia juga sudah memberi izin", jawab Rendi.


Rendi melihat raut wajah Nida yang masih terlihat pucat dan tak bertenaga. Mungkin dia tak nyaman, terlalu lama tinggal di kota orang. Semoga saja setelah kembali nanti keadaan nya akan berubah.


Melisa menurunkan Rendi dan Nida di hotel. Dia tak ikut masuk ke dalam. Lagi pula mereka juga harus berkemas untuk kepulangan nya ke Yogya.


"Sebentar aku kembali lagi. Jangan pulang sebelum aku sampai. Dan Nida, selamat atas kehamilan mu. Jaga diri baik-baik", ucap Melisa sambil menciumi kedua pipinya dengan gemas.


"Terimakasih atas semuanya Mel. Kau sungguh baik",jawab Nida lemah.


Rendi menggandeng tubuh Nida sampai ke kamarnya. Dia menyuruh istrinya berbaring, sementara dia yang berkemas.

__ADS_1


"Sayang, kau santai saja, biar aku yang bereskan semua nya. Melisa sudah memilih travel yang bagus untuk perjalanan kita nanti. Semua sesuai kondisi tubuh mu. Saat kau ingin istirahat, kau bisa minta berhenti pada sopir",ucap Rendi antusias.


"Maaf kan aku mas. Karena aku, kau jadi repot begini. Harusnya kita sudah kembali. Tapi, kondisi badan ku sangat, sangat tidak mau di ajak kerjasama",ucap Nida lirih.


"Kau tak bersalah sayang. Justru aku bahagia kau sudah memberiku hadiah yang tak ternilai harganya", jawab Rendi lagi.


Dia berusaha menghibur Nida sambil memasukkan baju ke dalam koper. Emosi istrinya sangat tidak stabil. Mood nya juga berubah-ubah akibat pengaruh hormon kehamilan nya.


Nida memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan serta panggilan dari Eri. Sudah seminggu lebih dia kembali duluan ke Yogya. Mungkin saat ini dia tengah berada di kampus untuk kuliah.


Ini pula salah satunya yang di pikirkan oleh Nida. Pernikahan ini saja sudah sangat melukai hatinya. Apa jadinya kalau dia tahu Nida mengandung buah hati Rendi. Nyatanya, keduanya masih saling cinta. Besar harapan Eri, Nida akan segera berpisah dengan Rendi. Tapi, dengan adanya bayi ini, pupus sudah semua harapan mereka berdua. Paling tidak harus menunggu sampai bayi Rendi lahir baru bisa berpisah dengan nya.


Nida masih melamun saat Rendi turun ke lobbi membawa koper mereka. Setelah selesai, dia meminta Nida untuk segera bersiap. Keduanya akan pulang ke Yogya malam ini juga. Perjalanan di malam hari tidak terlalu melelahkan. Mereka bisa tidur di jalan.


Saat Nida dan Rendi turun, Melisa sudah tiba. Dia membelikan banyak oleh-oleh untuk keluarga di Yogya. Tak lupa Melisa juga membelikan bekal makanan bagi Nida di perjalanan.


"Kalian hati-hati di jalan. Dua hari lagi aku akan segera menyusul. Kabari aku begitu kalian tiba di rumah nanti", ucap Melisa sambil memeluk Nida dan Rendi bergantian.


"Terima kasih banyak Mel.Sampai jumpa lagi di Yogya nanti", ucap Rendi.


...Kedua nya masuk ke dalam mobil dan melambai kan tangan pada Melisa. Perjalanan pulang kali ini mungkin akan terasa melelahkan. Nida harus...


bersiap dengan semua resiko yang akan dia hadapi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2