
Pagi-pagi sekali Nida sudah bangun. Di lihat nya Rendi masih terlelap. Nida buru-buru berganti pakaian dan keluar kamar. Dia yakin Rendi masih akan tidur lama, mengingat semalam dia sama sekali tak memejamkan mata. Rendi tahu betul cara memanfaatkan waktu bulan madu bersama istrinya. Hampir sepanjang malam Rendi menggauli Nida. Seolah dia tak pernah merasa puas. Bahkan, keduanya baru tertidur menjelang pagi hari.
Nida berjalan menuju pantai. Rencananya dia akan menemui Eri. Nida sudah meninggalkan pesan untuk Rendi bila dia terbangun dan mencarinya nanti. Mereka hanya akan bicara singkat saja.
Nida mempercepat langkah nya saat dia melihat Eri berdiri di dekat karang. Begitu sampai, Nida terkejut karena Eri langsung memeluknya.
"Lepaskan Eri, jangan seperti ini. Bisa gawat kalau Rendi sampai melihat nanti", ujar Nida cemas.
"Kau diam dulu sayang. Sebentar saja, biarkan aku memeluk mu. Aku sudah tak kuat menahan kerinduan ku padamu", bisik Eri di telinga Nida.
Nida berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Eri. Dia merasa tak enak kalau sampai di lihat orang.Sementara Eri menatap tajam Nida. Dia keheranan melihat perubahan sikap nya tersebut.
"Jaga sikap mu Eri. Aku ini sudah menjadi istri orang. Jangan sampai kita membuat skandal",
ucap Nida berusaha memberi penjelasan.
"Aku tidak perduli. Aku yang lebih dulu memiliki mu. Sampai kapan pun tak akan ada yang bisa merebut mu dari ku, tidak juga laki-laki brengsek itu", teriak Eri dengan marah.
"Aku tahu itu Eri, tapi situasinya sudah berbeda sekarang. Kehormatan ayah ku di pertaruhkan. Dan aku terpaksa harus melakukan ini", ucap Nida.
Dia sudah mulai terisak. Bagaimanapun keduanya sudah sangat lama menjalin cinta. Tidak akan mudah menghapusnya dalam waktu semalam saja.
"Ceraikan dia!!!. Aku bahkan hampir gila setiap kali melihat nya menyentuh diri mu. Atau, kau memang sudah mulai terbiasa menjadi istrinya?",
teriak Eri marah.
"Itu tidak benar Eri. Hanya aku saja yang tahu bagaimana tersiksanya diri ku saat ini. Ibuku sendiri telah berbohong dan menjual diri ku demi untuk mendapat kan uang.Aku sangat menderita.
__ADS_1
Orang yang ku sayangi dan ku hormati, tega sekali melakukan ini kepada ku".
Nida tak lagi bisa membendung air matanya. Hanya pada Eri, dia bisa mengungkap kan semua hal yang mengganjal di hatinya. Eri merengkuh tubuh Nida dan memeluknya. Nida menumpah-
kan air mata membasahi jaket Eri. Rasanya sungguh lega bisa meluapkan sesak di hati, setelah beberapa hari ini Nida memendamnya.
"Aku akan menikahi mu secepat nya. Urus perceraian kalian setelah pulang dari sini", ucap Eri memutuskan.
Nida melepaskan pelukan nya dan menatap balik mata Eri. Ada kesungguhan di balik ucapan nya. Tapi, Nida cukup tahu diri. Dia tak mungkin menghancurkan masa depan Eri begitu saja.
"Jangan khawatirkan aku, selesaikan kuliah mu dulu. Untuk saat ini, hal itu jauh lebih penting dari apapun. Orang tua mu menaruh harapan besar padamu. Jangan sampai kau menyia-nyiakan
kepercayaan mereka", lanjut Nida.
"Apa artinya menjadi sukses kalau tanpa diri mu di samping ku Nida. Aku bisa melanjutkan kuliah walaupun sudah menikah", teriak Eri lagi.
"Kau tak akan mengerti Eri. Semua tak akan sama saat fokus mu pada pendidikan sudah terbagi. Ku
Eri kembali merengkuh tubuh Nida. Mereka berpelukan cukup lama. Hingga Nida akhirnya melepaskan pelukan nya dan hendak kembali ke hotel. Eri menahan tangan Nida dan menciumnya lembut.
"Kita masih bisa terus bertemu kan?. Aku tak akan tahan kalau harus menanggung rindu terlalu lama", ujarnya pada Nida.
Nida mengangguk dan tersenyum. Dia berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Eri di depan batu karang. Ada bulir air mata yang mengalir di pipi nya. Semua tak lagi sama sekarang. Bahkan Nida sudah tak punya lagi sesuatu yang bisa di banggakan pada Eri. Yang tersisa hanyalah janji tulus dan setia di hatinya.
Mata Rendi masih terpejam, tapi tangan nya meraba tempat tidur di sebelahnya. Saat menyadari kalau istrinya tidak ada, barulah Rendi bangun dan berteriak memanggil Nida.
"Sayang,,,apa kau di kamar mandi?". Tanya Rendi.
__ADS_1
Tak ada sahutan sama sekali. Rendi pun segera bangun dan mengambil handuk untuk di lilitkan di tubuhnya. Dia melihat jus jeruk dan roti bakar di meja samping tempat tidur. Di sertai dengan secarik kertas bertuliskan pesan dari Nida.
Rendi duduk di tepi ranjang dan meminum jus jeruk nya setelah membaca pesan Dena. Tak seberapa lama terdengar suara pintu di buka. Dena masuk ke dalam kamar sambil tersenyum.
"Harusnya kau bilang kalau ingin jalan-jalan, aku bisa menemani mu", ucap Rendi.
"Kau masih tidur, aku tak tega membangunkan mu. Lagipula aku hanya sebentar. Hanya ingin mencari udara segar", jawab nya sambil mengambil segelas air putih dan meminum nya.
"Lain kali jangan pergi sendiri. Aku tak mau terjadi sesuatu pada mu, ujar nya lagi.
Rendi meletakkan gelas kosongnya dan berjalan ke kamar mandi.Tak berapa lama, terdengar gemericik air shower yang sedang di gunakan Rendi untuk mandi. Nida pun segera memesan sarapan untuk mereka berdua. Mungkin saja Rendi sedikit kesal karena sedang lapar.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, keduanya
lanjut sarapan pagi. Rendi menyuruh Nida untuk bersiap. Hari ini mereka berdua akan jalan-jalan dan membeli oleh-oleh. Rendi sudah bosan selama dua hari berada di kamar hotel nya. Saat nya menyenangkan hati Nida dengan mengajak nya berbelanja.
Tak banyak kata yang terucap dari mulut Nida. Dia segera menuruti kemauan suaminya.Lagi pula perasaan nya masih kacau setelah bertemu dengan Eri tadi. Dia tampak seperti boneka. Tubuhnya bersama Rendi, sedang hatinya bersama Eri.
Sementara Nida masih berbulan madu di Bali, bu Norma tampak gelisah. Sedari tadi dia tampak mondar-mandir di ruang tamu. Keluarga mereka sedang berkumpul saat hari Minggu seperti ini.
Bukan tanpa alasan, bu Norma merasa gelisah. Sejak semalam ponsel Nida sudah aktif. Tapi dia tak kunjung membalas pesan nya ataupun menelpon dirinya. Padahal bu Norma sudah ingin menyampaikan berita gembira untuknya.
"Sudah lah bu, biarkan Nida menikmati bulan madu bersama suaminya. Jangan ganggu dia lagi", ujar Bapak kesal.
"Bapak ini gimana, ibu justru ingin memperbaiki kesalahan ibu. Nida harus bercerai dengan Rendi sekarang juga", lanjut bu Norma tanpa rasa bersalah.
Mendengar kata-kata bu Norma, bapak dan kedua kakak perempuan Nida sungguh terkejut.
__ADS_1
Mereka tak habis pikir dengan ide gila yang di lontarkan oleh ibunya. Apa lagi yang ada di benak wanita itu kali ini. Ketiga orang itu sungguh tak bisa memahaminya.
...****************...