
Dengan hati-hati, Rendi membaringkan tubuh Nida di atas ranjang. Suasana angin pantai yang bertiup kencang menambah Rendi semakin bergairah. Dia tak sabar untuk bercinta dengan Nida malam ini. Setelah sekian lama mereka tidak melakukan nya. Kondisi Nida yang hamil muda membuat Rendi terpaksa menahan keinginan nya.
Kali ini pun Nida hanya bisa pasrah. Semua yang di lakukan nya hanyalah sebatas menunaikan kewajiban. Walau terkadang di akuinya saat-saat bercinta dengan Rendi ada sisi nikmatnya. Tubuhnya dia persembahkan seluruhnya untuk Rendi. Karena saat nafsu sudah menguasai diri, logika tidak lagi berpikir jernih. Bahkan kita bisa sangat bertingkah memalukan, di luar nalar kita. Meskipun setelahnya kembali lagi hati Nida seperti enggan menerima. Semacam ada rasa bersalah pada Eri yang notabene cinta pertamanya.
"Sayang, kau tak keberatan bukan, kalau kali ini kita melakukan nya. Aku sudah sangat menginginkan diri mu. Aku.....merindukan mu Nida!!", bisik Rendi sambil sibuk mencumbui istrinya.
"Iya mas,,, maafkan aku untuk beberapa hari ini karena tak bisa melayani mu. Kali ini, kau boleh lakukan apapun padaku mas. Aku milik mu malam ini", balas Nida memberi lampu hijau.
Tanpa pikir panjang lagi, Rendi pun segera beraksi. Dia melucuti baju istrinya satu-persatu dengan satu tangan. Seolah dia sudah menjadi ahli sekarang.Rendi langsung saja ******* bibir dengan begitu bernafsu. Keduanya sudah bergumul di atas ranjang dengan nafas berpacu.
Dalam cottage yang sepi, terdengar suara ******* dan erangan yang saling bersahutan.
Rendi tersenyum lega karena hasratnya terpuaskan. Dengan hati-hati dia berbaring di samping Nida sambil mencium perut nya lembut.
"Kau tidak merasa kesakitan kan sayang?", tanya Rendi sambil tetap membelai perutnya, seakan enggan untuk melepaskan.
"Tak apa mas, aku yang minta maaf karena sejak
kemarin kondisi tubuh ku sedang tidak baik", bisik Nida lirih. Tubuhnya lemas tak bertenaga sehabis melayani suaminya. Sekarang bahkan kepalanya terasa pusing dan perutnya mulai mual. Nida berusaha menahan nya agar tidak menimbulkan rasa tak nyaman bagi Rendi.
Rendi membetulkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Beberapa saat yang lalu dia sudah terlihat terlelap. Mungkin saja dia kecapaian setelah aktivitas intim keduanya tadi. Rendi pun langsung bangun dan mengenakan celana boxer nya. Dia menelpon restoran untuk memesan makanan bagi mereka berdua.
Sudah hampir jam 7 malam. Rendi sudah mandi dan mengenakan pakaian nya kembali. Di lihatnya Nida masih terlelap di atas tempat tidur.
Sesaat kemudian tubuhnya menggeliat bangun.
Dia tertunduk malu, memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya. Tatapan Rendi tajam, mengarah kepadanya.
"Kau cantik sekali sayang. Benar kata orang kalau ibu hamil selalu terlihat cantik", ucap Rendi sambil mendekati istrinya.
__ADS_1
"Kau curang mas, kenapa tidak membangunkan ku. Bukan nya kita harus kembali. Besok kau sudah mulai ke kantor bukan?", tanya Nida.
Bukan nya menjawab, Rendi malah menyambar bibir Nida dan mencium nya dengan hangat.
Cukup lama Rendi menikmati momen langka tersebut sampai dia kemudian melepaskan bibir istrinya ketika nafas nya mulai tersengal.
"Mandi lah sana, lalu kita makan dan pulang ke apartemen. Kau tidak terlalu capek bukan?", tanya Rendi sambil menepuk pantat Nida yang mulai kelihatan berisi.
"Iya.....tunggu aku sebentar mas. Aku tak akan lama", jawab nya sembari membetulkan letak selimut yang membungkus tubuhnya.
Di dalam kamar mandi, Nida mengguyur tubuh nya. Air dingin yang menetes dari shower mampu meredakan galau di hatinya. Setiap kali habis bercinta dengan suaminya, Nida selalu merasa bersalah.
Hatinya belum bisa menerima, tapi tubuhnya juga tak pernah bisa menolak sentuhan panas Rendi.
Entah sampai kapan dilema ini akan berlanjut. Bahkan Nida belum sekalipun bicara serius dari hati ke hati dengan Eri.Hanya saja sampai saat ini, hatinya masih tertaut dengan nya.
"Mas,, tentang....ucapan ibu tadi, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tak menyangka dia bisa setega itu pada ku", ucap Nida hati-hati.
"Jangan bahas hal itu lagi sayang. Mulai sekarang jangan dengar perkataan ibu mu. Kau hanya harus patuh pada ku saja".
"Demi kesehatan bayi mu, lebih baik kau jangan berhubungan dengan ibu mu dulu. Tidak telepon atau pun juga bertemu. Kau mengerti kan?".
"Aku tak mau kau stress dan mempengaruhi bayi kita nanti", ucap Rendi tegas.
Nida mengangguk. Ultimatum dari Rendi sudah cukup jelas baginya. Mulai hari ini dan seterusnya, Nida harus berhenti jadi boneka dalam keluarganya. Sudah cukup kesabaran nya selama ini. Ucapan Rendi memang sungguh tepat bagi jiwa nya yang sedang bimbang.
Nida terdiam. Tatapan nya fokus ke arah jalanan.
Lampu-lampu kota yang tampak gemerlapan, menandakan kalau mereka sudah hampir sampai
__ADS_1
ke apartemen. Nida memandang wajah Rendi yang tampak lelah. Bagaimana tidak, demi menyenangkan hatinya, dia rela membawa Nida mencari angin segar ke pantai. Demi menghilangkan kesedihan di hatinya.
"Kita sudah sampai sayang. Kau turun lah dulu, biar aku order makanan untuk kita", ucap Rendi sesaat setelah memarkir mobil di basement.
"Bukan nya kita sudah makan tadi", ucap Nida protes.
"Yang ku dengar, ibu hamil kerap kali lapar. Untuk berjaga-jaga bila anak kita nanti malam minta makan", sahut Rendi sambil tersenyum.
Nida turun dan menunggu sampai Rendi selesai menelpon. Setelah itu mereka naik ke apartemen bersama. Nida merasakan perhatian Rendi luar biasa besar terhadapnya. Hal kecil pun tak luput dari pemikiran nya.
"Istirahat lah, aku tahu kau pasti capek", ucap Rendi setelah keduanya masuk ke dalam.
"Mas,,apa aku harus seharian berada di kamar ini kalau kau kerja nanti?", tanya Nida hati-hati.
"Memang nya kau mau kemana?. Tak baik ibu hamil bepergian sendirian", jawab Rendi.
"Aku pasti bosan, terkurung di tempat ini sepanjang waktu. Kalau boleh, aku ingin sesekali keluar, ke taman atau main ke tempat kerja ku", ucap Nida meminta izin.
"Kita lihat saja nanti. Tidur lah sekarang, ini sudah larut malam. Aku masih ada sedikit pekerjaan. Sebentar lagi aku menyusul", ucap Rendi sambil masuk ke ruang kerjanya.
Dia mengambil ponsel dari saku dan menghubungi seseorang. Orang itu adalah kaki tangan nya yang handal.
"Selidiki sekarang juga, lelaki mana yang bersedia membayar mahal untuk mendapatkan istri ku. Tak mungkin bu Norma kukuh menceraikan aku dan Nida kalau dia belum punya calon", perintah Rendi tegas.
"Aku akan transfer uang transport untuk mu. Sisanya setelah kau serahkan laporan mu di meja ku", lanjut nya sambil menutup telepon.
Seorang Rendi tak akan tinggal diam kalau urusan nya di usik. Sekalipun itu mertuanya sendiri. Dia akan mencari tahu hingga menemukan kebenaran nya.
...****************...
__ADS_1