
Nida memandang matahari tenggelam dari atas balkon kamar hotel. Sungguh indah bisa melihat
pemandangan cakrawala tenggelam di ufuk barat. Nida begitu takjub menyaksikan ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Nida begitu terpesona hingga tak sadar kalau Rendi memeluknya dari belakang. Keduanya berdiri cukup lama di atas balkon. Menikmati suasana senja dan suara gemuruh ombak di lautan.
Angin laut yang kencang menerpa wajah Nida. Rambutnya terlihat berantakan. Rendi pun melingkarkan lengan nya agar Nida tidak kedinginan.
"Kita masuk sayang, angin di sini cukup kencang.
Aku tak mau kau sakit nanti", ucap Rendi mesra.
"Aku suka suasana seperti ini. Tenang, sunyi, sepi, yang terdengar hanya deburan ombak di tepi pantai. Sungguh hatiku merasa damai", ucap Nida menimpali.
"Selera kita sama rupanya. Aku juga kurang begitu suka dengan keramaian. Makanya aku sengaja memilih tempat ini".tambah Rendi.
Melihat Nida tak beringsut sedikit pun dari tempatnya, Rendi pun langsung membungkuk dan menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.
"Lepaskan aku mas, aku masih ingin menikmati angin malam", teriak Nida.
"Aku tak suka di bantah.Mulai sekarang kau harus mendengarkan ucapan suami mu. Aku bukan tipe orang penyabar", lanjut Rendi.
Dia masuk ke kamar dan menurunkan Nida di ranjang. Lengan Rendi yang kekar mengungkung
tubuh Nida di bawah nya. Bibir mereka saling bertautan menciptakan gelenyar hangat di tubuh keduanya.
Tanpa di sadari, diam-diam sepasang mata mengawasi mereka dari tadi.Dia menyaksikan kedua pasangan tersebut tengah merajut kemesraan. Wajahnya memerah menahan rasa cemburu di hatinya.
Eri tak bisa tenang. Entah sudah berapa kali dirinya keluar masuk kamar. Balkon di sebelah kamar Eri masih kosong. Menandakan kalau si empunya kamar tengah menghabiskan waktu berdua di dalam.
"Aku bisa gila kalau seperti ini.Secepatnya aku harus bisa menemui Nida. Dia tak bisa mengabaikan ku begitu saja", sungut Eri marah.
Malam belum begitu larut saat pasangan pengantin ini baru saja menyelesaikan sesi pertama penyatuan mereka. Setelah percintaan yang menguras energi, Nida dan Rendi turun ke lobbi hotel untuk makan malam. Perut nya sudah lapar dari tadi. Tak heran kalau Rendi dan Nida mengambil porsi makan lumayan.
__ADS_1
"Habiskan makan mu sayang, aku tak mau nanti malam kau pingsan. Kau butuh banyak energi
jika ingin olahraga malam", ucap Rendi sambil mengerling nakal ke arah Nida.
Ekspresi wajah Nida berubah memerah seketika.
Baru saja mereka selesai melakukan nya, dan Rendi sudah menagih lagi.
"Pelan kan ucapan mu, apa kau tidak lihat di sini banyak orang?. Aku malu kalau mereka sampai mendengar ucapan mu", jawab Nida.
"Memangnya kenapa, biar saja mereka tahu kalau kita ini pengantin baru. Lagi pula apa salahnya, aku mengatakan ini pada istri ku sendiri", Elak Rendi sambil menyendokkan Nasi ke mulutnya.
"Sudah lah....lupakan, tak ada gunanya berdebat
dengan mu", ujar Nida merajuk.
Rendi pun meletakkan sendok nya ke dalam piring. Dia lalu meraih tangan Nida dan mencium nya dengan lembut.
"Tak perlu malu sayang. Aku beruntung memiliki istri seperti diri mu. Kalau perlu, biarkan orang-orang itu tahu bahwa aku sangat mencintai mu. Dan aku akan selalu memberi kebahagiaan kepadamu", rayu Rendi selanjutnya.
Eri melihat kedua pasangan pengantin tersebut sedang makan juga di lobbi. Tampaknya Rendi tak pernah membiarkan Nida sendirian barang sedetik pun. Kemana pun keduanya selalu terlihat bersama. Kalau hal ini terus berlanjut, Eri tak akan punya kesempatan berbicara dengan
Nida walau sebentar saja.
Akhirnya kesempatan itu datang juga. Nida terlihat berjalan ke toilet. Tanpa menunggu lama, Eri pun bergegas menyusul Nida. Sampai di depan toilet wanita, dari belakang Eri menggamit lengan Nida dan membawanya masuk ke dalam
toilet.
"Apa-apa an ini, jangan kurang ajar, atau aku akan berteriak!!", maki Nida.
"Ssttt...ini aku. Pelan kan suara mu atau mereka akan mendengar kita",ucap Eri sambil melepaskan dekapan tangan nya di mulut Nida.
"Kau.....dari mana kau tahu kalau kami pergi ke Bali?", tanya Nida lagi.
__ADS_1
"Dengarkan aku sayang, besok pagi temui aku di pinggir pantai dekat karang. Kita harus bicara. Aktif kan ponsel mu. Tunggu sampai aku menghubungi mu nanti", lanjut Eri sambil membuka pintu toilet dan langsung keluar meninggalkan Nida.
Dia masih termangu di toilet,seakan tak percaya.
Benar kah yang menemuinya tadi adalah Eri?.
Ah....tentu saja itu benar karena seharus nya mereka berdua yang berada di tempat ini sekarang. Nida sungguh tak menyangka kalau Eri nekat menyusul nya kesini.
Nida kembali dari toilet dan berjalan menuju mejanya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Eri tampak tersenyum di pojokan sambil menatap dirinya.
Sejenak Nida merasa bersalah saat melihat wajah Eri. Dia sudah mengkhianati cinta mereka berdua.
Rendi sudah mengambil haknya sebagai seorang suami. Nida tak punya apa-apa lagi yang bisa di banggakan di hadapan Eri.
"Aku sudah selesai mas. Kita kembali ke kamar saja sekarang",ucap Nida setelah kembali dari toilet.
Rendi pun berdiri dan langsung menggandeng tangan istrinya. Keduanya beriringan menuju kamar. Nida merasa risih kali ini dengan perlakuan Rendi. Tatapan tajam Eri mengikuti langkahnya keluar dari restoran.
Nida buru-buru membuka tas make up nya ketika sudah sampai di kamar. Dia mencari ponselnya yang sudah beberapa hari mati. Nida mengambil kabel carger untuk mengisi baterai ponsel miliknya.
"Tumben kau mengeluarkan ponsel mu. Apa ada urusan yang penting?, tanya Rendi.
"Tidak mas, aku hanya mengisi baterai nya supaya tidak rusak dan mati", jawab Nida.
"Itu memang ponsel lama sayang. Biarkan saja kalau memang sudah rusak. Besok pagi aku akan belikan ponsel baru untuk mu".
"Ini masih bisa di pakai mas, tak usah. Lagipula aku masih sayang. Ponsel ini ku beli dengan hasil jerih payah ku sendiri".
"Aku tak mau dengar alasan. Pokoknya besok pagi kita beli ponsel untuk mu", lanjut Rendi sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Nida menghidupkan layar ponsel yang sudah beberapa hari sengaja di matikan. Banyak sekali panggilan dan chat yang masuk. Satu-persatu Nida membuka semuanya. Termasuk panggilan masuk dan chat dari Rendi.
Nida pun mengetikkan pesan dan langsung di kirimkan kepada Rendi. Mereka saling berbalas chat. Sementara Rendi juga sedang asyik menatap layar ponsel miliknya. Sesekali Rendi tersenyum tak jelas. Sementara Nida sendiri merasa was-was, takut kalau Rendi mengetahui dengan siapa Nida berbalas pesan.
__ADS_1
...****************...