AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 4.


__ADS_3

Acara pernikahan Nida dan Rendi berlanjut dengan resepsi di rumah bu Endang. Pesta yang meriah, mengingat keluarga Rendi adalah orang kaya. Dan di sini lah Nida sekarang. Terjebak di kamar hotel mewah di malam pengantin nya.


Rendi masih ada di ballroom berpesta bersama teman-teman nya. Nida sendirian di dalam kamar hotel. Dia sudah berganti pakaian dan menghapus riasan wajahnya. Nida membuka koper dan mencari ponsel miliknya.


Nida sudah mengacak-acak isi tas nya, namun ponsel itu tak kunjung di temukan. Nida sudah putus asa, sampai dirinya melihat kerlip lampu di tas make up nya. Saat di buka, ponselnya memang tersimpan di situ.


Seharian ini Nida memang tak memegang handphone. Dia pun segera menghidupkan layar ponsel. Banyak sekali panggilan dan pesan dari Eri. Nida membuka satu-persatu pesan yang di tulis Eri. Tak berapa lama, dia menekan tombol panggilan dan menelpon Eri.


"Ayo....angkat telpon nya Eri", bisik Nida lirih.


Dia ingat betul kalau saat ini seharusnya mereka berlibur ke Bali. Mungkin saja Eri masih marah karena ulah ibu padanya tadi siang. Jadi dia tak mau mengangkat telepon dari Nida. Atau malah Eri berangkat sendirian ke Bali saat ini.


Nida buru-buru menyembunyikan ponsel nya saat mendengar suara pintu di buka dari luar. Rendi masuk ke dalam kamar dengan sedikit mabuk. Dia tersenyum melihat wajah Nida.


"Kau kelihatan cantik sekali memakai baju itu sayang", ujar nya. Matanya tak berkedip memandang tubuh Nida. Dia memang hanya mengenakan gaun tidur transparan yang sudah di


siapkan di kamar hotel. Tak ada pilihan lain karena isi koper nya hanya baju-baju resmi saja.


Nida terlihat salah tingkah karena terus menerus di tatap Rendi. Meskipun sekarang dia sudah jadi suaminya, namun Nida masih belum mengenalnya dengan baik. Dia juga sangat malu sekali dengan penampilan nya saat ini.


"Aku capek sekali mas, aku boleh tidur sekarang kan?", tanya Nida kemudian.


"Tentu saja...tidur lah, aku akan ke kamar mandi dulu", jawab Rendi gugup.


Dia melepas jas dan sepatunya, kemudian melangkah ke kamar mandi. Di lihatnya Nida sudah berbaring di bawah selimut. Rendi pun menyusul naik ke atas ranjang.


"Apa kau sudah tidur Nida?", tanya Rendi.

__ADS_1


"Belum mas", jawab Nida masih dengan posisi membelakangi Rendi.


"Setidaknya kita bisa ngobrol kan?. Aku belum begitu mengenal diri mu. Dan ku rasa semua ini begitu cepat terjadi",sambung Rendi lagi.


Nida heran mendengar ucapan Rendi. Bukan nya


keluarga Rendi yang mengancam ibu agar segera melangsungkan pernikahan. Lantas, kenapa ucapan Rendi seolah memutar balikan fakta.


Nida bangun dari tempat tidur. Dia duduk bersandar di ranjang, lalu menatap wajah suaminya.


"Maaf mas, bukan nya keluarga mas Rendi yang ingin supaya kita segera menikah. Dengan begitu hutang ibuku terhadap ibu mu bisa lunas".


"Siapa bilang ibu mu punya hutang?. Justru keluarga ku memberi uang yang besar sebagai mahar tambahan untuk mu",lanjut Rendi lagi.


"Malam itu ibu mu bilang kau akan mengakhiri hidup mu kalau tidak bisa menikah dengan ku. Aku sungguh terharu melihat besar nya cinta mu padaku. Makanya orang tua ku langsung setuju".


"Kenapa kau tidak menolak kalau memang tidak suka pada ku. Atau kau memang merasa kasihan pada ku bila yang di sampaikan ibu benar. Begitu mudahnya kau percaya kalau aku akan bunuh diri


tanpa bertanya dulu pada ku", lanjut Nida menghakimi.


"Apa semua yang di katakan ibu mu bohong?. Coba kau lihat ini. Dia mengirim rekaman video padaku malam itu. Ah.....sialan, aku bisa menuntut ibu mu kalau semua ini tidak benar".


Nida menyimak video dirinya sedang berakting dengan kakaknya untuk keperluan sebuah konten waktu itu. Mereka sudah merencanakan dengan baik untuk menyingkirkan dirinya dari rumah. Tapi, tuntutan hukum terhadap ibunya. Tentu saja Nida tidak akan tega. Bagaimanapun wanita itu adalah orang yang melahirkan nya. Jalan terbaik adalah menerima semua ini dan mulai berdamai dengan keadaan.


Konsekuensi nya, Nida harus berpura-pura mencintai Rendi. Harga diri keluarganya di pertaruhkan. Paling tidak Nida bisa melakukan pengorbanan ini demi ayahnya.


"Ah....aku terlalu malu untuk mengakui semua ini.

__ADS_1


Semua yang di katakan ibu ku memang benar Rendi. Aku ini wanita yang menyedih kan", lanjut Nida memulai sandiwara nya.


Rendi menatap wajah istrinya. Raut wajahnya merona merah.Rendi meraih kedua tangan Nida dan mencium nya mesra.


"Aku tak menilai mu seperti itu sayang. Justru aku bahagia melihat kesungguhan cinta yang kau tunjuk kan. Aku berjanji mulai saat ini dan selamanya, akan selalu membuat mu bahagia", ucap Rendi dengan pasti.


Entah cerita apa lagi yang sudah di karang oleh ibunya mengenai Rendi dan Nida di masa lalu. Yang jelas Nida hanya bisa pasrah saat Rendi mulai mencium kening nya. Tidak berhenti sampai di situ. Ciuman Rendi berlanjut ke bibir Nida. Tangan nya membelai rambut Nida yang tergerai.


Nida tak kuasa menolak.Dia hanya bisa pasrah saat Rendi meminta hak nya sebagai suami di malam pertama. Pagutan bibirnya semakin dalam sambil tangannya menanggalkan gaun


tidur yang di kenakan Nida.Tubuh putih dan mulus Nida mulai di jelajahi tangan bebas Rendi.


Nida menggeliat. Sentuhan panas Rendi membangkitkan gairah nya. Rendi menghentikan permainan lidahnya. Bibirnya bergerilya menyentuh titik sensitif di leher dan punggung Nida. Dia terhanyut dalam permainan asmara.


Nida bukan lah wanita lugu. Cukup lama berpacaran dengan Eri, keduanya juga sudah sering bermesraan. Tapi Nida dan Eri tahu batasan. Eri tipe pria yang menjaga kesucian cinta sampai ke jenjang permainan. Makanya wajar kalau Nida merasa kesakitan saat Rendi pertama kali menyetubuhi Nida.


"Hentikan mas,,,ini sakit sekali", rengek Nida.


Rendi menghentikan gerakan nya. Dia kembali mencium bibir Nida agar tidak lagi merasa kesakitan. Dalam hati Rendi senang karena ternyata istri nya masih perawan.


"Peluk tubuh ku sayang, aku janji akan melakukan nya pelan-pelan", bisik Rendi.


Nida menuruti ucapan Rendi. Keduanya lantas meneruskan aktivitas intim hingga mencapai puncak kenikmatan.


"Oh.....sayang,, kau nikmat sekali. Aku mencintai mu istri ku", erang Rendi. Tubuhnya tergeletak di samping Nida dengan nafas yang masih memburu. Dia merasa sangat puas menikmati malam pertamanya, walaupun dia merasa kelelahan.


Rendi meraih tubuh Nida untuk memeluknya. Di cium mesra kening istrinya itu. Tak berapa lama, deru nafasnya mulai teratur. Rendi tertidur setelah menyelesaikan pertempuran panas dengan Nida.

__ADS_1


__ADS_2