
Saat ini Eri masih duduk di ruang tamu rumah Nida bersama dua koper berisi tumpukan uang yang dia bawa. Ibu Nida meraih ponsel dan segera menghubungi putri nya. Tidak ada jawaban sama sekali, karena memang Nida masih menyembunyikan ponselnya. Tak berapa lama, ibu Nida melanjutkan pembicaraan nya dengan Eri.
"Beri aku waktu nak Eri. Aku akan mengembalikan Nida pada mu. Saat ini mungkin dia sedang berada di pesawat. Nida dan suaminya akan berbulan madu ke Bali", lanjut wanita tersebut.
Mendengar hal itu, Eri langsung berdiri dan membawa kedua koper miliknya. Dia akan menyusul Nida ke Bali hari ini juga. Tiket penerbangan nya masih bisa di tukar kan. Untuk itu dia pun segera bergegas keluar rumah.
"Kau boleh mengambil uang ini dengan membawa surat cerai dari putri mu. Temui aku secepatnya, sebelum aku berubah pikiran nanti".
ucap Eri di telinga bu Norma. Ibu jahat dari wanita yang sangat di cintainya.
Setelah Eri pergi, bu Norma berusaha menghubungi Nida. Tapi rupanya Nida masih mematikan ponsel miliknya. Tak hilang akal, bu Norma lantas menelpon Rendi.
Keduanya masih berada di ruang tunggu VIP bandara. Jadwal penerbangan di tunda akibat faktor cuaca. Alhasil mereka berdua harus bersabar menunggu jadwal penerbangan selanjut nya.
"Sayang, ibu mu menelpon ku. Apa kau mau bicara dengan nya", tanya Rendi sambil menunjukkan layar ponsel pada Nida.
"Biar kan saja, tak usah di angkat. Aku sedang malas bicara dengan ibu. Kecuali kalau kau memang ingin berbicara dengan ibu ku, silahkan", lanjut Nida.
Rendi pun langsung menutup telepon nya.Nida benar, seharusnya ibu tahu kalau mereka sedang berbulan madu. Kecuali ada hal penting, siapa pun di larang menghubungi pasangan pengantin baru tersebut.
Tak berapa lama kemudian, para penumpang di persilahkan menaiki pesawat. Mereka akan segera take off. Rendi dan Nida pun bergegas naik. Di belakang keduanya, Eri melenggang masuk ke dalam pesawat.
Tempat duduk Eri dan Nida berseberangan. Tanpa di sengaja, mata Eri melihat sosok gadis yang tak asing baginya. Walaupun Nida mengenakan kaca mata, topi dan syal, Eri mampu mengenalinya dengan baik.
Di sebelah Nida tampak seorang laki-laki yang sedari tadi menggenggam erat tangan Nida. Mungkin saja itu adalah suaminya. Eri terus saja memperhatikan keduanya. Terlihat jelas kalau sebenarnya Nida merasa risih dan sungkan dengan kemesraan yang di tunjuk kan oleh suami nya tersebut.
Eri begitu yakin kalau Nida tidak bahagia. Dia terpaksa menjalani pernikahan demi kedua orang tuanya. Entah kebohongan apa yang sudah di karang oleh ibunya, sehingga Nida terjebak bersama laki-laki seperti itu. Ingin rasanya Eri mendatangi dan memukul wajahnya. Tapi dia menahan diri agar tidak menimbulkan keributan.
__ADS_1
Sepanjang penerbangan, Eri benar-benar terbakar cemburu melihat keintiman pasangan tersebut. Suami Nida seperti nya tahu memanfaatkan situasi dengan baik. Walau pun Nida sepertinya tidak menyukai tingkahnya. Tapi Nida tak punya pilihan lain. Dia adalah korban dari ambisi ibu nya.Nida di jual pada lelaki kaya.
Sepanjang penerbangan, Nida tertidur. Tak terasa kalau pesawat nya sudah mendarat di Bandara Ngurah Rai. Rendi pun menggamit lengan Nida menuruni pesawat. Sementara Eri, dia menunggu sampai semua penumpang turun. Dia akan memberi kejutan pada Nida dan suaminya nanti.
Pasangan pengantin baru itu pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke hotel.Rendi sudah memesan kamar mewah dengan pemandangan eksotik di pinggir pantai. Tempat nya sangat cocok bagi pasangan pengantin baru yang tengah berbulan madu.Privacy mereka benar-benar terjaga. Keduanya bebas melakukan apa saja di kamar hotel tersebut.
Pasangan pengantin baru ini pun akhirnya sampai juga di hotel. Kamar mewah dengan fasilitas lengkap, serta pemandangan laut yang begitu indah.Nida berdiri di balkon. Merasakan semilir angin pantai yang menerpa wajahnya.
Rendi menyusul kemudian. Memeluk tubuh Nida dari belakang. Nafasnya hangat menyentuh leher jenjang Nida, yang masih penuh dengan tanda merah.
"Aku selalu suka laut. Entah kenapa hati ku merasa tenang saat menyaksikan deburan ombak. Seolah masalah ku ikut terhempas dan memecah menjadi buih", cerita Nida.
"Berarti pilihan ku tepat saat memesan kamar ini untuk kita. Kau bisa sepuas hati memandangi lautan lepas. Kau juga bisa menyaksikan sun set
dari sini", ucap Rendi menambahkan.
Hari-hari ke depan hanya ada dia dan suaminya.
Suka ataupun tidak suka, pilihan sudah di ambil.
Nida bahkan sudah menyerahkan segalanya. Dia tak bisa mundur lagi. Nida sudah terjebak dengan permainan hidup nya sendiri.
Sementara Nida masih menikmati pemandangan
tepi pantai, Eri masih harus berurusan dengan resepsionis hotel. Dengan koneksi dari orang tuanya, dia berhasil mendapatkan kamar di sebelah Nida. Balkon dengan pemandangan lepas pantai. Eri sungguh beruntung.
Di kamar sebelah, Nida dan Rendi sedang menikmati makan siang nya. Tampak sekali kelelahan di wajah istrinya. Rendi sadar kalau dia begitu keras pada istrinya tadi malam.
__ADS_1
"Sayang,,kita belum saling mengenal sebelum-
nya. Ku harap kau tak sungkan pada ku. Cerita-
kan tentang diri mu. Aku ingin tahu banyak tentang mu", ucap Rendi.
"Tak ada yang menarik mas, selain kita sama-sama menyukai laut. Selebihnya mungkin sudah di cerita kan oleh ibu ku bukan?".
"Aku bekerja di Matahari mall sebagai staf bagian penjualan.Aku tidak kuliah dan hanya tamatan SMK.Tentang sifat ku, kau akan mengetahui seiring berjalan nya waktu", tutur Nida.
"Rendi pun juga menceritakan tentang dirinya. Seorang pebisnis muda dari perusahaan terkenal.
Dia mengatakan hal-hal yang menjadi poin penting dalam hubungan mereka nanti. Karakter dan sifatnya serta semua hal yang melekat di dirinya. Semua dia sebutkan kepada Nida. Dengan seksama, Nida menyimak dan mengingat tentang Rendi.
Mereka akan memulai hidup baru. Nida tak ingin di awali dengan hal yang buruk. Walaupun memang pernikahan keduanya karena paksaan.
Nida ingin selanjutnya hubungan mereka di bangun dengan dasar kepercayaan dan cinta.
Rendi pun sependapat. Tak sulit baginya mencintai perempuan seperti Nida. Dia pandai sekali melayani suaminya di atas ranjang. Hal-hal yang lain, Rendi bisa mentolerir semua kekurangan dari istrinya.
Keasyikan bercerita, tanpa sadar Nida sudah tertidur. Semalam memang keduanya hanya beberapa jam saja memejamkan mata. Selebihnya pengantin baru itu menghabiskan malam dengan bercinta. Wajar saja kalau Nida langsung tertidur.
Rendi menatap wajah pucat istrinya. Di belai pipinya mesra. Mulai sekarang hidupnya sudah berubah. Wanita ini lah yang akan menghiasi hari-harinya ke depan. Semoga saja mereka bisa saling mencintai dan menerima satu sama lain.
Rendi pun akhirnya ikut terlelap di samping Nida dengan masih menggenggam tangan nya.
...****************...
__ADS_1