
Lagi-lagi Nida harus menyerah ketika kenikmatan yang di berikan oleh Rendi mampu melumpuhkan pikiran dan egonya. Yang ada hanya ******* nikmat, dan erangan manja yang tanpa malu meluncur dari kedua bibir mungil Nida. Entah kenapa setiap kali Rendi menyentuhnya, dia seperti hilang kesadaran.
Sesi pertama mereka di bak mandi siang ini berakhir dengan nikmat. Keduanya keluar memakai jubah mandi, masih dengan rambut basah. Keletihan sehabis jalan-jalan, di tambah percintaan yang panas, Nida pun langsung rebah, tertidur di atas sofa.
Cukup lama Nida tertidur, karena saat bangun, hari sudah petang. Dia tak melihat Rendi di samping tempat tidur nya. Nida berdiri dan keluar kamar, tapi dia juga tak menemukan keberadaan suaminya tersebut.
Nida meraih ponselnya dan mencoba menghu-
bungi Rendi. Ponsel nya tidak aktif sama sekali.
Mungkin saja dia sedang turun ke lobbi, saat dirinya tidur tadi. Kebetulan sekali ibu Nida menghubungi dirinya. Dia pun menjawab telepon dari ibu Norma.
"Ya bu, ini Nida", sahut Nida.
"Akhirnya....cepat pulang Nida, ada hal penting yang ingin ibu sampaikan", suara ibu di seberang sana kelihatan sangat cemas.
"Kenapa bu, apa bapak sakit,tolong jangan membuat ku cemas.
"Pokok nya kau pulang saja, ibu tunggu!",ucap ibu sambil mematikan sambungan telepon.
Ibu menutup telepon bahkan saat Nida belum selesai bicara. Kebiasaan ibu selalu begitu. Egois dan mau menang sendiri. Ibu memerintah seolah Nida sekarang masih sendirian saja. Seperti tak menganggap Rendi sebagai suaminya saja.
Nida kembali membuka layar ponsel. Dia mengirimkan foto Rendi yang sedang nongkrong di kafe. Melisa dan teman-teman nya rupanya juga ikut berkumpul.
"Kau bisa keluar sebentar?. Sepertinya suami mu sedang sibuk, jadi dia tak akan memperhatikan mu", bunyi chat Eri untuk Nida. Dia pun langsung mengetik kan balasan.
"Aku sedang kurang enak badan. Lain kali saja kita bertemu. Kepala ku pusing habis berkeliling tadi", balas Nida.
"Baiklah....istirahat saja. Jaga diri mu",tulis Eri lagi. Nida pun membalas dengan emotikon terima kasih.
Nida meletak kan ponsel di meja, dan segera berpakaian. Pikiran nya tengah kacau saat ini.
Ibu tak berhenti mengintimidasi walau sekarang dia sudah menikah. Itu pun dengan paksaan dari ibunya. Seolah-olah Nida barang yang layak untuk di perjualbelikan.
Nida mengambil segelas jus jeruk dari lemari es dan segera meminum nya. Tak seberapa lama, Rendi kembali dengan membawa bungkusan untuk Nida.
__ADS_1
"Rupanya kau sudah bangun sayang", ucap Rendi sambil mencium pucuk kepala Nida yang masih sedikit basah.
"Makan lah sayang, aku tahu kau pasti lapar", ucap Rendi sambil menyerahkan bungkusan berisi makanan dari kafe.
"Tadinya aku ingin mengajak mu bertemu Melisa di kafe bawah. Tapi ku lihat tidur mu sungguh nyenyak.Aku jadi tak tega membangunkan mu",
"Iya,,,kepala ku pusing sekali mas.Apalagi ibu ku tadi menelpon dan meminta kita segera pulang.
Saat ku tanyakan alasan nya, ibu langsung menutup telepon ku", ucap Nida gelisah. Makanan dari Rendi pun belum di bukanya.
"Dengar sayang, mulai sekarang kau hanya harus patuh pada ku saja, bukan pada yang lain. Biarkan saja ibu mu melakukan yang dia suka.
Tapi kau, jangan pernah menuruti perkataan ibumu kalau tanpa ijin dari ku", ujar Rendi mengultimatum.
Nida harus mengalah mendengar keputusan dari suaminya tersebut. Alih-alih pulang, nampaknya Rendi justru akan memperpanjang bulan madu mereka. Mungkin dia masih akan menyelesaikan proyek bersama Melisa.
"Makan lah,, wajah mu kelihatan pucat sekali", ucap Rendi lembut. Dia memegang kening Nida dan meraba suhu badan nya yang panas.
"Badan mu juga panas sekali sayang, sebaiknya
Rendi membopong tubuh Nida ke atas kasur dan langsung menyelimuti nya. Setelah itu dia segera mengambil ponsel untuk menelpon Melisa.
Dengan pandangan sayu,Nida menyaksikan suaminya begitu mengkhawatirkan keadaan nya. Dia juga cekatan dalam merawat istrinya.
"Sebenarnya kau sangat baik dan perhatian mas.
Hanya saja, di hati ku masih belum ada rasa cinta. Mungkin nanti mas, yang jelas untuk sekarang ini, semua yang ku berikan semata karena kewajiban saja. Maaf kan aku mas Rendi.
Segalanyan terlalu cepat. Bahkan pernikahan ini.
Aku masih belum bisa memberikan hati ku seutuh nya kepada mu", batin Nida.
Setelah memastikan Melisa akan datang membawa dokter, Rendi langsung menutup telpon dan menghampiri Nida. Melihat istrinya begitu lemas, Rendi membuatkan secangkir teh dan membuka makanan yang baru di belinya.
"Ayo.sayang, kau harus makan. Sini..bangun lah, biar aku yang suapi", ucap Rendi sambil membetulkan posisi bantal untuk tempat sandaran Nida.
__ADS_1
"Masalah nya, aku memang sedang tidak ingin makan mas. Mulut ku rasanya pahit sekali", ucap Nida lagi.
"Kau tetap harus makan, buka mulut mu", ujar Rendi sambil mengangsurkan sesendok nasi ke depan mulut Nida.
Nida membuka mulutnya dan berusaha menelan suapan makanan dari Rendi. Tapi, butuh perjuangan ekstra keras dari dirinya karena perutnya yang tiba-tiba mual dan terasa ingin memuntahkan makanan nya.
"Cukup mas, aku minum teh saja. Badan ku sedang benar-benar tidak nyaman", ucap Nida sambil menerima gelas teh dari Rendi dan meminumnya sedikit.
Tak berapa lama Melisa datang bersama dokter keluarga nya. Dia segera masuk dan memeriksa Nida.
"Bagaimana dokter, istri saya sakit apa?", tanya Rendi penasaran.
"Sepertinya asam lambung nya, tapi dari panas badan nya, saya curiga istri terkena tifus. Saya beri obat dulu, kalau dalam 3 hari tak kunjung membaik, terpaksa harus di rawat di RS", tutur dokter.
"Baik dokter, saya mengerti", jawab Rendi.
"Dan pastikan istri anda jangan bangun dulu dari tempat tidur. Serta beri dia makanan yang lembut
jangan juga pedas", ujar dokter lagi.
Rendi menyimak dengan seksama semua penjelasan dari dokter. Sementara Melisa menemani Nida di dekat ranjang. Dokter pun keluar di antar oleh Rendi sendiri.
"Kasihan sekali, mungkin Rendi terlalu keras padamu. Katakan pada ku kalau dia tak memberi mu waktu tidur dengan baik. Biar aku yang memarahi nya", ucap Melisa geram.
"Aku tak seperti itu, hanya saja aku tak tahan melihat kecantikan Nida tiap malam. Jadi, kau tahu kan apa yang ku lakukan selanjutnya", teriak Rendi sambil berjalan masul kamar.
"Dasar anak nakal !!. Kalau sudah sakit begini kau baru tahu rasa. Bukan begitu juga cara main nya, walaupun kalian pengantin baru", ujar Melisa sambil menjewer telinga Rendi dan menariknya dengan kencang.
Nida tersenyum lemah. Tingkah Melisa sungguh lucu. Siapa pun yang ada di dekatnya pasti akan terhibur.
"Aku memang punya tifus mas. Tapi sudah lama jarang kambuh. Mungkin aku kecapaian dan kurang memperhatikan makan ku. Maaf merepotkan mu mas", tutup Nida.
Keduanya pun maklum mendengar penjelasan dari Nida. Rupanya dia memang sudah lama punya penyakit tifus. Jadi, bukan karena Rendi terlalu memforsir dirinya untuk bercinta.
...****************...
__ADS_1