
Berulang kali Eri menatap layar ponsel. Panggilan nya belum juga di jawab oleh Nida. Sudah hampir 1jam dia menunggu di halte bis, namun Nida tak kunjung datang. "Ayo Nida....angkat telpon nya!!.
Apa yang kau lakukan sepagi ini??", bisik Eri lirih. Di jam pagi seperti ini halte bis memang sudah ramai dengan anak sekolah dan karyawan yang ingin berangkat. Eri tak mau menjadi pusat perhatian orang-orang.
Bosan menunggu Nida yang tak kunjung datang, Eri pun segera beranjak meninggalkan halte bis. Langkahnya mantap menuju ke rumah Nida. Mungkin saja Nida bangun kesiangan, jadi sampai sekarang tidak menjawab telepon darinya. Sementara sebentar lagi pesawat mereka segera berangkat. Bisa-bisa mereka ketinggalan penerbangan, kalau sampai jam 8 belum tiba di bandara.
Sementara itu, riasan Nida sudah selesai. Dia terlihat sangat cantik mengenakan kebaya silver dan riasan pengantin model Jawa. Tak banyak yang datang ke rumah nya pagi ini. Mungkin ayah dan ibu hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat saja. Maklum karena Eri masih kuliah, jadi keduanya harus merahasiakan pernikahan nya dulu. Itulah pemikiran yang terbersit di kepala Nida.
Tak berapa lama, Ema dan Sita masuk ke dalam kamar. Keduanya menggandeng tangan Nida dan membawanya keluar. Di ruang tamu sudah menunggu para penghulu dan orang tua Nida.
Nida berkeliling mencari sosok Eri dan keluarganya. Anehnya, yang di lihat Nida justru sosok Rendy dan keluarganya. Pria itu juga memakai stelan jas berwarna senada dengan kebaya yang di kenakan nya. Nida melepaskan pegangan tangan nya dan berhenti seketika. Dia berbalik dan buru-buru berjalan masuk kembali ke kamar.
Sesaat kedua kakak Nida terlihat panik. Mereka mengejar Nida ke kamar, tapi rupanya pintunya di kunci dari dalam. Keduanya mencoba membujuk Nida, tapi tidak berhasil sama sekali. Akhirnya ibu yang turun tangan berbicara kepada Nida.
__ADS_1
"Buka pintunya Nida. Atau kau ingin membuat malu bapak dan ibu?,"ujar nya sambil mengetuk pintu kamar. Nida pun membuka pintu kamar nya. Hanya ibu saja yang bisa menjelaskan semua ini. Pasti lah dia yang mengatur pernikahan nya dengan Rendi kali ini.
"Apa ini bu??. Kenapa ibu memutuskan semua ini tanpa bertanya dulu pada Nida?", ucapnya putus asa. "Ini demi kebaikan kita bersama. Atau kau ingin ibu masuk penjara, karena tak bisa mengembalikan hutang ibu pada tante Endang??.
Ibu minta kau berkorban sedikit, karena uang itu juga kau yang memakainya dulu. Lagipula ibu tak punya pilihan lain Nida. Kedua kakak mu masih kuliah, mereka tidak bisa menikah sebelum lulus. Ibu mohon Nida, menikah lah dengan Rendi. Tante Endang akan membebaskan hutang keluarga kita asal kau bersedia menjadi menantunya.Atau...biar saja ibu di penjara, kau bebas menjalani hidup sesuka hati mu", lanjut ibu kemudian.
Nida termenung mendengar penjelasan dari ibunya. Lagi-lagi dia yang harus di korbankan.
Di satu sisi, Nida merasa bersalah dengan kesulitan yang di alami oleh ibunya, Tapi di sisi lain Nida masih memikirkan cintanya dan Eri. Namun, sangat tidak pantas bagi Nida untuk berbahagia sementara ibunya mendekam di penjara. Dengan berlinang air mata, Nida akhirnya menyetujui permintaan ibunya untuk menikah dengan Rendi.
Nida pingsan seketika. Eri berlari ke dalam rumah hendak melihat keadaan Nida. Namun, dengan sigap ibu mencekal tangan Eri dan membawa nya keluar rumah. Sementara di dalam, Rendi segera membopong tubuh Nida yang sudah menjadi istrinya masuk ke kamar. Ibu menyeret tangan Eri keluar rumah. Setelah di rasa cukup jauh, ibu baru melepaskan pegangan tangan Eri.
"Sebaiknya kau pulang, jangan membuat keributan di sini. Nida sekarang sudah menjadi istri Rendi, dan kau tak berhak lagi menemui dirinya", teriak ibu marah."Aku yakin ini pasti keinginan ibu bukan?. Nida tak mungkin mau menikahi lelaki itu kalau bukan ibu yang memaksa", balas Eri tak kalah sengit. Hatinya hancur melihat pernikahan Nida pagi ini. Alih-alih pergi berlibur berdua, dia malah harus menerima kenyataan pahit kehilangan kekasih hatinya.
__ADS_1
"Semua sudah terjadi. Nida sudah menjadi istri Rendi sekarang.Jadi, mulai sekarang berhenti lah menemui Nida. Carilah gadis lain untuk menggantikan putri ku. Jangan sampai kau menjadi pengganggu rumah tangga orang", ucap ibu memperingatkan Eri. Wanita tua itu pun melangkah kembali ke rumah nya. Tak perduli kalau hati Eri begitu hancur saat ini.
Dengan langkah gontai, Eri meninggalkan rumah Nida. Hatinya bagai di sayat sembilu. Mereka bahkan tak memberinya kesempatan untuk bicara berdua dengan Nida. Bisa di bayangkan betapa hancur nya hati Nida saat ini. Hanya Eri saja yang bisa memahami perasaan Nida, kekasih hatinya itu.
Nida membuka mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada mbak Sita dan Rendy di kamar. Nida ingat kalau sekarang laki-laki itu sudah sah menjadi suaminya.
"Syukurlah kau sudah sadar, kami cemas melihat mu pingsan tadi", ujar mbak Sita. Tangan nya masih memegang minyak kayu putih. Tak lama kemudian dia mengambil segelas air putih dan membantu Nida meminumnya.
"Mbak tinggal keluar dulu, mungkin kau pingsan karena belum sarapan. Biar mbak ambilkan sekarang", sambung mbak Sita sambil keluar dan menutup pintu kamar. Hanya ada aku dan Rendy sekarang di dalam kamar.Dia terlihat salah tingkah. Sementara di luar, acara masih berlangsung. Mungkin sembari menunggu kehadiran kami berdua.
"Maaf Nida, bukan maksud ku untuk membuat mu seperti ini. Aku juga terkejut saat orang tua ku mengatakan nya pagi ini",ujar Eri membuka suara. "Sudah lah mas, toh semuanya sudah terjadi. Mau tidak mau aku harus menjadi istri mu. Hanya dengan cara ini keluarga mu bisa menghapus utang keluarga ku. Aku akan menjalani nya. Karena memang tak ada lagi pilihan bagi ku", jawab Nida.
Dia berdiri dan merapikan riasan serta penampilan nya. Sesaat dia memandang Rendi dan berkata, "Ayo mas....acara masih belum selesai. Tak enak rasanya meninggalkan para tamu yang sudah berkenan hadir". Rendi mengangguk. Keduanya berjalan kembali ke ruang tamu. Acara pun kembali berlangsung. Para tamu undangan bergiliran memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
__ADS_1
Butuh usaha yang besar bagi Nida untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh. Entah bagaimana kondisi Eri saat ini. Tentunya ibu sudah menyampaikan cerita bohong tentang pernikahan nya pagi ini. Nida tak mampu lagi berpikir. Banyak hal yang terjadi dalam waktu yang singkat.Dia masih belum tahu langkah apa yang mesti di ambil olehnya nanti.
...****************...