AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 2.


__ADS_3

Eri menghentikan laju motor nya di depan gang.


Aku pun bergegas turun dan mencium tangan nya.Eri harus puas hanya bisa mengantar sampai tempat ini. Sejak awal memang kami merahasiakan hubungan ini dari ibu. Dulu sekali Eri pernah datang ke rumah. Namun dengan tanpa perasaan ibu langsung mengusirnya. Sejak saat itu, Aku dan Eri sepakat untuk merahasiak hubungan kami berdua dari ibu.


"Langsung pulang, jangan kelayapan lagi, sahutku sesaat setelah berpamitan. Eri tak hendak melepaskan tangan ku dari genggaman nya. Dia bahkan sengaja menarik tubuhku ke dalam pelukan nya. "Lepaskan sayang, takut ada orang lewat melihat kita", bisik ku mesra di telinga Eri. Dadanya bergemuruh hebat. Nafasnya pun naik turun dengan kencang. Bukan nya melepasku, dia malah semakin mempererat pelukan nya. "Aku masih kangen dengan mu, Nida. Dan aku tak perduli meskipun ada yang melihat. Biar saja mereka tahu kalau kita berdua saling mencintai", sambung Eri kemudian.


Eri seketika mencium kening Nida dengan mesra.


Di tatap nya wajah kekasihnya itu dalam-dalam.


Eri tersenyum dan melepaskan pelukan nya.


"Mulai lah berkemas, besok siang kita berangkat", ujar nya kemudian. "Secepat itu,,,lalu bagaimana dengan ibuku??", tanya Nida kaget. Dia belum terpikir sama sekali alasan apa yang akan di utarakan saat minta izin nanti. Dengan cepat Eri menyahut, "Haruskah aku yang menemui ibumu sekarang??. Biar aku saja yang bilang padanya".


Melihat keseriusan Eri, Nida jadi sedikit khawatir.


Dia kemudian buru-buru meralat ucapan nya. "Tak usah sayang, biar aku saja yang bicara pada ibu ku. Sebaiknya kau pulang saja. Sampai jumpa lagi besok.....bye!!!".Nisa bergegas berlari sambil melambaikan tangan pada Eri. Pria itu tersenyum dan menaiki motornya kembali setelah memastikan Nida masuk ke dalam rumah nya.

__ADS_1


Langkah kaki Nida terhenti di pintu manakala ibu memanggil dirinya. Di dalam ruang tamu tampak seorang pemuda bersama dengan kedua orang tua nya. Nampaknya mereka tamu ibu, bisa di lihat dari reaksinya yang begitu ramah. "Nida,,,


kenalkan ini teman mama. Tante Endang dan Om Hari, dan ini putra mereka Rendy", sambung ibu padaku. Tumben sekali malam ini ibu berkata lembut padaku, jadi aku segera menyalami teman ibu sembari memperkenalkan diri. Setelah basa-basi sebentar, aku lalu berpamitan masuk ke kamar. Badan ku sudah benar-benar capek berdiri seharian tadi di mall.


Aku masuk ke kamar dan merebahkan diri di sofa. Tak kuperdulikan lagi suara obrolan ibu yang tampak antusias dan bersemangat.Dalam hitungan detik aku sudah terlelap ke alam mimpi


saking lelahnya. Tak berapa lama, teriakan ibu mengagetkan diri ku. Dia berdiri di depan pintu kamar dan menyuruhku untuk segera bangun.


"Cepat keluar Nida, nak Rendy menunggu mu untuk berpamitan", gertak ibu yang melihat ku masih bermalas-malasan di kasur.


"Memangnya kenapa bu, aku kan tidak kenal mereka?"tanya ku kesal. Bukan nya menjawab, ibu jistru mengeluarkan jurus andalan nya. Dengan setengah mengancam, ibu menghardik ku dengan keras. "Jangan membantah...cepat keluar, temui Rendy sekarang", sahut ibu dengan muka garang. Aku pun bergegas keluar kamar.


"Nida, apa kau besok ada acara, aku ingin mengajak mu jalan-jalan", tukas Rendy dengan hati-hati. Sesaat aku ingin menjawab, namun ibu sudah mendahului bersuara. "Tentu bisa Rendy, Nida pasti dengan senang hati menerima ajakan mu. Bukan begitu Nida??", potong ibu cepat.


"Maaf Rendy, mungkin lain kali. Kebetulan di kantor sedang ada diklat selama 2 hari. Aku akan berangkat ke Bali besok pagi", ujar Nida. Ini justru kesempatan baginya supaya tak perlu lagi minta ijin pada ibu.


"Oh...begitu rupanya,,, baiklah...mungkin lain kali saja aku mengajak mu pergi". Rendy menjawab dengan sedikit kecewa. Ibu terdiam mendengar alasan ku. Di depan Rendy dan kedua orang tuanya, dia tak akan mungkin memperlihatkan amarahnya. Sesaat kemudian aku dan ibu mengantar orang tua Rendy sampai ke depan rumah. Sebelum masuk ke dalam, aku kembali mengutarakan rencana kepergian ku besok pagi.

__ADS_1


"Kau selalu seperti itu Nida, buang-buang uang untuk hal yang tak berguna. Daripada pergi ke Bali, lebih baik kau berikan uang nya pada ibu bukan??", sahut ibu dengan sengit. Aku terpaksa mengalah. Dengan lemah lembut ku jawab pertanyaan ibu tersebut. "Kantor yang menanggung semuanya bu, kami para karyawan hanya tinggal berangkat saja", sahut ku pasrah.


"Terserah kau saja Nida, kau memang tidak bisa diatur. Kerja mu hanya menghambur-hamburkan uang terus", lanjut ibu nyerocos tanpa henti.


Setiap kali kami terlibat pembicaraan, pasti akan berakhir menyakitkan seperti ini. Aku harus selalu menahan diri mendengarkan hinaan dan cacian dari ibu ku. Walaupun kadang tak terasa air mata ini sudah membasahi kedua pipi ku. Aku pun langsung masuk kembali ke dalam kamar. Sebelum melanjutkan istirahat, aku sempatkan berkemas setelah itu lanjut mandi. Besok adalah hari yang penting untuk ku dan Eri. Kami akan berlibur bersama ke pulau Bali. Tak sabar rasanya menunggu esok tiba.


Aku membuka mataku lebar-lebar saat mendengar ibu berteriak. Ku lirik jam dinding, masih pukul 5 pagi. Tak seperti biasanya rumah sudah rame dan sibuk seperti ini. Belum lagi pulih kesadaran ku, ku lihat dua orang wanita cantik masuk ke kamar dengan membawa peralatan make up lengkap. Mereka menyuruh ku untuk segera mandi, sebentar lagi aku harus segera di rias.


Dalam hati ku terkejut. Berpikir bahwa ini adalah bagian dari kejutan yang sudah di persiapkan oleh Eri. Makanya tanpa pikir panjang lagi, aku bergegas untuk masuk ke kamar mandi. Tak berapa lama, aku sudah duduk di depan meja rias. Aku hampir tak mengenali diri ku sendiri. Aku terlihat sangat cantik dengan riasan make up kali ini.


Seorang juru rias membawa masuk kebaya berwarna silver dan memberikan nya pada ku.


"Silahkan di pakai dulu mbak Nida, nanti biar kami yang rapikan",sahut nya lembut kepada ku. Masih sedikit bingung dan heran, aku menerima lebaya tersebut dan langsung memakainya. Kejutan dari Eri kali ini sungguh membuat ku terpana. Rupanya dia sudah bisa mengambil hati kedua orang tua ku. Mungkin ini acara pertunangan kami berdua.


"Jangan melamun mbak, nanti kesambet setan lo!!",tegur penata rias saat melihatku bengong.


"Calon suami mbak Nida pasti senang mendapatkan wanita secantik mbak", ujarnya lagi. "Calon suami, maksud kalian ini acara pernikahan ku begitu??"tanyaku terkejut. Bukan nya menjawab, keduanya malah tersipu menahan tawa. Sementara Nida sendiri tampak kebingungan. Tak menyangka kalau Eri benar-benar akan menikahi dirinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2