
Rendi memarkir mobilnya di bahu jalan depan rumah nya. Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Sore itu kebetulan semua anggota keluarga ada di rumah. Melihat kedatangan Nida, kedua kakak nya berlari memeluknya. Sementara Rendi menghampiri ayah yang sedang duduk di sofa.
"Ah......senang sekali melihat kau kembali. Rumah terasa sepi kalau kau tak ada Nida", sahut nya sambil memeluk tubuh Nida.
"Bagaimana kabar kalian Rendi. Lama sekali kalian tak kesini". Ujar pak Edi.
"Maaf pak, mendadak Nida sakit di Bali. Jadi kami tinggal lebih lama di sana" , ucap Rendi.
Nida lalu menyerahkan bungkusan oleh-oleh pada masing-masing anggota keluarga. Dia heran karena ibu tak kelihatan menyambut kedatangan nya.
"Ibu di mana?. Tumben dia tak muncul?", tanya Nida.
"Ibu di sini Nida. Kebetulan sekali kalian berdua ke sini. Ibu ingin kalian berdua bercerai sekarang juga", ucap Ibu mengultimatum.
"Bu,,,jangan keterlaluan. Harusnya kau sajikan minum dan makanan untuk anak dan menantu mu. Bukan malah bersikap seperti itu", hardik bapak.
Rendi terkejut mendengar ucapan mertuanya.
Aneh sekali tiba-tiba bu Norma melontarkan ucapan seperti itu.
"Apa lagi sekarang bu?. Apa ibu sudah kehabisan uang sehingga menyuruhku bercerai dengan Rendi dan ingin menjual ku lagi?", tukas Nida langsung.
"Bukan begini caranya bu, Nida sudah bukan lagi wewenang ibu. Dia istri ku sekarang. Selama bukan Nida yang meminta, aku tak akan pernah menceraikan nya", ucap Rendi berang.
"Kau harus dengar ibu kali ini Nida. Ceraikan Rendi dan turuti kata-kata ibu kali ini",ucap bu Norma tak kalah sengit.
"Ibu pikir aku ini apa?. Boneka.....??.Aku punya hati bu, setidaknya hormati suami ku.Dulu ibu sendiri yang memilihkan nya untuk ku bukan?", teriak Nisa.
"Kurasa aku tak bisa lagi di sini. Kita pulang sekarang mas. Aku capek menghadapi tingkah ibu kali ini",ucap Nida tawar.
Dia menarik lengan Rendi dan langsung membawanya keluar rumah. Mereka masuk ke dalam mobil dan langsung pergi saat itu juga.
__ADS_1
Nida sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Di tambah lagi hormon kehamilan nya membuat mood nya berantakan. Rendi menepikan mobil dan segera memeluk istrinya. Dia tak ingin kondisi Nida kembali drop.Hal itu bisa berpengaruh pada bayi mereka.
"Sudah sayang, berhentilah menangis. Ingat kalau kau sedang hamil saat ini", ucap Rendi menghibur.
"Bisa-bisa nya kau tenang seperti ini mas.
Kau lihat sendiri kan, betapa egoisnya ibu ku. Menganggap semua bisa di selesaikan dengan uang", ucap Nida di sela isak tangis nya.
"Dia ingin menjual ku kepada orang kaya lagi. Mungkin jauh lebih kaya dari mu. Seolah aku ini barang, yang hanya pantas di perjual belikan", teriak Nida.
"Kau tenang saja. Kali ini ibumu tak akan bisa berbuat apa-apa. Pernikahan kita resmi, dan kau tanggung jawab ku sekarang".
"Kau tahu,, aku seperti mendapatkan berlian saat memiliki mu. Dan ku pastikan, ibu mu atau siapa pun tak akan bisa memisahkan kita berdua", ujar Rendi. Di rengkuhnya tubuh Nida dan kening nya di cium mesra.
Rendi menunggu beberapa saat sampai Nida kembali tenang. Setelah itu dia mengubah arah mobilnya menuju ke pantai. Nida butuh ketenangan, setelah perasaan nya di hancurkan langsung oleh ibunya. Ibu hamil seperti nya tidak boleh sampai stress.
"Kita mau kemana mas?. Sepertinya ini bukan arah jalan menuju apartemen", tanya Nida sambil melihat keluar jendela.
"Atas nama ibu ku, aku minta maaf mas. Mungkin perkataan nya tadi sudah menyakiti
hati mu. Jujur....aku sama sekali tak menyangka dia bisa berkata seperti itu di depan mu", ucap Nida menyesal.
"Sudah....lupakan saja. Jangan pikirkan hal itu lagi. Malam ini kita akan bersenang-senang. Ini bulan madu kedua bagi kita, sebelum aku mulai kerja besok", ucap Rendi.
Udara pantai berhembus kencang, menyambut kedatangan Rendi dan Nida. Mobilnya di arahkan ke dalam parkiran cottage. Di perjalanan tadi, dia sudah mengurus semuanya. Rendi dan Nida tinggal masuk saja.
"Memang nya kita mau bermalam di sini mas?. Kenapa harus menyewa satu villa?", tanya Nida.
"Kita lihat saja nanti. Yang penting sekarang kita masuk saja dulu", jawab Rendi.
Cottage yang di sewa Rendi langsung menghadap ke pantai. Biasanya kalau arus pasang, airnya bisa sampai depan cottage.
__ADS_1
Nida membuka sepatu dan menaruh tas nya di dalam. Setelah itu dia berjalan ke pinggir pantai. Nida duduk di hamparan pasir, sambil merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya. Di saat seperti itu, dia merasa tenang dan damai. Suara deburan ombak mampu meredam amarah nya.
"Kau sudah lebih baik sekarang, sayang??", tanya Rendi sambil duduk di sebelah Nida.
"Dari dulu aku memang sangat suka dengan laut mas. Entah kenapa aku merasa tenang hanya dengan memandangnya", sahut Nida.
Rendi meletakkan kepalanya di pangkuan Nida.Kedua tangan istrinya di arahkan untuk membelai rambut nya. Rendi menikmati saat-saat berdua seperti ini.Tenang dan nyaman berada bersama wanita yang di cintai nya.
"Sebentar lagi kita bertiga yang akan duduk di sini. Menikmati sunset di senja hari. Bukan begitu sayang??", bisik Rendi.
Nida mengangguk. Tangan nya masih sibuk membelai rambut Rendi. Pemadangan sunset
kali ini sungguh sangat indah.
"Sayang,,, aku mencintai mu. Berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkan ku", ucap Rendi mesra.
Rendi bangun dan langsung menyambar bibir Nida. Sudah beberapa hari ini dia menahan hasratnya. Sejak Nida sakit, mereka belum bercinta lagi. Kesempatan kali ini pun tak di sia-siakan oleh Rendi.
Rendi menghentikan ciuman nya sebentar, melihat reaksi tubuh Nida. Setelah di rasa aman, Rendi pun melanjutkan permainan lidahnya. Saling ******* dan membelit lidah
satu sama lain, hingga nafas keduanya tersengal.
"Maaf sayang, aku tak bisa menahan diri. Sudah lama kita tak bermesraan begini", ujar Rendi sambil mengendurkan pelukan nya.
"Nida hanya tersenyum. Sementara gairah Rendi sudah tersulut naik. Mereka masih pengantin baru. Wajar saja kalau Rendi tak bisa menahan hasratnya. Apalagi tempat dan suasana senja ini sangat mendukung.
"Kita masuk saja sayang. Di luar sudah dingin,
aku takut kau sakit lagi".
Tanpa aba-aba, Rendi langsung membopong tubuh Nida masuk ke dalam cottage. Sepanjang perjalanan dari pantai, dia mencuri ciuman bibir istrinya. Tak di hiraukan nya teriakan histeris Nida meminta turun. Rendi malah semakin mempercepat langkah nya.
__ADS_1
Rendi langsung membawa Nida masuk ke kamar. Suasana terasa sepi meskipun belum begitu malam. Cottage yang di huninya menjadi saksi percintaan kedua insan yang sedang di landa asmara.