AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 5.


__ADS_3

Nida menggigit bibirnya hingga berdarah. Dia berusaha keras menahan air mata agar tak jatuh.Selesai sudah semuanya sekarang. Nida sudah sah menjadi milik Rendi seutuhnya. Harusnya dia bahagia. Tapi bayangan wajah Eri menari-nari di pelupuk matanya.


Nida berusaha melepaskan diri dari pelukan Rendi.Pria itu sudah terlelap sejak tadi. Sementara Nisa merasakan sakit dan nyeri di bagian intim. Tulang-tulangnya seperti mau copot rasanya. Kepalanya juga sangat pusing saat ini. Di tambah lagi dengan rasa kantuk yang tidak tertahan kan. Nida pun akhirnya tertidur menyusul Rendi setelah menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut.


Eri melihat ke dalam layar ponsel nya. Tampak riwayat panggilan beberapa kali dari Nida. Sesaat dirinya ragu untuk menghubungi kembali.Sudah jam 3 pagi. Saat ini pasti Nida tengah bersama dengan suminya. Eri pun meletak kan ponsel nya dan kembali menenggak minuman dari dalam botol.


Harusnya saat ini dia berlibur di Bali bersama Nida. Tidak berakhir di kamarnya dalam keadaan mabuk seperti ini. Untung saja kedua orang tuanya masih di luar negeri. Kalau mereka mengetahui keadaan Eri saat ini, tak bisa di bayangkan akan seperti apa dia nanti.


Orang tua Eri sangat keras. Terutama kalau berkaitan dengan alkohol dan obat-obatan terlarang. Tak ada ampun kalau Eri sampai menyentuhnya.


Di tempat berbeda, Rendi sudah lebih dulu terjaga. Nida masih terlelap membelakangi dirinya. Rendi mengecup leher belakang Nida, sambil tangan nya membelai punggung istrinya yang terlihat menggoda. Cukup lama Rendi bermain-main di sana, hingga Nida kemudian terbangun.


"Sayang....aku menginginkan mu,, lagi dan lagi.


Kau sungguh membuat ku gila", bisik Rendi lirih tepat di belakang telinga istrinya. Nida menggeliat. Matanya masih terpejam, walau tubuhnya bereaksi merasakan rangsangan bibir Rendi.


"Hentikan mas,,,yang tadi saja masih terasa sakit", jawab Nida lirih.


"Tapi kau juga menikmatinya kan sayang?. Kali ini aku jamin tidak akan sakit lagi. Aku akan membuat mu melayang, aku janji padamu".


Tanpa menunggu jawaban dari Nida, Rendi sudah bergerak lincah menjelajahi titik sensitif di tubuh Nida dengan lidah dan bibirnya. Tanda merah sudah tersebar di mana-mana. Di leher dan tubuh

__ADS_1


bagian atas Nida.Kedua kalinya kali ini Nida ikut terhanyut menikmati rangsangan yang di berikan Rendi. Erangan nikmat meluncur begitu saja dari bibir manis nya. Rendi sungguh pandai dalam bercinta. Nida di buat tak berdaya, berkali -kali merasakan kenikmatan yang tak ada habisnya.


Menjelang fajar, pasangan pengantin itu baru mengakhiri permainan mereka. Keduanya terkulai lemas di atas ranjang. Bisa di bayangkan sudah sekacau apa ranjang hotel tempat mereka bermalam. Gaun tidur teronggok di lantai, sprei yang acak-acakan dan terdapat bekas noda darah segar milik Nida. Kekacauan ini, Nida begitu malu melihatnya.


Nida meraih gaun tidur dan bergegas masuk ke kamar mandi. Untung saja suaminya masih memejamkan mata. Kalau tidak, Nida tak mungkin bisa menahan malu.Walaupun mereka berdua sudah melewatkan malam bersama, tapi Nida belum mengenal Rendi dengan baik. Masih ada rasa segan saat harus berhadapan dengan suaminya itu.


Nida menyalakan pemanas air untuk dirinya mandi. Dari dalam cermin terlihat bekas tanda merah yang di buat oleh Rendi. Dia pun masih merasakan nyeri di tubuh bagian bawah nya. Ini kah rasanya malam pertama. Kesucian wanita yang terus dia jaga selama berpacaran dengan Eri, di persembahkan kepada suaminya.


Dan, seperti inilah rasanya malam pertamanya. Kalau sebelumnya dia hanya mendengar cerita dari Sari dan Ita, saat ini dia sudah merasakan sendiri. Walaupun belum ada cinta, ketika gairah sudah menguasai dua insan, segalanya mungkin saja terjadi. Tanpa paksaan, Nida menyerahkan kehormatan nya khusus untuk Rendi seorang. Hanya demi baktinya sebagai seorang istri terhadap suami. Nida rela menyerahkan segalanya.


"Sayang,,buka pintunya. Kau masih di dalam kan?",teriak Rendi memecah lamunan Nida.


"Tunggu mas, aku masih belum selesai mandi".


Nida pun mengenakan handuk dan buru-buru membuka pintu. Di lihatnya Rendi sudah berdiri di depan kamar mandi dengan bertelanjang. Nida menutup wajahnya sambil berteriak.


"Kenapa....jangan bilang kalau kau malu. Lagi pula semalam kau sudah melihat semuanya kan".


"Tapi mas, bukan begini juga caranya kan".


Nida masih menutup wajahnya sampai Rendi masuk ke kamar mandi. Dia menunggu di depan pintu dengan handuk yang masih menempel di tubuhnya. Sesaat kemudian, Rendi membuka pintu dan langsung menarik Nida masuk ke dalam bersamanya. Rendi segera mengunci pintu dan menarik handuk Nida.

__ADS_1


Nida salah tingkah menutupi tubuh telanjang nya dengan merapat ke dinding. Rendi menghampiri nya dengan seringai nakal. Lengan nya melingka mengunci tubuh Nida dalam pelukan nya.


"Lepaskan mas, aku masih belum selesai mandi", ucap nya gemetar.


"Kita bisa mandi bersama kan sayang?", jawab Rendi. Tangan nya sudah bergerak membelai punggung Nida. Sementara lidahnya sudah bermain di bibir Nida. Bunyi gemericik shower kian menambah gairah keduanya. Sekali lagi Nida harus melayani hasrat suaminya yang seolah tak ada habisnya. Keduanya menuntaskan permainan dan di lanjutkan dengan mandi bersama.


Nida dan Rendi sudah selesai berpakaian. Mereka kemudian sarapan bersama di kamar hotel. Rencana nya Rendi akan membawa Nida bulan madu ke Bali. Selesai sarapan, pasangan ini meninggalkan hotel dan langsung berangkat ke Bandara.


Lain hal nya dengan Eri. Pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan pintu rumah orang tua Nida. Eri menjinjing dua buah koper dan langsung mengetuk pintu.Kebetulan ibu Nida sendiri yang membuka pintu. Dia hendak langsung mengusir Eri, kalau saja wanita itu tidak melihat uang yang di bawa Eri di dalam koper.


"Jadi, sekarang kita bisa bicara kan bu?", tanya Eri sambil menutup kembali kopernya.


"Tentu saja, silahkan masuk nak. Ayo....jangan sungkan-sungkan".


Eri menaruh koper di atas meja dan membukanya. Tumpukan uang memenuhi kedua koper yang sengaja di buka oleh Eri. Ibu Nida tak bisa menyembunyikan rasa senang nya. Pagi-pagi sekali sudah ada yang membawa uang ke rumah nya. Tangan nya terulur hendak mengambil tumpukan uang yang ada di depan matanya. Eri bergerak cepat menutup kedua koper tersebut dari jangkauan tangan ibu Nida.


"Ibu boleh memiliki uang ini, tapi kembalikan Nida padaku. Jumlahnya 500 juta, dan aku akan memberi mu 1 milyar kalau kau berhasil menceraikan Nida dari suaminya", ucap Eri tegas.


Ibu Nida tercengang mendengar perkataan Eri. Selama ini dia menganggap kalau Eri hanyalah pemuda miskin. Nyatanya uang yang di miliki Eri jauh lebih banyak daripada harta Rendi. Dengan mantap, wanita itu menyanggupi permintaan Eri.


Dia akan meminta Nida bercerai dengan Rendi segera.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2