
Nida menggigit bibir bawahnya dengan kencang. Hatinya bagai di sayat sembilu, saat melihat tatapan sendu Eri, sesaat setelah dia keluar dari toko. Luka hati yang di rasakan oleh Eri sama seperti perasaan nya saat ini.
Ingin sekali Nida berlari mengejar Eri dan memeluknya, apa daya Nida, dirinya tak mampu berbuat apa-apa.
"Kau tidak suka model nya sayang?. Aku akan meminta pelayan membawakan model lain kalau begitu", ucap Rendi saat melihat tatapan kosong di wajah istrinya.
"Jangan mas, ini bagus sekali, aku sangat menyukai nya. Kita pilih ini saja. Kalau kelamaan di sini, kita bisa kemalaman di rumah ibu", ucap Nida menutupi perasaan nya.
Rendi pun setuju. Dia segera membayar perhiasan yang sudah di kenakan oleh Nida. Setelah itu, keduanya segera pergi meninggalkan toko menuju ke rumah orang tua Rendi.
Di dalam mobil, Nida membuka ponselnya dan membaca pesan masuk yang baru saja di terimanya dari Eri.
"Temui aku besok siang di tempat biasa. 1 jam kau tak muncul, aku akan nekat ke apartemen mu", tulis Eri. Nida membalas singkat chat tersebut dan buru-buru memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Pesan dari siapa sayang?. Apa ibu mu menghubungi mu?", tanya Rendi.
"Bukan mas, teman-teman kerja ku dulu ingin sekali bertemu dengan ku", ucap Nida sekena nya.
"Jangan dulu, aku tak mau kenapa-napa dengan kehamilan mu. Nanti saja kalau mereka libur kerja, biar mereka datang ke apartemen kita", perintah Rendi.
Inilah yang di takutkan Nida selama ini. Ruang gerak nya terbatas setelah dia menikah. Kebebasan nya terenggut, berganti dengan aturan dan ikatan yang membuat dada nya semakin sesak. Belum lagi kehamilan yang datang di waktu yang tidak di rencanakan. Nida seakan ingin berteriak kencang, membuang semua rasa yang sudah hampir 1 bulan ini di pendam nya.
"Sayang,, kau mendengar ku kan?", tanya Rendi tiba-tiba. Membuyarkan lamunan Nida.
"Iya mas, aku mengerti. Nanti aku akan bilang pada mereka tentang ucapan mu tadi", sahut Nida pasrah.
__ADS_1
"Ya sudah,,, rapikan penampilan mu, kau terlihat pucat. Kita sudah sampai. Inilah rumah ku sayang", ucap Rendi sambil membelokan mobil nya memasuki pelataran rumah mewah. Pintu gerbang di depan nya otomatis membuka dan menutup sendiri.
Belum lagi hilang rasa terkejut Nida soal apartemen yang mereka tinggali, kini di tambah lagi dengan rumah mewah dan besar milik keluarga Rendi. Rupanya mereka memang orang kaya. Ibu memilih orang yang tepat untuk menjual Nida rupanya.
"Tersenyum lah sedikit, jangan sampai orang tua ku mengira kalau aku tak bisa membahagiakan mu", ucap Rendi sambil membuka pintu mobil dan membantu Nida keluar.
Nida pun berusaha memberikan senyuman bagi Rendi. Keduanya masuk sambil bergandengan tangan. Bu Endang dan suminya tampak berdiri di ruang tamu, menyambut kedatangan anak dan menantu nya.
"Sayang,,,senang sekali melihat kalian. Melisa sudah menceritakan semuanya. Bagaimana dengan kehamilan mu, baik-baik saja kan Nida?", ucap bu Endang sembari mengelus perut Nida, setelah sebelumnya mencium pipi menantu nya tersebut.
"Ah....anak itu memang tak bisa menyimpan rahasia. Aturan kan, ini kejutan untuk mama dan papa", sungut Rendi kesal.
"Tak masalah siapa yang memberitahu. Yang terpenting kalian bisa pulang dengan selamat", ucap pak Beni, ayah Rendi.
"Maaf bu, kami tidak bisa berbelanja banyak. Hanya ini yang bisa kami bawa untuk kalian", ucap Nida ragu-ragu sambil menyerahkan bungkusan oleh-oleh yang di pesan khusus oleh Rendi.
"Lihat sayang,, mama sudah siap kan semuanya. Mereka bilang wanita hamil muda suka makan seperti ini", ucap bu Endang lagi.
"Hmm....begitu melihat menantunya, mama jadi lupa dengan anak nya sendiri, iya kan pa?", sindir Rendi.
Bu Endang hanya mencibir, mendengar ucapan Rendi. Dia lalu sibuk menyajikan makanan untuk menantunya. Maklum saja, Rendi adalah putra semata wayang nya. Jadi bu Endang begitu bahagia mendengar kalau dia akan segera menimang cucu.
Nida memandang hidangan yang ada di depan nya. Mulai dari rujak es krim hingga asinan, lengkap tersedia. Tentu saja makanan tersebut sangat di inginkan nya. Alhasil, santap siang nya kali ini berhasil menaikkan mood nya yang sedang berantakan akibat bertemu Eri tadi.
"Hmmm.....ini lezat sekali ma?. Dari mana mama dapat kan asinan dan rujak seenak ini?", tanya Nida antusias. Mulutnya bahkan tak berhenti mengunyah. Rendi tentu saja yang paling senang melihatnya. Pasalnya, sudah sejak pulang dari Bali, Nida sama sekali tidak berselera makan.
__ADS_1
"Kau tidak bilang kalau bayi kita ngidam asinan dan rujak. Tahu gitu kan aku bisa pesan untuk mu", ucap Rendi.
Nida bahkan sudah tidak sempat menjawab. Dia asyik menyantap makanan nya. Mereka berempat asyik mengobrol sampai lupa waktu. Sudah hampir sore, dan keduanya belum ke rumah orang tua Nida.
Untuk itu, Rendi pun segera mengajak Nida ke rumah orang tuanya. Saat berpamitan, bu Endang meminta Nida dan Rendi agar tinggal bersama mereka saja. Daripada harus tinggal berdua saja di apartemen, akan lebih baik kalau bersama-sama menempati rumah nya.
Rendi tidak memberi jawaban, tapi berjanji akan memikirkan nya.
Saat di jalan menuju rumah orang tuanya, Nida berpesan kepada Rendi agar tidak berlama-lama dan segera mengajak nya pulang. Nida juga meminta agar Rendi merahasiakan kehamilan nya, supaya ibunya tak mengambil keutungan dari keadaan Nida saat ini.
"Aku masih kesal dengan ibu mas, jadi aku malas kalau harus bertemu dengan nya", ucap Nida menambahkan.
"Kau harusnya berterimakasih pada ibu mu. Walau dengan sedikit paksaan, kau akhirnya bahagia kan?", ucap Rendi.
"Maksud ku, aku masih malu dengan ulah ibuku yang terkesan menjual ku pada mu mas", ucap Nida lirih.
"Tidak seperti itu.Aku mencintai mu sekarang. Bahkan sebentar lagi bayi kita akan lahir. Jadi jangan katakan hal itu lagi", ucap Rendi.
Wanita lain mungkin akan tersanjung mendengar kata-kata Rendi tersebut. Tapi, entah kenapa hati Nida belum tergerak. Selama ini, sebatas kewajiban saja dia melayani Rendi. Karena nyatanya di hati Nida masih ada nama Eri. Cinta yang sudah begitu lama, sulit sekali di hilangkan dalam sekejap.
"Kau melamun lagi. Kita sudah hampir sampai. Ini uang tambahan untuk ibu mu. Aku yakin dia pasti menyukai nya", ucap Rendi sambil menyerahkan amplop berisi uang 10 juta.
"Jangan mas, simpan saja dulu. Aku tak mau kau terlalu memanjakan ibu. Dia harus belajar kalau hubungan bukan semata atas dasar uang saja", ucap Nida.
Rendi pun setuju dengan pendapat Nida. Dia bahkan menyerahkan amplop uang itu kepadanya. Terserah, mau di gunakan untuk apa oleh Nida. Tapi Rendi tak akan mengambil nya lagi.
__ADS_1
...****************...
.