AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 13.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nida dan Rendi sudah bangun. Rencana nya pagi ini keduanya akan berkunjung ke rumah ibu dan mertuanya. Sejak kemarin, mereka hanya tinggal di dalam kamar. Lagipula besok senin Rendi sudah mulai kerja, jadi mereka memutuskan hari ini saja berkunjung ke rumah keduanya.


"Kau sudah siap kan oleh-oleh untuk mereka kan sayang?", tanya Rendì.


"Ini mas, aku sudah pisahkan tadi. Masing-masing sudah ku masukkan dalam tas. Tinggal nanti memberikan pada mereka", ucap Nida.


Rendi pun memasukkan semua oleh-oleh tersebut ke dalam bagasi mobil dan kemudian segera berangkat.


Tujuan pertama mereka tentu saja rumah orang tua Rendi. Selain jaraknya lebih dekat dari apartemen, Rendi juga sekalian ingin mengambil beberapa baju yang masih ada di kamar rumah nya.


"Sayang, kita nanti mampir sebentar ke mall ya,,ada sesuatu yang harus ku beli",ujar Rendi sebelum menjalankan mobilnya.


"Tapi mas, jangan lama-lama ya, badan ku masih tak enak kalau harus berada di keramaian", ucap Nida.


"Tenang saja sayang, aku cuma sebentar kok. Ini juga tinggal ambil. Aku sudah memesan nya sebelum kita berangkat bulan madu",ucap Rendi lagi.


Nida mengangguk sembari tersenyum. Dia lalu mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas. Daripada bosan di jalan, niat hati Nida ingin membaca novel. Saat ponsel nya di nyalakan, banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan masuk dari Eri. Maklum, sudah hampir sebulan ini,Nida mematikan ponselnya.


Dia merasa bersalah terhadap Eri atas kehamiln nya. Nida yakin kalau Eri sampai tahu, mungkin dia akan sangat kecewa. Nida pun memilih untuk merahasiakan untuk sementara waktu. Walaupun dia tahu masa depan nya bersama Eri entah bagaimana jadinya.


Nida mematikan kembali ponsel nya. Lagipula mobil Rendi sudah memsuki basement mall untuk parkir. Keduanya pun segera turun dari mobil. Rendi menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam lift. Mereka akan menuju ke lantai lima.


"Hadiah ini ku pesan khusus untuk mu sayang. Aku harap kau menyukainya", ucap Rendi senang.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak perlu mas. Aku tak mau merepotkan mu", ucap Nida. Wajahnya menunduk di tengah kondisi lift yang sedang merangkak naik.


Setibanya di lantai 5, Rendi dan Nida berjalan ke gerai busana. Hanya Rendi yang tampak antusias, sementara Nida hanya duduk di ruang tunggu mall. Rendi tampak sedang berbincang dengan karya wati di mall tersebut, saat tiba-tiba lengan Nida di tarik seseorang ke ruang ganti. Dia ingin menjerit, tapi orang itu membungkam mulutnya dan langsung menyeret masuk dan menutup pintu.


"Ini aku Nida, jangan berteriak,aku akan lepaskan sekarang", ucap Eri sambil memperlihatkan wajah nya.


Setelah Nida memberi isyarat lewat mata, Eri langsung saja memeluk tubuh kekasihnya tersebut. Rindu yang sudah hampir sebulan ini menumpuk, akhirnya dapat terlampiaskan juga. Padahal dia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan Nida di tempat ini.


"Lepaskan Eri,jangan seperti ini. Rendi ada di luar, dia bisa melihat kita nanti", ucap Nida sambil berusaha melepaskan pelukan Eri.


"Aku sama sekali tak perduli dengan pria brengsek itu. Kalau dia sadar posisinya, justru malah lebih bagus lagi. Dia bisa segera menceraikan mu dan kita bisa bersama lagi", jawab Eri.


"Sebenarnya kau kemana saja sebulan ini?. Aku sudah seperti orang gila saat tak mendengar kabar mu", lanjut Eri lagi.


"Aku masuk rumah sakit. Tifus ku kambuh, kemarin sore baru aku sampai. Aku baru bisa membuka ponsel sekilas tadi. Maaf kan aku Eri. Nanti ku hubungi lagi. Aku harus keluar, atau Rendi akan mencari ku nanti", ucap Nida terburu-buru sambil membuka pintu ruang ganti dan mengambil pakaian sekena nya saja.


Eri urung ikut keluar, setelah mendengar suara Rendi. Dia diam, menunggu di dalam ruang ganti sampai suara Rendi menjauh dari sana. Nida buru-buru menggamit lengan suaminya dan mengajak nya ke kasir. Saking takutnya ketahuan, Nida bahkan tak sadar kalau yang dia bawa adalah lingerie berwarna hijau dengan model bolong atas dan bawah.


"Sekalian ini juga mbak, bungkus saja keduanya", ucap Rendi sambil menyerahkan lingerie merah pilihan nya.


"Rupanya selera mu jauh lebih menggoda sayang. Sekarang aku baru merasa yakin kalau gairah ibu hamil lebih tinggi dari biasanya", bisik Rendi lirih di telinga Nida.


Merah padam muka Nida menahan malu. Alih-alih ingin menutupi pertemuan nya dengan Eri, dia malah kena batunya karena sembarangan mencomot baju.

__ADS_1


Nida menerima lingerie miliknya dan langsung di masukkan dalam tas. Tak sabar rasanya menunggu Rendi membayar. Ingin segera menghilang secepat mungkin dari dalam mall. Sesaat setelah Rendi memasukan dompetnya kembali, dia segera menggandeng tangan nya dan menarik keluar dari toko.


"Tunggu sayang, masih ada satu tempat lagi.


Tadi kau terlalu lama di ruang ganti, jadi kita sedikit kehabisan waktu", ucap Rendi.


"Apa lagi mas, aku sudah pusing sekali. Di tambah malu di lihatin mbak-mbak tadi", ucap Nida kesal.


Rendi mencubit dagu Nida gemas, sambil tertawa. Istrinya ini bisa bertingkah lucu juga rupanya. Rendi jadi semakin tambah cinta melihat wajah gemas nya.


Mereka berdua masuk ke dalam outlet perhiasan. Rendi sudah memesan 1 set perhiasan emas untuk Nida sebagai hadiah pernikahan. Kemarin saat akad dia tidak keburu membawa, jadi Rendi sudah menyiapkan kejutan untuk istrinya.


Nida terkejut saat tahu bahwa Eri juga ada di dalam toko. Dia bersama seorang wanita cantik. Nida mengenali kalau itu adalah sepupunya.


Ragu-ragu Nida berjalan ke depan etalase. Sedari tadi, tatapan mata Eri tak lepas memandangi nya. Rendi terus saja merangkul punggung Nida dan langsung berdiri di depan etalase.


"Mbak, pesanan atas nama ibu Nida sudah siap bukan?", tanya Rendi sambil menyerahkan kertas nota. Karyawan toko memeriksa dan langsung mengambilkan perhiasan tersebut.


"Silahkan pak, bu, di cek dulu. Kalau masih ada yang kurang pas ukuran nya, bisa langsung kami perbaiki", ujar karyawati toko dengan ramah.


Rendi meneliti perhiasan pesanan nya. Dia langsung memasangkan ke tubuh Nida seketika. Istrinya kelihatan jauh lebih anggun dan mempesona. Rendi bahkan tak sadar langsung mencium nya seketika.


Melihat perlakuan Rendi, Eri pun tak sanggup menahan diri. Jemarinya terkepal, hendak meninju wajah Rendi saat itu juga. Namun, dia melihat isyarat dari Nida, makanya hal itu urung di lakukan juga.

__ADS_1


"Ini baru istri ku. Kau kelihatan cemerlang, sayang. Mulai sekarang kau harus seperti ini setiap hari. Istri Rendi tak boleh berpenampilan biasa saja", ucap Rendi bangga.


Lagi-lagi Rendi menunjukkan kemesraan di depan wajah Eri.Dia bahkan sudah sangat tidak tahan, hingga tiba-tiba Eri berjalan keluar meninggalkan sepupunya sendirian. Nida memandangi kepergian Eri dengan perasaan sedih.


__ADS_2