
Siang yang terik, sinar matahari menyengat tubuh. Namun para wisatawan asing justru berjejer di tepi pantai untuk berjemur. Sepanjang jalan yang di lalui Nida dan Rendi, tampak berderet toko souvenir khas bikinan para perajin di Bali. Ada juga sebagian penjual yang berkeliling menjajakan dagangan mereka. Menghampiri para turis yang sedang bersantai ataupun berlalu lalang.
Rendy menggamit lengan Nida memasuki sebuah butik terkenal di pinggir pantai Kuta. Mereka di sambut oleh pemilik butik sendiri, yang kebetulan adalah teman baik Rendi.
"Rendi,, kejutan sekali kau kemari. Tumben tak menelponku lebih dulu", ujar Melisa sambil menghampiri Rendi dan mencium pipinya.
"Kami sedang berbulan madu, mana mungkin aku bilang padamu. Bisa-bisa kau mengganggu kami nanti. O,,ya...kenalkan ini istri ku...Nida", jawab Rendi pada Melisa.
Nida tersenyum di samping Rendi. Sementara Melisa mendekatinya dan langsung memeluk serta mencium pipi Nida sampai hampir terjatuh.
"Sayang, dia Melisa..pemilik butik di tempat ini", ujar Rendi memperkenalkan keduanya.
"Sayang....?? Jadi dia benar istri mu??, sejak kapan???....kenapa kau tak mengundang ku???",tanya Melisa memberondong Rendi.
"Aku malas menjawab pertanyaan mu. Lebih baik kau tanya sendiri pada istri ku", jawab Rendi jengkel.
Alih-alih bertanya pada Nida, Melisa malah mendekati Rendi dan memukul dadanya dengan keras sambil menangis di pelukan nya. Pemandangan ini justru membuat Nida tersenyum geli. Panas-panas begini mendapat tontonan yang menghibur. Maklum saja karena Melisa adalah seorang transgender.
"Kau sungguh jahat, tega sekali meninggalkan ku, mana istri mu cantik lagi. Aaa.....aku sungguh tak rela kau tinggalkan", ujar Melisa merajuk.
"Tenang saja Mel, istri ku ini bukan pencemburu. Jadi kau bebas memeluk mu sepuas mu", ucap Rendi sambil mendekap tubuh Melisa yang masih histeris.
Rendi pun melepaskan pelukan nya dan menghampiri Nida. Sementara Melisa masih menempel kepada Rendi.
"Aku mau kau tunjukkan baju, tas dan sepatu koleksi mu untuk Nida. Mulai sekarang istri ku harus terlihat cantik setiap hari. Kau dengar kata ku kan Mel?", ucap Rendi.
Melisa pun berjalan menghampiri Nida dan berputar mengitarinya. Sesaat kemudian, dia menyentuh wajah Nida dengan lembut.
"Dia sudah cantik begini, mau di bikin seperti apa lagi?", tanya nya kepada Rendi.
"Terserah kau saja, kau yang lebih tahu kan cara mendandani istri ku. Dan satu lagi, acara pernikahan kami nanti kau yang mengurus semuanya. Jadi, terbang lah ke Jakarta dua hari lagi dan temui mama ku", sambung Rendi.
Rendi duduk di sofa, sementara Melisa membawa Nida masuk. Dia memotong rambut panjang Nida dan mewarnainya. Tak lupa dia pun memoles Nida dengan sentuhan make up yang sesuai dengan bentuk wajahnya. Koleksi pakaian beserta perlengkapan nya sudah menempel di tubuh cantik Nida. Dia terlihat seperti boneka berjalan karena saking cantik nya.
__ADS_1
Melisa mengantar Nida ke depan Rendi. Seketika Rendi terkejut karena perubahan penampilan istrinya. Rendi bahkan hampir tak mengenali wajah istrinya yang baru.
Rendi mendekati Melisa dan mencium keningnya.
Dia juga mengangkat dan memeluk tubuh Melisa dengan senyum mengembang.
"Kau memang yang terbaik Melisa. Aku sungguh kagum dengan sentuhan karya mu kali ini", ucap Rendi.
"Tunggu,,, sedari tadi hanya kau yang terus bicara
padaku. Aku curiga,,jangan-jangan istri mu ini gagu ya??". tanya Melisa penasaran.
Rendi tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Melisa. Sementara Nida hanya tersenyum sambil tersipu malu.
"Ayo sayang, bicaralah padanya supaya kau tidak di kira boneka oleh Melisa antik ini. Tunjuk kan kalau suara mu itu sangat merdu", ucap Rendi sambil masih tertawa geli.
Nida pun akhirnya membuka suara. Walaupun sebenarnya dia kurang menyukai hal-hal seperti ini.
ucap Nida sambil memegang tangan Melisa.
"Oh.....ternyata benar kau manusia. Ku kira kau ini boneka hidup. Aku sungguh iri padamu. Selain cantik, suara mu juga sangat merdu",jawab Melisa senang.
Ketiganya pun mengobrol panjang lebar tentang konsep resepsi yang akan di gelar oleh keluarga Rendi. Mulai dari busana, hingga tema dan konsep pesta. Setelah puas berbincang, Rendi dan Nida pun meninggalkan butik Melisa dan kembali ke hotel.
Sepanjang jalan Rendi tak henti memandangi wajah Nida yang sudah kelihatan berbeda. Nida yang biasanya polos dan jarang memakai make up, kini tampak anggun dan jauh lebih cantik.
Rendi semakin merasa jatuh cinta pada istrinya.
Keduanya tiba di hotel dengan tentengan tas yang lumayan banyak. Mulai dari baju, tas, sepatu dan kacamata serta topi, semua Rendi beli untuk Nida. Dia ingin istrinya terlihat berkelas dengan barang-barang bermerk.
"Sayang, bagaimana..apa kau menyukainya?", tanya Rendi.
"Aku suka mas, tapi....rasanya ini terlalu berlebihan. Ini terlalu banyak kalau hanya aku yang memakainya", ujar Nida sambil mengeluarkan barang belanjaan dari tasnya.
__ADS_1
"Ini belum seberapa sayang.Mulai sekarang kau harus memakai apapun sesuai keinginan ku. Aku tak mau istri ku di pandang sebelah mata di luar sana",tambahnya.
"Kalau kau kurang suka, kau bisa berikan sebagian pada kakak mu saat kita pulang nanti.
Kita bisa beli lagi dari butik yang lain", sambung Rendi.
"Tak usah mas, ini sudah bagus bagi ku. Lagipula Melisa bisa marah nanti kalau aku tidak memakainya", ujar Nida buru-buru.
Nida memandangi semua barang yang baru saja dia beli. Semuanya bukan selera Nida sama sekali. Bahkan penampilan nya ini, rambut sebahu dengan warna semi pirang, sungguh Nida sangat tak menyukainya. Namun, apalah daya. Nida memang hanya boneka hidup yang bebas di
perlakukan sesuai kehendak pemiliknya.
Nida meninggalkan barang-barang tersebut dan segera pergi ke kamar mandi. Tubuh dan jiwanya sungguh lelah harus terus-menerus berpura-pura.
Dia pun menanggalkan bajunya dan berendam di dalam bak air hangat. Setidaknya masih ada hal kecil yang bisa menenangkan jiwanya.
"Sayang,,apa kau di dalam?. Buka pintunya..!!!".
teriak Rendi membuyarkan lamunan Nida.
Ketenangan itu rupanya tidak bertahan lama. Rupanya Rendi sudah kembali ke kamar. Padahal semula dia bilang hendak ke kafe. Nyatanya dia sudah mengganggu relaksasi Nida.
"Tunggu sebentar mas, aku masih berendam", sahut Nida dari dalam kamar mandi.
"Buka pintunya sekarang sayang, kenapa pula harus kau kunci. Aku ini kan suami mu", teriak Rendi sambil mengetuk pintu tak henti seperti anak kecil.
Nida akhirnya menyerah. Dia meraih handuk dan langsung memakainya. Setelah itu dia membuka pintu kamar mandi.
"Aku masih belum selesai mandi mas. Kau mau apa?", tanya Nida.
Seolah tak memperdulikan pertanyaan Nida, Rendi langsung membuka kaos dan celana pendeknya. Dia kemudian menarik tangan Nida kembali ke dalam. Keduanya masuk ke dalam bak dan berendam bersama.
...****************...
__ADS_1