AKU BUKAN LAH BONEKA

AKU BUKAN LAH BONEKA
Bab 12.


__ADS_3

Perjalanan yang panjang telah di tempuh pasangan pengantin baru Rendi dan Nida selama 3 hari. Mengingat kondisi tubuh Nida yang sedang kurang sehat, mereka lebih banyak beristirahat di jalan. Pagi ini mereka sudah sampai di apartemen Rendi. Sengaja dia tidak membawa Nida ke rumah orang tua nya agar bisa beristirahat dulu.


"Ayo.sayang masuk lah,, kita tinggal di sini dulu sementara. Nanti kalau badan mu sudah mendingan, baru kita ke rumah orang tua ku", ucap Rendi sambil membawa istrinya ke kamar tidur.


"Kau menyewa apartemen ini untuk kita tinggali?", tanya Nida penasaran.


"Ini milik ku sendiri sayang. Sebelum kita menikah, aku memang sudah tinggal di sini", ucap Rendi.


Nida memperhatikan sekeliling kamar. Memang tampak benda-benda khas milik pria di sana. Ruangan nya juga cukup bersih dan rapi. Mungkin memang benar kalau Rendi sudah lama menempati apartemen ini.


"Ku pikir kau tinggal serumah dengan orang tua mu selama ini. Tak kusangka kau punya apartemen seluas ini untuk di tempati", ujar Nida.


"Aku sudah mandiri sejak kecil. Untuk urusan pekerjaan, aku memulai semuanya dari nol. Orang tua ku mungkin kaya Nida, tapi aku sama sekali tak memanfaatkan harta mereka".


"Saat ibu mu meminta mahar yang begitu besar, aku langsung menyanggupi nya. Niat ku hanya ingin menolong ibu mu dari jeratan hutang. Aku sama sekali tak berpikir akan seperti apa wanita yang di jodoh kan dengan ku",imbuh Rendi.


"Nyatanya, aku mendapat kan lebih dari uang yang ku berikan pada ibu mu. Kalaupun aku harus menukar semua harta ku demi diri mu, aku rela Nida. Aku sungguh sangat rela. Aku sudah mendapatkan wanita yang tepat. Baik luar maupun dalam. Kau bagi ku sudah sangat sempurna", ucap Rendi tulus.


Entah kenapa mendengar kata-kata Rendi, hati Nida langsung bergetar hebat. Tak terasa bulir bening menetes dari pelupuk matanya. Rendi lelaki yang sangat baik. Hanya saja, perasaan Nida masih belum sepenuhnya untuk dirinya.


"Maaf kan aku mas. Aku sudah pernah berprasangka buruk padamu. Maaf kan kesalahan ibu ku juga. Semua perbuatan nya benar-benar di luar kuasa ku", ucap Nida di sela isak tangisnya.


"Sayang,,, kau tak perlu meminta maaf. Justru aku harusnya yang berterimakasih pada ibu mu karena telah mempertemukan kita berdua".


"Sebentar lagi, kita akan mempunyai buah hati yang tentunya sangat aku inginkan. Terimakasih atas anugerah dan kebahagiaan yang kau berikan pada ku sayang", ucap Rendi mengusap air mata Nida. Lelaki itu kemudian memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Kau lelaki yang baik mas. Maaf kan aku kalau hanya sebatas tubuh ku yang menjadi milik mu. Hati ku masih menjadi milik orang lain mas. Dan sampai detik ini, aku masih saja mencintainya", batin Nida pilu.


"Kau istirahat saja dulu. Aku keluar sebentar ke supermarket. Kulkas kita kosong, biar aku yang belanja. Orang bilang ibu hamil sering merasa lapar di malam hari. Aku tak mau kalian berdua sampai kelaparan", ujar Rendi sambil mengelus mesra perut Nida.


"Terima kasih banyak mas, maaf aku tak bisa menemani mu kali ini", ucap Nida sambil tersenyum.


Rendi bergegas keluar dari apartemen sambil memgenakan jaket nya. Dia mengendarai mobil menuju supermarket di sekitar apartemen. Rendi membeli semua makanan kecil serta buah-buahan untuk Nida.


Sementara itu, di rumah Nida, bu Norma tampak gelisah. Berulang kali dia menghubungi Nida, tapi tak juga di respon. Sudah hampir satu bulan sejak pernikahan, putrinya seperti menghilang tanpa kabar.


Bayangan uang begitu banyak sudah ada di pikiran nya. Hanya tinggal membujuk Nida agar mau bercerai dengan Rendi. Maka bu Norma akan menjadi orang kaya. Pundi-pundi uang akan mengalir dari kantong Eri. Tapi, sungguh menjengkelkan kalau sampai saat ini Nida tak kunjung ada kabar nya.


"Apa kalian masih juga belum bisa menghubungi Nida?", tanya bu Norma pada kedua putri nya.


"Sudah lah bu,,,mereka kan sedang berbulan madu. Tidak baik mengganggu pengantin baru", ucap nya.


Kedua putri bu Norma heran melihat kekesalan ibunya. Mereka pun pergi ke kamar nya masing-masing, takut bu Norma berbuat ulah lagi.


Nida hendak memejamkan mata. Tapi sedari tadi perutnya terasa mual. Badan nya pun lemas tak bertenaga. Terlebih lagi dirinya baru saja kembali dari perjalanan panjang. Kondisi tubuhnya benar-benar menurun drastis.


Nida menatap layar ponsel nya sekilas. Banyak sekali pesan dan panggilan dari Eri yang sudah di abaikan nya sejak beberapa hari yang lalu. Sungguh, Nida tak akan berani menghadapi Eri saat nanti dia tahu kalau dirinya mengandung buah hati Rendi.


Nida menaruh kembali ponselnya di dalam tas. Untuk saat ini yang di butuh kan nya adalah ketenangan, supaya kondisi tubuhnya segera membaik. Dia akan menemui Eri saat sudah sehat nanti.


Dari dalam kamar, terdengar suara pintu di buka.

__ADS_1


Mungkin saja Rendi sudah kembali. Nida bergegas bangkit dan berjalan keluar kamar. Di lihat nya, Rendi masuk ke dalam dengan kedua tangan penuh berisi barang belanjaan.


"Sayang, kau harusnya jangan bangun, aku bisa melakukan nya sendiri", ucap Rendi.


"Tak apa mas, badan ku sudah jauh lebih baik sekarang", jawab Nida.


"Lagipula,,,aku tak perlu manja, hanya karena sedang hamil kan mas?. Aku mahal berencana berangkat kerja senin depan",ucap Nida lagi.


Rendi agak sedikit terkejut mendengar pernyataan istrinya. Hal yang di sampaikan Nida sama sekali tak terbayang di benaknya. Rendi meletakkan belanjaan di meja dapur dan berjalan menghampiri Nida.


Dia memeluk istrinya dari belakang dengan tiba-tiba. Kepala Rendi di sandarkan di bahu Nida, sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Sayang,,bagaimana kalau sementara kau berhenti kerja saja. Aku ingin kau hanya fokus mengurus ku dan anak kita saja. Untuk urusan uang, biar aku saja yang mencarinya. Tinggal lah di rumah dan mengurus rumah tangga kita", bisik Rendi lirih di dekat telinga istrinya.


"Lagipula, aku senang kalau istri ku bersikap manja pada ku. Aku akan selalu berusaha memenuhi keinginan kalian berdua", imbuh Rendi lagi.


Nida ingin membantah, tapi lagi-lagi lidah nya kelu.


Rendi bermaksud baik, tapi menurut nya hal itu hanya akan membuat dirinya serasa sebagai tahanan rumah. Bagaimanapun Nida masih ingin aktif berkegiatan di luar. Setidaknya menjaga kewarasan dirinya sendiri dari tekanan perasaan.


"Bagaimana sayang, kau setuju kan kalau kau resign saja. Aku tak mau kau terlalu capek dan akhirnya kesehatan mu terganggu", ucap Rendi sambil memegang dagu Nida dan mencium pipi nya sekilas.


"Akan aku pikirkan dulu mas. Aku takut bosan di rumah sendirian kalau kau sedang bekerja", jawab Nida.


Nida masih terdiam di pelukan suaminya.Entah apa yang harus di perbuat oleh nya sekarang. Yang jelas, Nida masih ingin tetap bisa bekerja seperti biasanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2