
Apa yang terjadi membuat ku semakin berpikir sebenarnya ada apa ini, apakah ini dampak dari kesalahanku waktu itu ketika mendesak bang irham untuk menikah, entah bagaimana cara menjelaskan pada semua orang, memperbaiki semua kesalahpahaman ini. Terkadang aku merasa lelah, merasa sendiri tapi apa mau di kata aku hanya bisa menyerahkannya pada Sang Maha Pencipta.
Hari hari aku dan bang irham lalui ada ada saja cerita yang kami dengar, orang orang bercerita dari mulut ke mulut ke sana ke mari tanpa tahu kebenarannya. Aku hanya bisa diam dan bersabar waktu akan menjawab semuanya.
Hari ini ada hari di mana aku akan melakukan test lanjutan di salah satu rumah sakit terbesar di kota ini, namun bang irham melarang ku melanjutkan test tersebut, ia menganjurkanku menjadi ibu rumah tangga total.
Hal yang membuat ia takut adalah jadwal shift yang berbenturan antara aku dan bang irham sehingga kemungkinan waktu kami untuk berdua akan sedikit.
" dek, sebaiknya hari ini tidak usah berangkat test" pinta bang irham padaku selepas shalat subuh
"tapi bagaimana bang, sayang kalau tidak di lanjutkan ini kan tinggal dua tahap lagi" kataku dengan raut wajah tidak percaya akan keputusan bang irham, bukankah sebelum ini semua baik baik saja tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, tapi apa boleh buat mungkin bang irham sudah memikirkan apa yang terbaik untuk kami berdua ke depannya, bukankah ketika kami berdua sama sama bekerja akan memiliki sedikit waktu untuk bersama, aku akui itu.
Awalnya memang terasa berat tapi akhirnya aku pun mengikuti apa yang bang irham katakan.
hari demi hari aku dan bang irham lalui, banyak hal yang terjadi banyak hal yang harus kami lakukan, misalnya saling menyesuaikan, mengalah satu sama lain tidaklah berdiri pada ego sendiri.
Rupanya seperti ini pernikahan, kami yang baru saja menjalankan pernikahan beberapa hari harus saling mengerti dan memahami bagaimana yang bertahun tahun.
keesokan harinya aku dan bang irham berkunjung ke rumah ibu mertua, niat hati ingin bersilahturahmi ternyata mendapatkan masalah baru lagi, tapi di sini aku bersyukur bang irham mencoba untuk menjelaskan tanpa memihak.
__ADS_1
Ibu " kenapa tidak jadi kerja, kenapa tidak lanjutkan test nya, bukan itu tujuan awalnya?" begitulah respon ibu ketika aku menceritakan kenapa tidak jadi bekerja
"bukan seperti itu bu, kalau kami sama sama bekerja kemungkinan waktu kami akan sangat minim untuk bertemu" kata bang irham
"tapi kenapa, jadi kamu akan bekerja sendiri? Buat apa sekolah tinggi tinggi kalau tidak bekerja" ujar ibu lagi, di sini aku sedikit tersinggung bukankah bekerja itu keputusanku, masalah sekolah tinggi atau apapun bukan hak ibu, menjadi seorang ibu rumah tangga dengan sekolah tinggi tidak masalah bukankah seorang ibu harus memiliki ilmu untuk membimbing anak anaknya kelak, bukankah ibu adalah madrasah pertama seorang anak, ah sudahlah percuma aku membantah bukan akan menyelesaikan masalah tapi akan menambah masalah baru lagi.
"ini murni keputusan irham bu, melia sebenarnya mau bekerja, tapi irham yang melarang. Irham masih sanggup menafkahi melia bu insya Allah" kata bang irham putus asa
"tapi bagaimana dengan ibu, otomatis semuanya akan ke melia, ibu bagaimana?" lagi lagi ibu tidak terima, mungkin maksud ibu di sini adalah gaji bang irham
"memang sekarang melia istri ku bu tapi bukan berarti aku melupakan tanggung jawabku pada ibu, tolong mengertilah bu" kata bang irham
"ah sudahlah, terserah kalian saja. Percuma cape cape ibu menyekolahkan kalian toh nanti yang menikmati gaji kalian bukan ibu malahan istri dan mertua kalian" kata ibu
Astagfirullah, aku hanya bisa mengelus dada tampak bang irham mulai emosi, apa maksud dari ibu ini, aku tidak mungkin seserakah itu.
"Ayolah dek pulang," kata bang irham mengajakku pulang untuk mencegah keributan, aku yang awalnya ingin menjawab ku urungkan niatku dan segera berpamitan pada ibu dan bapak yang kebutulan baru kembali.
Apa maksud dari ucapan ibu ini, bukankah bang irham mempunyai kewajiban menafkahiku, aku sekarang menjadi tanggung jawab bang irham.
__ADS_1
Setiba kami di rumah bang irham mencoba menenangkanku untuk tidak mendengarkan apa kata ibu, mungkin di sini ibu merasa tersaingi yang selama ini semua dan segala sesuatu masalah keuangan anaknya dan lain lain ibu yang mengaturnya, sekarang ada perempuan lain dalam kehidupan anaknya yang akan menjadi prioritas mungkin di sini ibu merasa di duakan dan belum bisa terima, aku mencoba mencerna apa yang bang irham katakan dan ya aku pun merasa apa yang bang irham katakan ada benarnya juga, mungkin di sini akulah yany harus sedikit mengalah, sedikit memahami dan berlapang dada dengan ibu, semoga kedepannya aku bisa terus bersabar dengan kalakuan ibu meski terkadang menyakitkan.
"tolong sedikitlah bersabar dengan ibu dek, semoga kedepannya ibu bisa memahami semuanya" kata bang irham padaku setiba kami di rumah
"baiklah bang, semoga aku bisa terus bersabar dengan ibu dan terus bisa memahami" kataku
"iya dek terimakasih, abang akan coba menjelaskan pada ibu perlahan lahan" kata bang irham
"iya bang adek mengerti"
Aku hanya berharap semoga kedepannya ibu sedikit memahami dan tidak berulah. Aku tidak tahu akan sampai di mana batas kesabaranku.
Di sinipun aku masih dilema masih belum menerima keputusan bang irham agar aku tidaklah bekerja aku masih mencoba menerima, disini yang aku butuhkan adalah sebuah dukungan bukan malah manjatuhkan mentalku, siapa yang tidak ingin bekerja, akupun ingin apalagi dengan menikmati uang hasil kerja kerasku sendiri tanpa membenani siapapun tapi bukankah aku harus mendengarka apa yang bang irham katakan, dia sekarang suamiku, imamku surgaku ada padanya baktiku telah berpindah padanya. Apa yang bamg irham katakan, apa yang bang irham putuskan adalah yang terbaik untuk kami, tidaklah mungkin dia memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang dampaknya ke depan.
Sekarang tugasku dan bang irham rupanya bertambah, bukan hanya mengejar restu dan maaf kedua orang tuaku saja, tapi bertambah berusaha menjelasakan dan memahami apa yang di inginkan ibu mertua, di sini kami harus ekstra bekerja keras dan bersabar.
Terkadang aku berpikir sanggupkah kami menjalani semua ini sanggupkah kami menyelesaikan semua ini, ingin rasanya berteriak sekerasnya, ingin rasanya menghilang tapi apalah dayaku, pernikahan kami masih seumur jagung bahkan masih hitungan hari tapi cobaan yang kami hadapi semakin bertambah, belum selesai satu masalah di tambah satu masalah
Ternyata aku lupa, aku masih memiliki Tuhan, Dialah tempatku megeluh akan segalah yang aku hadapi, bukankah sebaik baiknya solusi adalah berserah pada Sang Maha Pencipta
__ADS_1