
Beberapa hari kemudian, aku dan bang irham pergi ke rumah ibu kami berencana akan bermalam sehari di sana mengingat jadwal cuti bang irham tinggal beberapa hari lagi.
Sesampainya kami di sana kami di sambut baik oleh ibu dan bapak, kebetulan aku dan bang irham ke rumah pada sore hari.
Di rumah hanya ibu,bapak dan bayu dan zahra sedang berada di rumah mertuanya.
"kenapa datangnya sore sore begini bukan dari pagi saja? " tanya ibu mertua
"iya bu, kebetulan tadi ada teman teman melia yang mampir di kos" bang irham menjelaskan.
"oh iya fotonya kapan selesai, ibu pingin lihat" ibu menanyakan perihal foto pernikahan kami.
"iya bu fotonya sudah hampir rampung, nant kalau esok sudah selesai aku ke sini antar" kataku pada ibu, ibu hanya mengangguk saja mendengar jawaban ku.
Ibu mertuaku ini sebenarnya orangnya baik kalau sedang baik, tapi kalau apa yang terjadi tidak berjalan sesuai maunya maka semua yang baik akan terlihat tidak baik.
Tidak ada yang spesial yang aku lakukan di sini, terkadang hanya menonton atau sekedar hanya membantu ibu.
aku hampir lupa, sebenarnya om ku (om ardi) yang hadir pada acara pernikahanku rencananya esok akan kembali ke kota B, malam harinya aku dan bang irham pergi mengunjunginya di kontrakan sepupu ku, sebelum ke sana aku dan bang irham mampir di toko pusat oleh oleh khas daerah sini membelikan beberapa buah tangan untuk keluargaku.
Setibaku di sana, karena banyak sekampung ku yang ada jadi kami berkumpul sambil bercerita hingga lupa waktu dan ternyata sudah hampir jam sebelas malam aku dan bang irham bergegas pamit pulang ke rumah ibu.
"kenapa malam sekali kembalinya? Tanya ibu sesampai kami di rumah
" iya bu tadi keasyikan cerita sampai lupa waktu" ujarku menjelaskan
"lain kali ingat waktu, jangan sampai pulangnya jam begini" kata ibu
"iya bu, maaf kami tidak tahu kalau ibu menunggu" bang irham menjelaskan
__ADS_1
" lalu bagaimana kalau ibu sudah tidur siapa yang akan bukakan pintu" kata ibu lagi
"iya bu sudah, aku dan melia yang salah. Kami minta maaf"
"mmmm" hanya itu jawaban ibu mertua. Lalu ibu beranjak masuk ke kamar untuk isterahat, sebelumnya ibu sempat menyuruhku mengambil bantal di kamar zahra. Aku beranjak mengambil bantal setelah itu aku dan bang irham pun tidur.
Keesokan harinya, aku melihat beberapa tetangga ibu yang sedang berkumpul di depan rumah ibu sambil bercerita. Aku pun bergabung dengan mereka sambil menunggu bang irham yang pergi membeli bakso untuk sarapan.
Tiba tiba ada ibu mertua yang ikut bergabung, nampak nya ibu baru kembali dari pasar dan setelah masuk menyimpan belanjaannya ibu bergabung dengan kami lalu tiba tiba ibu langsung memotong pembicaraan ku dengan kak sita, aku dan kak sita memang pada awalnya sedang bercerita tentang perbedaan adat pernikahan tiap daerah.
"iya memang biasanya itu kalau ada dua pasangan pengantin menikah biasanya salah satu tidak bertahan lama pernikahannya atau tidak mempunyai anak" Kata ibu.
Aku begitu terkejut dengan pernyataan ibu, itu artinya ibu membicarakan antara pernikahan ku dan begitu juga pernikahan zahra. Seharusnya kalau memang ibu tahu dengan mitos begini kenapa mesti menikahkan kedua anaknya secara bersamaan, meski di sini setelah ibu bicara langsung pergi meninggalkan aku dan kak sita tapi tak bisa aku pungkiri betapa terkejutnya aku.
" sudahlah melia, ucapan ibumu jangan di masukkan di hati,ibumu memang biasa begitu" kata kak sita menenangkanku
" tapi kak" kataku ragu
"iya kak, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi di pernikaha kami". Kataku
" amin ya Allah, sudah masuk sana itu irham sudah datang sepertinya membawa makanan" kak sita menyuruhku masuk"
"iya kak, tadi bang irham pamit beli bakso, ayo kak masuk kita makan sama sama" aku mengajak kak sita tapi rupanya ajakanku di tolak, kak sita beralasan sudah sarapan dan mengajakku sesekali mampir di rumahnya, aku hanya mengiyakan dan segera masuk ke dalam rumah.
aku sebenarnya ingin sekali bercerita tentang apa yang ibu katakan tadi, tapi aku ragu nanti bang irham tidak mempercayaiku, akupun tidak ingin bikin keributan.
Bukannya perkataan yang baik akan di dengar Allah dan yang buruk akan di kembalikan pada yang mengucapkan, apa yang kita tabur itu yang kita tuai.
Setelah sarapan, bang irham kembali ke depan televisi berbaring, rupanya bang irham masih sangat mengantuk, terbuki dengan baru beberapa detik barbaring bang irham sudah tertidur.
__ADS_1
karena bosan di tinggal tiudr dan tidak tahu apa yang mau aku lakukan, aku keluar duduk depan rumah.
Karna keasyikan duduk sambil bermain game sepintas aku mendengar ada memanggil akupun menoleh dan ternyata tante jelita yang memanggilku, akupun beranjak menghampiri tante jelita di depan rumahnya.
"kamu sudah berapa bulan? " tanya tante jelita
aku terkejut dengan pertanyaan tante jelita.
"maksudnya apa tante? " tanyaku
"bukannya kamu hamil melia? sudah berapa bulan? Tante jelita kembali memperjelas pertanyaannya
" tidak tante aku tidak hamil, tapi doakan secepatnya di beri kepercayaan" ucapku
"loh bukannya kamu hamil kata ibu mertuamu makanya pernikahanmu dengan irham di percepat? Tante jelita lagi lagi bertanya
Astagfirullah (ujarku dalam hati) apa lagi ini? Aku segera bergegas meninggalkan tante jelita tak ku hiraukan lagi panggilannya, aku hanya bisa menangis (apa lagi ini yang tadi saja masih berasa, ini apalagi?) batinku.
Segera aku temui bang irham, bang irham yang sedang menonton pun terkejut ketika aku tiba tiba memeluknya sambil menangis.
" kamu kenapa dek? Kenapa menangis? Tanya bang irham
"tidak bang, tidak apa apa, biarkan aku begini kataku tanpa melepaskan pelukannya.
Aku tahu bang irham pasti sangat terkejut dan bertanya tanya dengan sikapku ini.
" ayo bang kita pulang, kembali ke kos-an" kataku mengajak bang irham pulang, sebenarnya kami berencana kami akan bermalam semalam lagi, tapi apa mau di kata aku mulai tak tenang dan tak betah.
Cobaan apa lagi ini.
__ADS_1
aku termenung sejenak setelah merasa sedikit puas menumpahkan kekecewaanku dengan air mata.
Kenapa banyak sekali ucapan simpang siur terdengar begini begitu, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku kembali berpikir aku tidak hamil sekarang tapi bagaimana cara menjelaskan sedangkan hampir semua orang tahunya aku hamil, semoga suatu saat aku di berikan kesempatan memiliki anak sekaligus membuktikan apa yang orang orang pikirkan dan apa yang tersebar.