Aku Butuh Restu

Aku Butuh Restu
Sebelas


__ADS_3

"bang, sepertinya aku harus coba menghubungi papa dan mama( kedua orangtua melia)bang, setidaknya kalau tidak bisa kita ke sana aku usahakan menelpon bang semoga respon mereka baik bang dan bisa mengerti", ujarku pada bang irham


Setelah hari pernikahanku dan bang irham baru kali ini aku berusaha menelpon mama, sebenarnya bukan tidak mau untuk datang ke sana tapi jarak anatara kota tempat tinggalku dan bang irham dengan orang tuaku sangatlah jauh bahkan harus dengan naik pesawat, memakan waktu berhari hari dan biaya yang cukup besar hal itu yang menjadi penghalang untuk kami ke sana.


" baiklah dek, semoga respon mereka baik dan bisa mengerti keputusan kita" ujar bang irham.


Berulang kali aku mencoba menghubungi nomor telepon mama yang ku hadap apa mama malah mereject teleponku, tapi aku terus berusaha mencoba pada akhirnya mama menonaktikan ponselnya, ahh apalah dayaku ingin rasanya aku segera mendatangi mereka menjelaskan apa yang terjadi menagis bersujud di kaki mereka, Tuhan sebesar itukah kesalahanku aku butuh di dengarkan.


Setelah ponsel mama yang akhirnya di matikan aku tak berputus asa, aku mencoba menghubungi ponsel papa, satu kali dua kali tidk di jawab kali ketika papa merespon teleponku


"akhirnya papa mengangkat teleponku, apa kabar pa? " tanyaku


" maaf ini siapa" respon papa, aku sedikit terjekut dengan tanggapan papa bukannya papa mengetahui nomor ponselku dan di simpan


"ini melia pah" ujarku


"melia siapa, maaf kami tidak kenal dengan yang namanya melia" kata papa lalu mematikan ponselnya.


Betapa hancur hatiku, runtuh sudah duniaku. Aku seakan di hempaskan di ujung jurang entahlah apa yang harus aku lakukan, menangis menangis dan menangis menyalahkan diri sendiri, menyalahan takdir pun seakan percuma seandainya aku bisa memilih aku tak ingin berada di posisi ini memilih untuk meraih kebahagiaan menikah dengan laki laki pilihanku laki laki yang aku cintai tapi kehilangan kedua orang tuaku bahkan tidak mungkin saudara saudaraku akan melakukan hal yang sama tanpa meminta penjelasan dariku.


Aku masih berusaha menelpon kembali ponsel papa tapi nihil hasilnya papa ikut menonaktifkan ponselnya.


"sudahlah dek kita akan coba lain waktu, masih ada besok besok menghubungi mama dan papa" ujar bang irham berusaha membujukku


"tapi bang,ini saja mereka tidak mau berbicara denganku" kataku


" iya dek abang tahu, cobalah lagi besok mungkin sekarang mereka belum bisa menerima tapi kita tidak tahu bagaimana esok" kata bang irham menenangkan ku

__ADS_1


" ini bukan kamu yang alami bang, andaikan ini kamu apakah begini juga responmu" kataku tak terima


" lalu adek maunya bagaimana, abang harus bagaimana? Tanya bang irham


"aku tidak tahu, abang tidak mengerti karena ini bukan terjadi pada abang, abang hanya bisa bilang sabar sabar sabar, coba abang ada di posisiku" ujarku tak terima


"ini semua juga salah kamu dek, andaikan hari itu kamu tidak ke rumah minta menikah ini tidak akan begini" kata bang irham mengungkit kesalahanku yang memintanya menikahi ku


" ya Allah bang, kalau memang menikah denganku hanya sebuah keterpaksaan sudahlah bang, apa abang menyesal menikah denganku? Tanyaku kalap rupanya pertengkaran tak bisa aku dan bang irham hindari,


" bukan seperti itu maksud abang dek, mengertilah" bang irham mencoba mengalah


"mengerti bagaimana bang? Apa yang harus aku pahami, bukankah abang sendiri yang berjanji akan menikahiku sampe kapan aku harus mengerti, abang sendiri yang berkata pada orang tuaku berjanji akan menikahiku tahun ini, melarangku menerima pinangan berapa laki laki yang datang pada kedua orangtua angkatku, lalu apa salahku meminta kepastian dan memang seandainya malam itu aku tidak berbicara pada ibu dan bapak belum tentu sekarang kita menikah yang ada abang hanya bilang sabar sabar sabar padaku tanpa ada usaha" kataku panjang lebar


"iya dek, sudahlah abang minta maaf" kata bang irham.


Rasa cintaku mengalahkan segalanya aku tak tahu sekarang ini aku berada di jalan yang salah atau benar semua terasa berat, ini menang jalan yang sudah aku pilih tapi bukankah semua inu terasa berat aku seakan berdiri dengan satu kaki, melihat respon dari bang irham seakan memang semua salahku atau memang itu murni salahku


Aku sadar andaikan waktu bisa di putar aku akan memperbaiki semua ini, aku tahu aku telah mengecewakan kedua orangtuaku aku menghancurkan mimpi mereka, aku teringat akan ucapan mama yang sangat ingin menikahkan anak perempuan mereka ingin membuat pesta di rumah sendiri, karena salama ini mama maupun papa tidak pernah membuat pesta tapi aku sudah menghancurkan semua.


Bukankah aku juga berhak mendapatkan maaf dari mereka, bukankah mereka juga mesti mendengarkan penjelasanku meski memang di sini akulah yang bersalah


Aku tahu berandai andai memang tidaklah baik tapi biarkan lah aku mencoba setidaknya hanya dalam anganku.


Setelah pertengkaranku dengan bang irham, aku hanya diam egoku terlalu tinggi memulai semua


"sudahlah dek, abang salah abang minta maaf" ujar bang irham meminta maaf padaku, aku hanya diam tanpa merespon

__ADS_1


"dek, bicaralah dek jangan mendiami abang begini" kata bang irham lagi, aku masih terdiam


"dek, sudahlah abang mohon tidak seharusnya respon abang begitu, abang tahu abang salah saharusnya abang tidak bicara begitu" kata bang irham lagi lagi berharap aku tidak hanya diam saja,


"aku tahu bang aku salah, tapi aku di sini juga butuh dukungan abang, bukan tambah menyalahkanku" ujarku sambil menangis


" iya dek abang tahu, maafkan abang bukan maksud abang begitu dek tapi ini adek baru satu kali menelpon kita masih bisa mencoba besoknya adek juga tolong mengerti ini masalah di selesaikan dengan kepala dingin" kata bang irham padaku, air mataku tidak bisa q tahan lagi mengalir begitu deras mencoba memahami dan mengerti maksud bang irham.


Malam hari setelah shalat magrib, ternyata papa menghubungiku aku sempat berpikir akan memarahiku atau bagaimana aku terdiam dilema antara mau menjawab telepon papa atau tidak,


"jawablah dek, kita tidak tahu apa yang akan papa katakan kalau tidak bicara, bukankah ini yang di inginkan? Papa menelpon sendri pasti ada maksudnya" kata bang irham sambil menyerahkan ponselku, aku pun menjawab panggilan papa


"iya pah" respon ku pelan seakab tidak siap dengan tanggapan papa


"iya nak ini papa, maaf tadi respon papa begitu tadi papa lagi dengan mama" kata papa


"mama kenapa pah, apa sebesar itu amarah mama sampai tidak ingin mendengar penjelasanku?" tanyaku pada papa


" kamu tahu nak, kamu memang salah kamu juga tahu bagaimana mama mu apapun keputusannya tidak bisa di ganggu gugat" kata papa


"iya pah aku tahu, tapi aku juga berhak menjelaskan pah" kataku lagi


" iya nak, sabarlah semua butuh waktu, pelan pelan saja, semua tidak semudah membalikkan telapak tangan nak" kata papa


"iya pah aku mengerti tolong maafkan aku" kataku yang saat ini tak bisa menahan butiran bening yang semakin deras dari mataku


"iya nak, sudah dulu kalian sehat sehatlah di sana sabarlah perbanyak berdoa" kata papa lalu mematikan ponselnya.

__ADS_1


Di sini aku semakin mengerti semua tidak semudah yang aku inginkan semoga kedepan semuanya di permudah dan bisa kembali membaik


__ADS_2