Aku Butuh Restu

Aku Butuh Restu
Tiga


__ADS_3

Setibaku di rumah bang irham, aku di sambut kak sita sepupu bang irham. "Melia di rumah saja kamu mandi dan bersiap nanti kakak arahkan periasnya ke rumah kakak, akan repot jika di sini", baiklah kak, sambil berkemas aku mengambil keperluanku untuk ku pakai nant di rumah kak sita. di rumah kak sita, ya jarak rumah bang irham dan rumah kak sita hanya berjarak tiga rumah. Setibaku di sana aku berkemas dan menuju kamar mandi, selesai mandi bang irham pun datang menemuiku di sini, "bagaimana keadaan tadi di sana dek? " Bang irham mempertanyakan kondisi di tempat pesta pengantin pria adiknya zahra. Akupun menceritakan semua yang terjadi mulai dari mobil hingga tipa di sana. " Tadi aku sempat berselisih paham dengan andi kak ( andi adalah suami dari zahra) ". " Kenapa bisa dek" Bang irham tampak kaget dengan jawabanku. "Dia mengeluh dengan keterlambatan mobil, katanya seharusnya ikut saja saja mobil rombongan keluarganya" Kataku,"memang dari awal akupun tak setuju jika mereka menikah, tapi apalah mau di kata ibu tidak mau di bantah, andi sepertinya menantu kesayangan ibu" Bang irham mengungkapkan kekesalannya.


Aku hanya bisa terdiam, memang andi orangnya pembawaannya pendiam, saking diamnya tidak ada yang mau ia sapa selain zahra istrinya dan ibu mertuaku. Tak terasa sudah jam setengah enam sore, zahra dan suaminya pun tiba mereka segera ke rumah kak sita, di sama perias pengantin tinggal memperbaiki make up zahra dan mereka berganti pakaian, pakaian yang kami gunakan malam ini berwarna merah, dan pada akad nikah berwarna biru, aku pun teringat beberapa hari sebelum pernikahan kami ibu mertuaku sempat menelpon ku dan memarahi ku "kenapa lagi ada warna merah muda ini di pilihan warna baju melia?", "kata siapa bu" Ujarku, "kata irham, ingat ya melia di sini kamu tidak berhak memilih warna baju apapun itu, semua pilihan mutlak adalah pilihanku" Kata ibu mertuaku berapi-api", aku hanya bisa terdiam dan menangis di satu sisi di sini aku sendirian tidak ada tempat ku mengadu, ini pilihanku baik buruknya harus aku jalani, suka maupun duka.


Selepas shalat magrib, kami pun di antar ke tempat resepsi, di pelaminan dua pasangan pengantin di sandingkan. Berbagai tamu undangan pun datang memberi selamat pada kami, iya malam itu aku hanya di temani ayah angkat ku yang biasa ku panggil paman beserta sepupu sepupu ku, ia datang mewakili keluargaku diapun yamg selalu memberikan nasehat pada ku untuk tetap maju pada pilihan ku, dan berserah pada Sang Maha Pencipta.


Ketika kami sedang bersalaman, tiba-tiba zahra membentakku "kak, bisa diam tidak jangan terlalu banyak bergerak" Aku yang kaget dengan ucapan zahra terdiam dan aku berkata " Maaf dek tapi memang ini sempit di depan sini dan tak bisa kalau aku tidak begeser sedikit", zahra yang mendengan ucapanku hanya memandangku sinis, entahlah apa yang harus aku lakukan aku hanya bisa menahan air mata ini yang akan keluar.

__ADS_1


Banyaknya tamu undangan yang datang ada beberapa dari sepupu sepupu ku, ada juga teman teman SMA ku yang datang, mereka kebetulan ada yang masih menuntut ilmu di sini. Berbagai macam kado aku terima.


Pada jam sembilan tamu undangan mulai berkurang, tiba-tiba kak sita datang menemuiku "ini kado mu melia simpanlah baik-baik dan nanti kamu bawah ke tempat tinggalmu", " baiklah kak" kataku sambil merapikan kado kadoku. Tamu undangan yang berkurang kamo gunakam untuk sesi foto bersama, setelah berfoto kami kembali ke rumah bang irham. Setiba di rumah bang irham, kami bergegas membersihkan diri dan duduk berkumpul. Kebetulan pada saat itu juga ada kekasih adik bang irham bayu ( bayu dan zahra adalah adik bang irham). Setelah itu, ibu mertuaku membuka amplop undangan dan sarah bertugas mencatat nama nama tamu undangan yang memberikan amplop. Setelah semua selesai di hitung dan di catat, totalnya semua sepuluh juta lima ratus ribu. ibu mertua mengembalikan uang cincin, cincin pernikahanku dan bang irham awalnya di beli menggunakan uang ku serta uang fotografer yang di sewa mulai dari akad nikah ku dan bang irham, zahra dan andi serta resepsi kami malam ini.


"melia ini uangnya semua uang cincin dan uang foto" kata ibu mertuaku sambil memberikan uangku. "terimakasih bu" kataku menerima uangnya. "di hitung dulu melia" kata sarah kekasih bayu, " kenapa harus di hitung hitung lagi memangnya kamu tidak percaya? " kata ibu mertuaku, aku hanya terdiam dan lagi lagi harus menelan pil pahit, dan menahan air mataku.


Tepat jam duabelas malam, sahra keluar membawa kue ulang tahun, ya sehari besoknya memang hari ulang tahun bayu. sejenak aku melupakan kesedihanku, kami pun merayakan ulang tahun bayu.

__ADS_1


#flasback


"bu, setalah aku menikah dengan melia, kami akan tinggal di kos- kosan melia bu, kami ingin mandiri" kata bang irham sambil memegang tangan ibunya. Ibu mertuaku hanya bisa menangis, saat itu kami berpamitan pada ibu dan ayah mertuaku. " kenapa tidak tinggal di sini saja nak,rumah di sini besar, nanti aku buatkan kamar untuk mu dan irham" kata ayah mertuaku. "tidak pak, kami telah sepakat setelah menikah kami akan hidup mandiri, biarkan kami berusaha berbahagia dengan cara kami, jika memang suatu saat kami tidak mampu kami pasti akan meminta arahan bapak maupun ibu" kata bang irham bijak."baiklah jika memang itu sudah merupakan keputusan kalian aku bisa apa" kata ibu mertua. "tidak bu, walaupun kami hidup mandiri, kami masih akan sering berkunjung ke sini, tempat kami tinggalpun tidak jauh dari sini" kataku pada ibu mertuaku.


Ibu mertuaku hanya terdiam, usahanya membatalkan rencana kami untuk hidup mandiri gagal, sejak saat itu mau tidak mau ia menyetujui kami hidup mandiri.


#flasback off

__ADS_1


"ibu, kami malam ini harus ke kosan juga" kata bang irham sambil memakan kue ulang tahun bayu, "kenapa harus malam ini, masih bisa besok besok" ujar ibu mertuaku yang tampak masih kaget dan tidak percaya dengan keputusan kami, begitupun yang lainnya, tapi apa mau di kata itu sudah keputusan kami, mau tidak mau kami harus pergi ke kosanku malam itu juga, sebelumnya aku pun sudah meminta izin pada pemilik kosanku dan berpesan pada temanku Uni untuk tidak mengunci pagar kosan.


"aku sudah memesan taksi online berkemaslah" kata bang irham sambil berkemas juga, "baikalh tidak apa-apa,besok pagi ke sinilah biar pamit baik baik pada yang lainnya" kata bapak mertuaku. Aku pun segera berkemas di bantu sarah, ibu mertuaku tampak kaget karena aku memasukan semua kadoku dalam kantongan yang di sediakan sarah. Tak lama mobil online pesanan kami tiba, aku dan bang irham berpamitan pada orang rumah.


__ADS_2