Aku Butuh Restu

Aku Butuh Restu
limabelas


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan aku dan bang irham tidak berkunjung ke rumah ibu, bukan memang tanpa alasan masih seputar kejadian waktu itu. Awalnya aku berpikir bang irham akan sering berkunjung ke rumah ibu tanpa mempermasalahkan kejadian kemarin ternyata pemikiranku salah besar


Tidak ada sedikitpun niat atau ucapanku yang mengatakan atau melarang bang irham berkunjung, aku tidak tahu rupanya kejadian tersebut tidak hanya membuat diriku saja yang merasa sakit hati ternyata bang irham pun sedikit merasa tersinggung dengan kejadian tersebut.


Bang, kenapa tidak mampir ke rumah ibu? Setidaknya mampir sebentar saja bang jika memang berlala lama masih membuat abang tidak nyaman, kataku memulai percakapan dengan bang irham sepulang bang irham kerja.


Tidaklah dek, ndak enak ke sana sendirian. Jawab bang irham.


Jangan seperti itu bang, adek bukannya tidak mau ke rumah ibu hanya saja memang adek memerlukan sedikit waktu.


Iya de kabang mengerti dek. Abang sangat paham apa yang adek rasakan maka itu abang tidak pernah mau memaksakan adek ke rumah, nantilah kapan kapan kalau memang adek sudah melupakan kejadian itu


Melupakan sih sepertinya tidak bang, lebih ke memaklumi saja dan coba mengerti. Sejujurnya adek sudah tidak terlalu mempermasalahkan bang mungkin di sisi ada salah satu sikap nya ibu yang mesti adek eksta untuk memahaminya bang


Iya deka bang tahu, memang ini bukanlah perihal apa atau bagaimana mungkin adek sedikit terkejut karena baru mengetahui sikap ibu tapi memang sebenarnya ibu itu orangnya baik dek.


Iya bang, adek tahu toh memang awal nya kenal ibu kan tidak seperti ini. Aahh sudahlah bang adek tidak ingin membahasnya lagi intinya memang adek sudah tidak mempermasalahkan.


Iya dek iya, makasih dek.

__ADS_1


Iya bang, setidaknya abang berkunjunglah ke rumah ibu bukan apanya nanti di kira adek yang melarang abang berkunjung. Adek hanya tidak mau menambah masalah bang.


Iya dek iya, nanti besok sebelum ke tempat kerja abang mampir ke rumah ibu.


Begitulah bang irham, ketika semua percakapan hanya iya iya dan iya jawabannya aku hanya sedikit kesal karena tak ingin memperburuk keadaan denga napa yang sudah terjadi. Kalua begini ujung ujungnya hanya menambah kejelekan buat diriku saja.


Setelah percakapan singakatku dengan bang irham yang lumayan agak lama, eeh bukan tapi memang singkat jelas dan padat heheheh.


Bang ayo makan dulu, panggilku pada bang irham. Aku tahu bang irham Lelah karena pekerjaannya yang sedikit menguras tenaga di tambah perjalanan ke rumah dan tempat kerja membutuhkan waktu hampir satu jam perjalalan. Aku tahu pasti bang irham tadi sudah sempat makan siang tapi tidak ada salahnya juga aku menyiapkan makanan lagi untuk bang irham toh itu merupakan salah satu kewajibanku.


Iya dek, sedikit lagi abang makan. Nanti abang ambil sendiri adek istirahat sajalah. Jawab bang irham yang masih terlihat berbaring.


Ternyata dugaan ku benar, apa yang memang ku takutkan terjadi. Malam ini ketika sarah menelpon dan menceritakan yang terjadi. Ingin rasanya memang aku tidak mempercayainya. Aku tak mengerti apa di sini maksud dari sarah menceritakan padaku yang terjadi di rumah ibu. Apakah ada aroma persaingan atau bagaimana? Karena yang aku tahu hingga saat ini hubungan bayu dan sarah baru mendapat lampu hijau dari ibu. Entah apa masalah mereka sebenarnya aku tidak terlalu mau tahu, cukup bagiku menjalani dan menyelesaikan masalah apa yang terjadi pada diriku.


Ternyata restu itu betapa susah di dapat.


Aku menceritakan Kembali pada bang irham apa yang sarah katakan di telepon tadi tentang ibu yang berpikir aku melarang bang irham mengunjungi ibu, ini yang aku takutkan seharusnya bang irham juga menjelaskan apa alasannya tidak berkunjung apakah ia marah atau bagaimana jangan hanya diam memendam saja, sedikit aku sesalkan sikap bang irham yang memang masih tertutu meski denganku sebagai istrinya.


Apa memang sebaiknya akupun ikut berkunjung ke rumah ibu, agar tidak semakin terjadi kesalahpahaman? Iya memang sebaiknya aku berkunjung supaya simpang siur cerita yang entah kebenarannya ada atatu tidak sudah beredar segera terbantahkan. Pergi untuk meluruskan apa yang terjadi lebih baik dari pada berdiam diri seakan lari dari masalah yang terjadi.

__ADS_1


Bang besok sebelum pergi kerja tidak usah mampir di rumah ibu, kataku pada bang irham


Kenapa dek? Bukannya tadi adek menyuruh abang mampir ke rumah ibu? Bang irham menatapku heran


Iya bang, toh apa yang adek takutkan kan sudah terjadi semua sempura sesuai dugaan adek, adek heran sama abang sebenarnya abang ini kenapa? Marah tersinggung akan kejadian tersebut atatu bagaimana? Atau abang memang sengaja tambah memperburuk keadaan.


Tidak dek, tidak seperti itu. Abang tidak kenapa kenapa


Apa salahnya bicara bang katakana apa yang abang rasa apa amunya abang janganlah begini. Adek rasa seperti orang yang tidak berguna yang memang tidak mengetahui apa yang abang rasakan. Sebenarnya abang ini menganggap adek apa? Kataku emosi


Entahlah apa lagi yang mesti di katakan, sikap ketidak terbukaan bang irham masih membuatku merasa kesal, apa salahnya mengatakan apa yang di rasakannya.


Semoga besok ketika berkunjung ke rumah ibu tidak akan ada lagi masalah baru, semua bisa Kembali membaik seperti semula.


Satu persatu masalah harus aku hadapi, ini baru permulaan belum dengan kedua orang tuaku, ini juga salah satu masalah yang sedikit berat harus aku dan bang irham hadapi, mengingat jarak yang di tempuh tidak memungkinkan untuk berkunjung karena memang tidak memiliki biaya, dan juga di sini kami hanya mengandalkan via telepon,satu persatu masalah harus kami hadapi dan selesaikan.


Mencoba berdamai dengan keadaan,memulai dari keluarga bang irham perlahan tapi pasti berharap keadaan Kembali membaik seperti semula.


Tak lupa sebelum tidur aku Kembali mengingatkan bang irham tentang kunjungan ke rumah ibu, melupakan emosi sesaat tadi perdebatan yang tak kunjung usai. Iya aku mengatakan pada bang irham bahwa memang akupun ingin berkunjung ke rumah ibu meski awalnya bang irham masih bersikeras melarangku ikut tapi aku mencoba meyakinkannya, bahwa memang aku bisa.

__ADS_1


Semoga seiring berjalannya waktu aku bisa menerima dan mengerti akan sikap ibu dan yang lainnya. Menikah dengan bang irham bukan berarti aku hanya menerima bang irham saja tapi aku harus menerima seluruh keluarganya baik maupun buruk. Hanya saja aku harus tahu menempatkan diri.


__ADS_2