Aku Butuh Restu

Aku Butuh Restu
tujuhbelas


__ADS_3

Penyesuaian sikap prilaku aku dan bang irham berjalan baik meski terkadang masih terdapat kesalahpaahaman tapi masih bisa di selesaikan. Lambat laun bang irham sedikit terbuka akan setiap masalah yang ia hadapi atau ada sebab yang membuat ia pusing memikirkannya, meski tidak semua tapi setidaknya bang irham sedikit berbagi denganku.


Tentang sikap ibu perlahan aku mulai menerima dan sedikit tidak memepermasalahkan, walau terkadang ada saja kata kata ibu yang membuat ku bersedih tapi aku harus bagaimana, selain memakluminya.


Salah satu masalah terberat yang kini harus aku selesaikan adalah masalah restu dari kedua orang tuaku, perlahan tapi pasti aku harus mendapatkannya, tapi sekarang yang menjadi kendala adalah biaya untuk ke kampung halamanku. Memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit di sini aku harus pandai mengelola keuangan pandai menabung agar kiranya aku dan bang irham bisa berkunjung.


Sebenarnya di sini aku mempunyai seorang adik yang sedang menuntut ilmu di kota ini tapi rupanya ia pun memutuskan kontak dengan ku tak hanya dia hampir semua kakak dan adik adikku begitu, pernah sekali aku mencoba menghubunginya dan mendatanginya tapi usahaku sia sia.


Pada akhirnya aku pasrah pada keadaan dan berharap akan adanya keajaiban, bukan tidak berusaha tapi ternyata usahaku belum semaksimal itu.


Beberapa bulan kemudian saat aku berkunjung ke rumah ibu ternyata kabar Bahagia yang di dapatkan dengan kehamilan Zahra, satu sisi aku turut Bahagia sisi lain ada yang berkecamuk di hatiku kenapa aku tak kunjung hamil, memang bukan hal yang salah mengingat aku dan bang irham memang baru menikah beberapa bulan tapi aku juga ingin hamil, apalagi dengan berbagai komentar orang seakan mereka itu Tuhan yang menentukan nasib seseorang, ada rasa tidak percaya diri dalam hatiku. Di sisi lain dengan ibu mertua yang membenarkan ucapannya tentang pernikahan kembar yang kami lakukan salah satunya akan tidak bertahan lama atau tidak memiliki anak.

__ADS_1


Betapa hancurnya hatiku akan sikap orang orang yang seakan menjatuhkan mentalku, mereka tidak tahu meski baru beberapa bulan menikah sudah puluhan testpack yang aku coba tapi rupanya Allah belum memberikan kepercayaan pada ku dan bang irham.


Mereka tidak tahu dengan berbagai komentar mereka akan semakin membuatku tak berdaya membuatku putus asa, padahal ini merupakan hal yang wajar Tuhan masih ingin aku dan bang irham saling mengenal dan menyelesaikan masalah yang ada di pernikahan kami.


Hari hariku di lalui dengan air mata berharap aka nada keajaiban Allah menitipkan malaikat kecilnya dalam kandunganku, meski di sini bang irham selalu menghibur dan membesarkan hatiku tapi terkadang saat aku mengingat berbagai komentar yang menjatuhkan mentalku air mata tersebut Kembali menetes.


Satu sisi aku tahu Allah sedang membuktikan cerita yang beredar, bahwa aku memang menikah karena hamil di luar nikah. Di sini memang Allah membuktikan bahwa apa yang tersebar memang tidak terjadi. Tapi ternyata aku salah, dengan belum hamilnya aku Kembali lagi beredar cerita bahwa aku keguguran. Ya Allah sungguh fitnah apa lagi ini bahkan aku berani bersumpah bahwa aku memang tidak pernah hamil sama sekali.


Entah sekarang siapa yang aku salahkan lagi, Kembali harus menanggungnya memendamnya sendiri. Seakan takt ahu harus menceritakannya pada siapa, mungkin aku bisa menceritakannya pada bang irham, tapi satu sisi tidak mungkin aku menceritakan semuanya mengingat ini adalah ulah ibu. Aku tak ingin Kembali memperburuk keadaan ibu dan anak.


Kadang aku Kembali berpikir apakah aku salah membuat pilihan? Apakah memang keluarga bang irham tidak menerima kehadiranku? Aku harus bagaimana, aku sangat membutuhkan teman berbagi. Aku rindu ibu dan ayah ku, aku rindu saudara ku tempatku berbagi tempatku mengeluh tapi kenapa sekarang aku harus menanggungnya sendiri. Aahh sungguh tempat Kembali yang terbaik adalah keluarga, tapi jika keadaan sudah seperti aku ini entah harus bagaimana selain memendamnya sendiri.

__ADS_1


Berulang kali aku sempat protes pada bang irham meski tidak semua uneg uneg ku aku katakan tapi seperti itulah respon bang irham, aku pun butuh solusi. Bosan dengan kata yang selalu bang irham katakan apalagi kalua bukan sabar sabar dan sabar.


Ingin rasanya aku tidak berkunjung ke rumah ibu, di satu sisi aku merasa memang di asingkan aku di perlakukan beda dengan ketika ada bang irham tentu sangatlah jelas perbedaanku itu bahkan berulang kali ibu menceritakan aku pada orang lain dengan Bahasa daerah di sini, mungkin ibu berpikir aku yang orang asing tidak mengerti arti apa yang di ucapkan tapi tentunya ibu salah aku paham beberapa arti Bahasa tersebut meski tidak fasih mengucapkan bahkan Sebagian teman teman kos q dahulu adalah orang asli daerah di sini otomatis ada yang memang aku mengerti.


Aku tahu di sini mungkin aku tidak di hargai dan tidak di anggap seperti menantu ibu yang lainnya memang karena aku seperti anak yang di buang tak da satupun komunikasih dari keluargaku selain om ardi yang memang masih sesekali menghubungiku mungkin ibu tahu akan permasalahan yang menimpaku.


Aku pun ingin di sayang aku ingin di anggap seperti yang lainnya, tapi aku harus bagaimana? Kehamilan Zahra sungguh itu kabar Bahagia yang aku dengar aku pun turut Bahagia dan memang tulus aku mengucapkan selamat padanya, berharap suatu saat nanti aku pun bisa hamil. Tanpa memikirkan apa yang orang bicarakan tapi memang sungguh pengaruh ucapan orang sangatlah luar biasa menjatuhkan mentalku.


Sepulang dari rumah ibu waktu itu pikiranku sangatlah kacau, aku sempat membenci dan menyalahkan takdirku, membuang puluhan testpack yang aku stok di rumah, berharap esok ketika bangun aku bisa melihat garis dua pada testpack tersebut, aahh sungguh memang aku tahu aku salah aku tidak boleh seperti itu tapi apa dayaku. Aku bagaikan di hempaskan pada titik terendah kehidupan, berharap bangun dan semua seperti tidak terjadi apa apa.


Berbagai macam ujian yang harus aku hadapi, belum satu aku dan bang irham selesaikan aku Kembali di uji dengan menjatuhkan mentalku, membuat aku seperti enggan untuk bertemu dengan orang lain, membuat aku Kembali menyalahkan takdir.

__ADS_1


Aku yang perlahan mulai bangkit dan ingin memperbaiki semua secara perlahan Kembali di uji dengan sebuah ujian yang membuatku Kembali jatuh. Aku Kembali membutuhkan dukungan yang sangat dari orang terdekatku, meski bang irham mendukungku tapi aku merasa ada yang kurang. Aku sungguh membutuhkan support ayah dan ibuku.


__ADS_2