
Suara anak anak bermain di depan kosanku terdengar nyaring sekali membuatku terbangun. Ternyata sudah jam 8 pagi, aku segera bangun membersihkan diri dan memasak nasi serta menggoreng telur ya seadanya karena ini baru hari pertama aku dan bang irham di sini.
Setelah semua masakan ku matang aku membangunkan bang irham, "bang bangunlah, ini sudah jam delapan. Bukankah kita mau ke rumah ibu setelah ini? ".
Bang irham pun bangun, lalu bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, aku segera merapikan tempat tidur dan menyiapkan makanan untukku dan bang irham.
" abang pikir adek tidak sempat masak, karena sudah makan tadi setelah subuh", ucap bang irham sambil mengambil nasi dan telur.
"sempatlah bang, lagian ini bukanlah pekerjaan berat" ucapku sambil mengambil nasi dan ikut makan bersama bang irham.
Setelah makan aku kembali membersihakan piring dan langsung mencuci nya, bang irham menggambil sapu dan menyapu, kerja sama yang bagus bukan? Semoga ini awal yang baik untuk rumah tanggaku dan bang irham.
"bang bukannya kita harus ke rumah ibu sekarang bang? Tapi bisa tidak kita mampir dulu membeli perlengkapan untuk kita di sini?"
"baiklah dek, setelah ini ayo bersiap ke rumah ibu tapi kita mampir dulu membeli berapa perlengkapan rumah tangga, beli seadanya saja dek".
" iya bang, nanti di sesuaikan dengan keuangan kita, sekalian bayar uang kos untuk dua bulan ke depan" kataku.
Setelah menyapu bang irham menyusulku bersiap untuk ke rumah ibu, tapi sebelum itu kami mampir di salah satu toko tempat menjual perlengkapan rumah tangga.
Sebelum berangkat ke rumah ibu, ternyata zahra sudah mengirimkan pesan padaku( " kak, jam berapa ke sini, jangan lama lama nanti ibu marah marah lagi) begitulah isi pesan zahra, aku hanya membacanya saja tanpa berniat membalasnya.
aku dan bang irham berangkat menggunakan taksi online yang sebelumnya telah di pesan oleh bang irham. Taksi itu sudah tiba di depan aku tanpa menunggu lama aku segera bergegas menyusul bang irham tak lupa mengunci kamar kos kami.
"di toko A ya pak yang depan pasar" kata bang irham pada supir taksi
__ADS_1
"singgah duli di ATM bang, bagaimana caranya belanja kalau tidak ada uang" kataku berbisik pada bang irham.
"oh iya pak mampir dulu di ATM kalau ada di lewati" ucap bang irham
" baik pak" kata supir taksi.
butuh waktu sedikit lama untuk tiba di toko A karena jalan yang begitu macet, beginilah kalau di kota besar bukan hari kerja saja lumayan macet bagaimana jika hari kerja, kendaraan yang sangat padat dan melaju sangatlah pelan.
Aku dan bang irham telah tiba di toko A setelah sebelumnya mampir di Atm.
"apa apa yang perlu di beli dek? " kata bang irham sambil mengajak ku segera beranjak masuk ke toko.
"seadanya saja bang, adek juga mau beli piring dan lain lain bang" ucapku sambil melihat lihat barang dalam toko sekalian dengan harganya dan mesti di sesuaikan dengan isi kantong kami.
Setelah berkeliling toko aku dan bang irham memutukan membeli kipas angin, springbeat, lemari, meja, piring, kompor, dan beberapa alat masak. Belanjaan kami lumayan banyak dan menguras kantong, ya karena di kosan ku hanya bermodalkan tempat tidur bawaan dari kos dan kalau pun sudah membeli semua perlengkapan ini kami akan mengembalikan pada pemilik kos-an.
Aku tahu kesalahan ku akan semakin besar, aku akan semakin membuat ibuku murka tapi apalah dayaku ini yang aku pilih. Sebenarnya di kota ini ada satu adikku yang sedang menuntut ilmu di sini, tapi ibaratnya ia pun kecewa dengan pilihanku sehingga ketika aku menghubunginya dengan begitu marahnya ia menjawab teleponku. Begitulah jika hanya mendengar dari satu sisi, aku pun butuh di dengar dari sisi ku tapi semua menyalahkanku sekarang tempatku bersandar hanyalah pada bang irham seorang dan pada Allah.
Selesai berbelanja dan barang barang belanjaanku dan bang irham akan di antar besok jadi sekalian semua belanjaan di antarkan saja baik yang bisa kami bawah karena aku dan bang irham akan pergi ke rumah ibu.
Jarak toko A dan rumah ibu tidak begitu jauh hanya membutuhkan sekitar sepuluh menit. Aku dan bang irham kembali harus menggunakan taksi online karena motor bang irham masih di rumah ibunya. Setibaku dan bang irham di rumahnya kami bergegas masuk dan tak lupa bersalaman denga ibu dan bapak bang irham.
" kenapa ke rumah sudah siang begini?" kata ibu sambil melipat pakaian.
" ia bu karena menunggu pemilik kos dulu untuk melapor kalau aku sekarang tinggal di sana juga" alasan bang irham karena sebelumnya kami sudab sepakat untuk tidak menceritakan perihal mampir di toko untuk membeli perlengkapan rumah tangga.
__ADS_1
"oh iya, apa sudah makan? Ayo segera makan" kata ibu mertuaku
"baik bu, ayo dek makan dulu" ujar bang irham sambil berdiri menuju meja menggambil makanan. Akupun menyusul bang irham mengambil makanan. Setelah makan aku merapikan piring dan membawanya ke belakang. aku bergegas kembali ke depan bergabung dengan ibu dan bang irham, bapak rupanya sedang keluar. Ibu memanggilku duduk di sampingnya.
"melia sekarang kamu sudah menikah dengan irham kamu harus tahu bagaimana selera makanannya irham" kata ibu
"ia bu aku tahu, aku lumayan bisa masak meski tidak telalu pandai"
" irham itu suka makan pedas apalagi sambal buatan ibu, hanya ibu seorang yang tahu bagaimana kesukaan irham"
aku hanya diam, sebenarnya aku bingung ini niatnya ibu memberi nasehat, mengajariku bagaimana cara memasak sesuai selera bang irham atau bagaimana?. Ibu tidak lagi berbicara setelah tidak ada jawaban dari mulutku, aku membantu memasukan pakaian yang sudah di lipat ibu ke dalam keranjang. Bisa saja aku langsung merapikannya dalam lemari tapi aku tidak mau lancang karena ini semua baru untukku.
zahra dan suaminya yang baru tiba ikut bergabung bersama kami, bang irham kembali membuka percakapan.
"bu besok aku dan melia hanya semalam di sini, besok kami kembali ke kos-an sekalian aku mengambil pakaianku dan berkas berkas pentingku" kata bang irham pada ibu.
" jadi, semua benar? Kenapa tidak di sini saja kita berkumpul semua di sini? Rumah ini cukup untuk semua?" ucap ibu dengan menatap bang irham berkaca kaca
"tidak bu, bukannya ini sudah kesepakatan dan ibu serta bapak sudah menyetujuinya? Kenapa bahas lagi?" Bang irham menjelaskan kembali pada ibu.
Ibu mulai menangis, aku tahu ini sangat berat buat ibu harus merelakan anak laki lakinya tapi ini kan bukan yang pertama kali, bukannya saat masih pacaran dengan bang irham ibu pernah menyuruhnya pergi hanya karena bang irham tidak bisa mengikuti kemauan ibu? Saat itu bang irham menginap di kos ku selama satu minggu, jangan dulu berpikir macam macam di kos-an ku dulu aku tinggal dengan adikku sehingga apapun itu pikiran negatir segala yang tidak baik insya Allah tidak terjadi.
"sudahlah bu, ini hanya berjarak berapa kilometer? Bahkan aku bisa mengunjungi ibu tiap hari bukan begitu melia?" bang irham meminta persetujuanku
"iya bang, iya bu. Kami akan sering sering mengunjungi ibu" pintaku sambil memeluk ibu.
__ADS_1
Ibu mulai bisa mengendalikan emosinya dan menerima kembali keputusan ku dan bang irham
" baiklah, tapi besok kita berangkat bersama, ibu akan membuat berapa masakan untuk makan bersama di sana dan kita ajak berapa tetangga" kata ibu. Aku dan bang irham hanya mengangguk.