Aku Butuh Restu

Aku Butuh Restu
Delapan


__ADS_3

Aku kembali menyapu, merapikan kamar setelah semua tamu ku kembali ke rumahnya, sedangkan bang irham membantu ku mengepel lantai. Setelah itu semua kasur bawaan kos-an kami keluarkan, bang irham membawanya dan menyimpan depan kamar pemilik kos.


Kos yang aku dan bang irham tempati langsung sebuah kamar dan memiliki dapur serta kamar mandi dalam, dan di sini semua penghuninya sudah menikah.


Tiba tiba ponselku berbunyi rupanya telepon dari sarah,


"assalamualaikum, ia rah ada apa?"


"walaikumsalam, maaf melia mengganggu"


"tidak juga kenapa? "


"maaf sebelumnya, aku hanya mau bertanya. Apa semua barang yang ada di kos kamu ibu yang membelinya? "


"tidak sama sekali, semua murni uang ku. Memangnyq siapa yang bilang?".


" ibu sendiri yang bilang, sepanjang jalan hingga sampai di sini itu yang ibu ceritakan".


"ah tidak semua uang itu punyaku memang uangnya dari ibu dan bang irham tapikan itu uang seserahan dan uang mahar itu sudah jadi punyaku"


"oh aku kira ibu, kamu tahu ibu kan hampir semua orang tahu"

__ADS_1


"sudahlah biarkan begitu mungkin ibu sedang ingin di puji"


"Baiklah melia sudah dulu maaf mengganggu, assalamualaikum"


"walaikumsalam"


Bang irham menghampiriku dan bertanya apa yang ku bicarakan dengan sarah, akupun menceritakan semua hanya kata sabar dan tolong mengerti sifat ibu itulah yang di katakan bang irham.


Aku akan selalu mencoba dan memahami ibu, semoga ke depannya ibu tidak berulah dan menerimaku dengan baik.


_Pov ibu Siska (ibu mertua melia)


Sebenarnya aku bukannya tidak menerima melia sebagai menantuku, aku sudah mengenalnya beberapa tahun sebelumnya sejak irham memutuskan untuk berhubungan serius dengan perempuan.


Aku selalu menasehatinya kalau jangan permainkan anak perempuan orang jika memang belum ada niat untuk serius.


Setelah aku tahu melia berasal dari kota B aku pun terima terima saja, bahkan dari awal aku tegaskan pada irham lebih baik cari wanita yang berbeda daerah dengan kita yang tidak terlalu bagaimana mahar pernikahannya, dan rupanya irham menuruti apa yang aku katakan padanya.


Awalnya aku terkejut ketika malam itu melia datang ke rumah bersama irham, melia meminta kepastian untuk menikah, aku yang memang malam itu masih sangat terkejut mengiyakan saja apa yang di minta toh pernikahan mereka sepertinya aku tidak harus mengeluarkan banyak uang, bisa bersamaan dengan pernikahan zahra.


Tapi ternyata aku salah, adat daerah melia sangatlah ribet tidak jauh berbeda dengan di sini, aku pikir dengan uang sepuluh juta semua beres beres saja.

__ADS_1


awalnya orang tua melia meminta tigapuluh lima juta, aku tak mau menerimanya harus sepuluh juta itu mutlak keputusanku tapi ternyata mereka juga bersikeras sehingga akhirnya di putuskan duapuluhlima juta, aku baru memberikannua sepuluh juta pada irham dan melia, setelah semua itu aku pikir akan aman aman saja ternyata tidak masih ada ini dan itu ya sudahlah aku pun tidak mau mengalah toh aku ini sekolahnya lebih tinggi dari yang lainnya aku adalah tamatan sekolah menengah atas pada zamanku itu adalah sekolah paling tinggi, aku pun tidak mau tahu apa yang terjadi dengan melia dan orang tuanya intinya semua harus berjalan sesuai mauku.


setelah pernikahan mereka aku sangat terkejut ketika irham menyampaikan padaku mereka akan hidup mandiri, aku sangatlah tidak menyetujuinya tapi rupanya apa mau di kata keputusan mereka sudah bulat tidak bisa di ganggu gugat.


Meskipun dengan berderai air mata aku mencoba ikhlas dengan keputusan mereka dan ikut mengantar ke kediaman mereka yang baru.


Malam harinya setelah resepsi aku sangatlah terkejut ketika irham memutuskan pergi ke kosan melia malam itu, rupanya sudah sebegini pengaruh melia pada anakku.


Irham anak laki laki pertamaku, lama penantianku sehingga ia hadir dalam hidupku, penantikanku hampir tiga tahun hingga ia hadir melengkapi pernikahanku, bahkan selama tiga tahun penantianku berbagai hinaan telah aku terima.


Sejak ia kecil hingga sekarang aku tak sedikitpun pisah dengannya sehingga membuat aku tak rela melepasnya tinggal berdua melia, yang aku pikirkan bagaimana makannya segala macam kebutuhan dan keinginannya bukannya selama ini hanya ada aku aku dan aku.


Pernah suatu ketika irham memutuskan menyusul melia ke kampung halamannya, di situ aku sangatlah murka segala macam cacian dan amarah ku ucapkan saat itu tapi ternyata tidak membuat irham menarik keputusannya menyusul melia. Aku tahu sebenarnya tidak ada hal yang mesti aku takutkan, bukannya irham seorang laki laki dan pasti akan di tunggu kepastiannya tapi ternyata aku tidak rela anakku di atur atur hanya aku yang boleh mengatur anakku, tidak ada yang boleh di datangi anakku semua yang suka dengan anakku merekalah yang harus datang menemui anakku. Betapa egoisnya diriku tapi apa mau di kata itulah aku, aku tak menerima bantahan atau nasehat dari yang lainnya semua yang aku katakan dan lakukan adalah benar.


Ketika hari itu aku dan yang lainnya mengantar irham dan melia, setibaku di sana aku sangatlah terkejut melihat banyaknya belanjaan mereka hampir semua perlengkapan rumah tangga di belinya.


Ah iya ternyata mereka membelanjakan semua ini dengan uang seserahan yang ku berikan pada melia, salah sendiri kenapa tidak mengirimnya pada orang tuanya, padahal sebelumnya pasti sudah ia kurangi di pembelian baju irham, cincin dan fotografer, tapi bukannya semua itu sudah ku ganti jadi salah sendiri.


Aku tidak bisa terima melihat apa apa yang ada di kos mereka, anakku zahra saja tidak ada ku belikan kasur empuk yang ada hanya kasurnya kapuk yang sudak ke sana kemari kapuknya. Bukannya ini mereka membelanjakannnya dari uangku jadi semua orang harus tahu bahwa semua itu aku yang membelikannya, tidak boleh tidak mau mereka mendengarnya atau tidak toh pasti tidak akan berani protes, irham pasti akan sangat membelaku.


Sebelum menikah uang gaji irham semuanya di serahkan padaku, hampir semua utang utang ku ia bayarkan, sekarang otomatis gajinya akan ia serahkan pada melia, aku hanya akan mendapatkan sedikit dari gajinya, aku tidak mau itu aku tidak terima. Bukannya semua harus dalam kendaliku.

__ADS_1


Awalnya aku menyuruh tinggal di rumah pun supaya keuangannya sedikit bisa ku atur ternyata tidak mereka sudah punya perjanjian sebelum menikah.


semoga setelah mereka menikah melia juga bekerja, aku tidak mau dia hanya duduk diam di rumah menikmati gaji anakku, buat apa sekolah tinggi tinggi kalau hanya tinggal di rumah.


__ADS_2