
Setelah permasalahan album pernikahan yang tidak ada ujungnya ada baiknya memang aku yang mengalah segera aku mengambil album tersebut.
Aku mengambil album tersebut dengan masih dengan sedikit rasa emosi yang ada semua foto yang ada diriku dan bang Irham segera aku melepaskannya dan menggantikan sesuai apa yang di mau ibu.
Tentunya yang ibu inginkan foto tersebut di ganti dengan foto Zahra, tidaklah ibu sedikit berpikir bahwa di sni anaknya tentu bukanlah Zahra saja toh bang irham juga anaknya. Atau setidaknya sedikit saja menghargai perasaan ku. Ini untuk yang kesekian kalinya aku mengalah.
Dengan sisa lembaran foto yang ada di amplop yang sempat aku bawa tadi, aku berusaha sedikit tegar. Memilah dan memilih bebarapa foto yang di dalamnya memang tidak lah ada diriku. Melepaskan dan mengantinya satu persatu foto Zahra. Ah sungguh sedikit terluka batin ini.
Dek, sabar. Untuk kesekian kalinya bang Irham mengatakan kata itu. Aku terkadang sedikit jenuh sedikit ingin memberontak tapi mungkin batas kesabran yang aku miliki masih memiliki stok yang banyak.
Iya bang, ini aku sudah menggantikan foto yang memang menurut ibu salah, aku menggantinya dengan semua foto Zahra.
Tidak mesti seperti itu dek, mungkin hanya sampul yang ibu permasalahkan
Aah aku rasa memang tidak bang, buktinya ibu mengatakan bahwa memang di situ lebih banyak foto ku dan keluargaku. Memang mungkin di sini ibu tak ingin ada fotoku pada album ini.
Tidak seperti itu dek, mungkin maksudnya ibu kemarin kenapa hanya satu album harusnya mungkin dua. Di sini mungkin ibu sedikit salah paham. Lagi lagi bang Irham mencoba menjelaskan versinya
Tidaklah juga bang, jika memang seperti itu toh semuanya memang bisa di jelaskan baik-baik tidak mesti berkoar koar begini. Atau apalah bang panggil kita berdua bicarakan baik baik bagaimana yang ibu inginkan.
Iya dek abang tahu, maafkan ibu. Sekali lagi hanya sabar dan maaf yang bisa abang katakan. Tolong sedikit lagi lebih mengerti ibu dek.
Iya bang aku tahu, ini untuk yang kesekian kalinya aku mengalah dan mengerti tapi tentunya aku tidak tahu akan sampai di mana batas kesabaran yang aku punya toh aku hanya manusia biasa.
Tak ingin terlalu ambil pusing dan memasukannya ke hati apa yang terjadi perlahan tapi pasti semua foto sudah selesai aku ganti, sedikit keluar ke halaman depan mengirup udara segar melepaskan kepenantan yang ada di hati ini.
Pernikahanku dan bang irham masih jauh dari tahap sempurna ini masih permulaan mungkin ini adalah satu dari kesekian ujian pernikahan yang harus aku dan bang Irham jalani. Di butuhkan seditaknya stok kesabaran yang ekstra.
__ADS_1
Bang, ini fotonya sudah selesai semua aku ganti, bagaimana? Siapa yang mau mengantarkan ke rumah ibu?
Biar nanti abang saja dek, menitipkannya ke bapak.
Iya bang, aku masih sedikit merasa bagaimana untuk ke rumah.
Iya dek abang tahu. Terima kasih dek
Setelah kejadian tentang permasalahan album foto tersebut, aku tahu beberapa hari yang lalu bang irham sudah mengantarkannya entah hanya di titipkan pada bapak atau memang dia sendiri yang mebawanya ke rumah, tak ingin terlalu mempermasalahkannya toh bang irham sendiri tak membahasnya. Mungkin di sini bang irham menjaga perasaanku, ia tahu aku masih sedikit kesal dengan permasalahan tersebut.
Dek semalam Bayu telepon, katanya esok sudah balik ke tempat kerja. Kata bang irham memulai percakapan kami malam ini. Iya bayu adiknya bang irham yang bekerja di luar daerah, ia sempat mengajukan cuti ketika pernikahan kami.
Oh iya bang, aku kira masih cuti. Abang ikut mengantar tidak besok? Tanyaku
Terserah adek aja kalua abang, atau kita ikut saja mengantar dek ke bandara. Hitung hitung jalan jalan melepaskaskan penat.
Sudah abang duga dek,hhahahahha.
Keesokan harinya aku dan bang irham bergegas untuk mengantar bayu ke bandara, sebelumnya memang kami sudah janjian akan bertemu langsung di bandara, demi menghemat waktu.
Sesampainya aku dan bang irham di bandara kami langsung mendatangi bayu dan sarah, yang sudah menunggu kedatangan kami di area parkiran.
Ya di sini terlihat memang hanya sarah yang mengantar, awalnya aku dan bang irham mengira aka nada beberapa anggota keluarga yang akan ikut mengantar sehinggah setibanya kami di parkiran bang irham masih memantau situasi takut akan terjadi hal yang tidak mengenakan.
Pesawatmu berangkat jam berapa? Tanya bang irham pada bayu karena memang kami tiba di sini masilah terlalu pagi sekitar pukul tujuh. Aku dan sarah hanya menyimak percakapan antara kakak beradik ini tanpa ingin terlibat.
Sekitar jam Sembilan kak, hanya memang start pagi pagi sekali takut macet di jalan, tapi ternyata kepagian. Jawab bayu
__ADS_1
Iya memang tumben tumbenan jalanan lancar jaya tidak seperti biasa. Kata bang irham
Iya kak, hari ini ndak kerja? Tanya bayu lagi pada sang kakak
Kerja bay, tapi kebagian shift malam. Oh iya bagaimana ibu?
Seperti biasa kak, ibu memang seperti itu kalua lagi marah. Sepertinya sedikit lagi bersabar mungkin di sini ibu sedikit memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Nasihat bayu pada sang kakak. Aku hanya menyimak apa yang bayu katakana, aku tahu di sini bukan hanya pada bang irham saja maksudnya mengakatan seperti itu tapi memang lebih tepatnya pada ku juga. Tanpa ingin menimpali apa yang di katakana aku hanya berdiam diri seolah tak mendengar apa yang di katakannya.
Setelah tiba di pintu masuk bandara bayu segera masuk chekk in, lalu keluar menemui kami untuk sekedar bas abasi biasa. Tidak lagi mebahas tentang persoalan ibu kemarin. Mungkin juga karena jawabannya tadi pada bang irham tidak di respon oleh bang irham. Iya memang tadi setelah bayu mengatakan seperti itu bang irham hanya berdiam diri saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Setengah jam berlalu, bayu pun berpamitan masuk ke dalam. Aku, bang irham, dan sarah pun bergegas pulang. Bang irham berjalan terlebih dahulu, mungkin bang irham sedikit memberikan ruang pada ku dan sarah di sini untuk bercerita.
Bagaimana dengan ibu, sarah? Tanyaku memulai percakapan
Ya begitulah melia, memang seperti itu ibu. Dari dulu memang sifatnya sudah seperti itu jangan terlalu di masukan ke hati.
Iya aku tahu, tapi di sini aku hanya terlalu terkejut karena sikap ibu sedikit berubah dari yang awal awal aku kenal
Mungkin kemarin kemarin kamu tidak terlalu mengenal ibu karena kan kemarin kamu hanya sekedar berkunjung beda dengan sekarang , kemarin kemarin hamper satu minggu kamu stay di rumah ibu jadi mungkin baru kerasa.
Iya juga ya, kamu ada benarnya juga.
Iya sudahlah jangan terlalu di masukan di hati, perlahan lahan pasti kamu akan mengerti dan menerima sikap ibu.
Lebih ke terbiasa mungkin nanti ya,kataku bercanda
Iya juga sih.. kami pun tertawa Bersama seakan ada yang lucu dengan pembahasan kami.
__ADS_1
Tidak terasa tiba di parkiran motor dan bang irham sudah menunggu di sana, aku sarah dan bang irham berpisah di parkiran karena tujuan kami memang berbeda.