Aku Butuh Restu

Aku Butuh Restu
Enam


__ADS_3

#pov irham


Melia adalah wanita pertama dalam hidupku yang berani menjalin hubungan dengaku, menjaga komitmen untuk tetap bersama selamanya, tidak memandang harta, menerima ku apa adanya setelah sekian banyak wanita yang aku dekati dan mengajak serius menolakku karena memandang status ekonomi keluargaku, ya aku akui kehidupanku sangatlah cukup, cukup untuk makan hari ini esok cari lagi. Aku di besarkan oleh keluarga yang sangatlah kekurangan, ayahku hanya seorang buruh bangunan, ibuku seorang ibu rumah tangga biasa tapi yang membuat aku sangat sangat bersyukur mereka mampu menyekolahkanku hingga sukses hingga saat ini aku mampu berdiri di kakiku sendiri, aku sadar akan semua itu sehingga semenjak aku bekerja aku membantu ayahku membiayai adikku bayu hingga selesai kuliah dan sedikit membantu perekonomian keluarga.


Aku akui ibu sedikit keberatan dan belum ikhlas ketika aku memutuskan untuk menikah dengan melia, tapi mau sampai kapan melia pun butuh kepastian dan juga telah banyak yang datang melamar melia akupun harus menunjukan keseriusanku pada ke dua orang tua melia.


Aku pernah sekali menyusul melia ke kampungnya, setelah setahun sebelumnya melia memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk mencari pekerjaan di sana dan ibu sangatlah murka dengan keputusanku, segala sumpah serapah ibu ucapkan padaku, bukankah aku telah menjalin komitmen dengan melia aku pun harus berani menunjukan keseriusanku pada orang tua melia, tapi apa mau di kata aku tetap berangkat ke kampung halaman melia. Aku adalah seorang lelaki seorang laki laki yang di pegang ucapannya dan pembuktiannya atas keseriuasannya bukan hanya bualan belaka.


Aku sebenarnya risau karena aku tak kunjung membuktikan keseriusanku pada orang tua melia waktu itu, dan yang aku tahu setelah melia kembali ke kampung halamannya telah berapa yang datang melamar dan ia tolak, orang tuanya butuh keseriusanku. Hal itulah yang membuatku nekat mendatangi melia.


pernikahanku dengan melia aku sadar semua nya salah, dan memang tak sepenuhnya kesalahan melia ketika ia meminta kejelasan menikahinya, akulah yang bersalah karena telah berapa kali aku berjanji akan menikahinya tanpa kejelasan, itulah saat yang tepat untuk menikah ketika adikku zahra di lamar karena orang tuaku memiliki sedikit modal untuk pernikahanku, tidak terlalu banyak memakan biaya karena di gabungkan dengan pernikahan zahra. Satu acara pernikahan dua mempelai merupakah hal biasa di daerahku.

__ADS_1


Kesalahan pernikahanku dan melia karena tak mendapat restu dari pihak melia, awalnya memang restu sudah di tangan segala macam sudah di tentukan tapi ternyata terjadi kesalahpahaman yang akupun tak mengerti dari mana, sifat ibuku yang terlalu keras membuatku enggang bertanya apa yang terjadi komunikasi apa yang telah ia ucapkan pada pihak melia sehingga terjadi kesalahpahaman, beruntung melia mempunyai orang tua angkat yang memberikannya arahan kekuatan sehingga ia tetap berani mengambil keputusan, padahal awalnya aku berpikir ia akan membatalkan pernikahan kami, di sini aku sangatlah berterima kasih pada melia dan masalah ini menjadi tanggunganku bersama melia ini adalah tugasku dan melia, beban kami bersama untuk mengembalikan semua pada awalnya tanpa ada konflik, semoga aku bisa menyelesaikan kesalahpahaman dengan pihak melia.


Malam hari setelah semua berkumpul aku tak menyia nyiakan kesempatan untuk kembali meminta izin hidup mandiri dengan melia.


"besok aku akan tinggal di kos-an dengan melia, aku harap semuanya di sini tetap baik baik saja, kami akan sering berkunjung ke sini" ujarku, semua hanya terdiam menandakan menyetujui keputusanku, aku kembali berucap untuk zahra dan andi mengingat merekalah yang akan tinggal dengan ibu dan bapak.


"zahra,andi di sini kalian yang menemami ibu dan bapak karena bayu setelah ini akan kembali ke tempat kerjanya . Aku harap setelah aku tinggalkan rumah tidak ada yang aku dengarkan ini dan itu, apa yang kalian makan itulah yang bapak ibu makan, tolong hargai mereka", aku melihat zahra dan andi mengangguk mengiyakan ucapanku.


semua yang akan ku bawa telah selesai di rapikan aku mengakak melia untuk istirahat, aku bergegas mengambil bantal dan membuka kasur lipat untuk ku dan melia. Tempat kami tidur di depan televisi semenjak menikah hingga sekarang ini.


Terkadang aku kasihan dengan melia, ini bukanlah pernikahan impian setiap wanita, tidak ada yang istimewah meski terkadang ia mengeluh padaku tapi aku sangat berterima kasih padanya karena ia bisa menerima semua ini.

__ADS_1


berulang kali aku ucapkan kata maaf pada melia, aku akui terkadang ia merasa tersinggung dengan ucapan ibu, berulang kali ia menangis tanpa sepengetahuanku meski kadang aku mengetahuinya tapi melia hanya menjawab tidak bang aku kelilipan.


Ibu sepertinya memang belum ikhlas dengan pernikahanku, aku tahu ibu akan sangat berat apalagi selama ini hampir semua keuanganku aku serahkan pada ibu kecuali ketika adikku bayu akan membayar biaya kuliahnya.


Berulang kali ibu dan bapak memaksa ku untuk tinggal di rumah ini, tapi yang aku pikirka adalah kenyamanan melia, sifat melia sangat bertolak belakang dengan ibu, belum lagi dengan ibu yang masih belum terlalu ikhlas akan pernikahanku untuk mengindari segala kemungkinan terjelek yang akan terjadi aku memilih untuk tidak tinggal di sini. Bukankah dalam satu kerajaan hanya akan di pimpin seorang raja dan ratu begitu pun dalam berumah tangga, biarlah aku dan melia memulai semua dari nol, belajar memahami satu sama lain tanpa ada pihak lain yang turut andil.


Untuk adikku zahra dan suaminya mereka tetap tinggal di sini karena memang sudah kesepakatan awal kedua orang tua ku dan orang tua andi bahwa mereka akan tetap di sini karena mereka masih sangatlah muda dan membutuhkan bimbingan, meski awalnya aku pun berharap mereka akan mengambil langkah yang sama denganku dan melia untuk menghindari segala sesuatu yang tidak di inginkan, tapi apalah itu sudah keputusan mereka segala sesuatu mereka yang tanggung.


Adikku bayu setelah lulus kuliah ia di terima bekerja di salah satu perusahan obat di kota D sehingga ia harus menetap di sana, dan karena pernikahanku dan zahra maka ia mengambil cuti seminggu untuk menghadiri pernikahan kami.


Melia sebelum menikah denganku memang awalnya kembali ke daerah ini sebut saja kota C ia ingin melamar kerja di salah satu rumah sakit di sini yang kebetulah akupun bekerja di situ dan saat ini ia sedang dalam tahap seleksi pegawai tapi apalah daya takdir membawa aku dan melia dalam sebuah pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2