
Karena memang sebelumnya aku sudah mengingatkan bang irham bahwa aku ingin ikut mengunjungi ibu, maka hari ini aku dan bang irham memutuskan untuk berkunjung berhubung hari ini bang irham mendapat jadwal shift malam hingga akan banyak waktu yang kami miliki ketika berkunjung. Semoga saja tidak aka nada masalah baru lagi.
Pagi pagi setelah sarapan aku dan bang irham segera berangkat ke rumah ibu, tak lupa mampir ke salah satu toko kue untuk membeli brownis coklat andalan ku sebenarnya hehehe, berhubung tak tahu apa selera ibu maka aku membeli itu saja.
Perjalanan ke rumah ibu tidak terlalu lama hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit, setiba di rumah ibu aku dan bang irham di sambut dengan baik oleh ibu seakan tidak pernah terjadi masalah apapun, ibu pun mengatakan tak perlu membawa oleh oleh, dengan berkunjung saja ibu sudah senang.
Hal ini tentunya membuatku terheran heran, lalu apa gunaku memikirkan masalah kemarin sampai pusing tujuh keliling, toh sesampainya di sini semua seakan tidak terjadi apa apa. Ibu malah menyambut kedatanganku dengan bang irham dengan Bahagia.
Ingin rasanya aku membahas masalah kemarin da apa yang sudah aku dengar, karena memang sesungguhnya aku bukanlah orang yang suka memendam sesuatu. Aku tipe orang yang ketika ada masalah ataupu apa yang tidak sesuai harus aku ungkapkan dan menyelesaikan masalah tersebut.
Sepertinya bang irham menangkap gelagatku yang memang ingin menyelesaikan apa yang terjadi tanpa harus saling memendam. Bang irham lalu memanggilku untuk berbicara berdua melarangku untuk menanyakan persoalan kemarin, aku tahu memang bang irham tak ingin semakin memperburuk keadaan, toh ibu sudah tidak mempermasalahkannya. Meski dengan perdebatan yang cukup Panjang mau tidak mau aku harus mengalah dengan bang irham, untuk ke sekian kalinya lagi.
Bukan ingin tambah memperkeruh keadaan tapi memang aku hanya ingin ibu tahu bahwa memang aku tersinggung dan sakit hati dengan apa yang terjadi, apalagi hanya permasalahan foto yang hanya sepeleh menurutku tentunya harus bisa di selesaikan dengan baik baik tanpa harus berkoar koar, kita tidak tahu apa yang orang rasakan ketika di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
Mungkin memang bagi ibu dengan begitu caranya menjadi hal biasa saja, tapi tidak denganku. Meski memang aku sudah tidak lagi mempermasalahkan persoalan kemarin tapi apa salahnya di bahas bukannya ibu sendiri tahu ini salah satu alasanku dengan bang irham hampir satu bulan tidak berkunjung. Atau setidaknya bang irham sedikitlah bersuara mewakili isi hatiku bukan malah melarang dan turut bersikap seakan tidak terjadi apa apa.
Selepas shalat ashar aku dan bang irham berpamitan pada ibu, awalnya ibu melarang untuk Kembali ibu menyuruhku untuk bermalam, tapi berhubung harus bermalam sendiri tanpa bang irham aku menolak tawaran ibu, bukan karena apa aku masih merasa asing dengan situasi di rumah ibu tanpa bang irham karena memang selama ini ketika berkunjung ke rumah ibu aku masih bergantung dengan bang irham. Ibaratnya seorang menantu perempuan akan merasa dan menjadi dirinya sendiri ketika berada di rumahnya sendiri meski itu hanya sebuah kontrakan kecil.
Memang seperti biasanya ketika berpamitan hanya ada ibu di rumah, karena ayah mertua tentunya belum pulang bekerja, Zahra pastinya sedang berada di rumah suaminya. Aku tahu ibu memang kesepian karena sebelumnya selalu ada bang irham di rumah, ibulah yang selalu mengurus keperluan bang irham tapi aku hanya takut ketika berdua dengan ibu Kembali terjadi kesalahpahaman atau aku yang tidak bisa mengontrol ucapan ku, sekedar hanya untuk berjaga jaga.
Melihat akan sikap ibu hari ini sekedar memberikanku pelajaran baru, mungkin cara ibu mengekpresikan kemarahannya dengan cara seperti itu, tentu bukan hal yang baik mengingat ketika ibu marah hampir seluruh tetangga ibu akan mengetahui apa masalah yang terjadi, tentu sama saja dengan mempermalukan anaknya toh nanti akan berbaikan Kembali seperti ini.
Apalagi ketika kami selesai berkunjung ke rumah ibu tentu akan ada saja yang ibu bungkuskan untuk di bawa pulang, bahkan aku tak kuasa untuk menolak karena aku sungguh menghargai pemberian ibu, satu yang selalu aku sesalkan apa yang sudah ibu berikan pada kami tentu akan Kembali ibu bahas dan tak sungkan minta untuk di kembalikan, tapi ketika amarah ibu hilang ibu bersikap seakan tak ada apa apa.
Apa yang di dengar dari orang lain memang belum tentu itulah kebenarannya, satu hal lagi yang harus aku pelajari karena memang selama ini aku selalu menerima apa yang orang katakana padaku tanpa ada sedikitpun yang aku saring, memang ada baiknya apa yang di katakana orang tidak boleh terlalu di masukan ke hati, berulang kali sudah bang irham peringatkan padaku, karena kita tidak tahu sesungguhnya niat orang tersebut apa sekedar memberi tahu atau mengadu domba.
Pov Irham
__ADS_1
Aku tahu apa yang melia alami, ya memang seperti itulah ibu. Bahkan apa yang sarah katakan pada melia memang seperti itu yang aku dengar, bukan ingin mengabaikannya atau tak peduli hanya aku mecoba mengingati melia agar tidak selalu menerima mentah mentah apa yang orang katakana meski memang ada unsur kebenarannya, karena aku tahu melia terlalu banyak masalah yang ia hadapi terlalu banyak yang ia pendam aku tak mau menambah beban pikirannya.
Melia memang orang yang apa saja terlalu cepat memasukanya di dalam hati, memang begitulah melia.
Sebenarnya akupun sedikit tersinggung dengan ibu yang mempermasalahkan album foto tersebut, toh di dalamnya kan ada fotoku. Aku sedikit membenarkan apa yang melia rasakan bahwa memang ibu terlalu condong ke Andi suami adikku Zahra. Melia merasa tersisihkan ketika ada andi, memang aku akui andi merupakan menantu kesayangan ibu, ah semoga saja ia tetap menjadi kesayangan dan tidak mengecewakan ibu yang terlalu berekspestasi tinggi tentang andi.
Berulang kali aku selalu mecoba membesarkan hati melia, menyuruhnya sabar dan mencoba menerima prilaku ibu karena memang pada dasarnya seperti itulah ibu.
Aku juga tahu melia terlalu terkejut melihat kemarahan ibu dan sindiran sindiran ibu, tapi mau bagaimana lagi seperti itulah ibu dan ketika kemarahannya hilang ia akan bersikap seperti tidak terjadi apa apa, sungguh memang luar biasa ibu ku.
Memang di butuhkan banyak waktu untuk melia agar terbiasa dengan sikap ibu,
Kembali ke permasalahan foto ya memang aku tersinggung tapi mau bagaimana lagi, tidak berkunjungnya aku ke rumah ibu hanya untuk meminimalisir masalah yang terjadi karena aku anak ibu aku tahu akan sikap ibu lambat laun ia akan bersikap seperti tidak terjadi apa apa.
__ADS_1