
Setelah aku dan bang irham pamit, kami pun berjalan menuju taksi online yang telah kami pesan, mobil tersebut tidak bisa berhenti hingga titik depat rumah bang irham di karenakan banyak mobil yang terparkir di sepanjang jalan dan jalan yang lumayan kecil mau tidak mau kami pun harus berjalan kaki sedikit jauh. Bang irham hanya membawa beberapa pakaian, sedangkan aku membawa ransel yang ku pakai untuk mengisi beberapa pakaian q karena semenjak akad nikah hingga resepsi aku tak kembali ke kos ku.
Bang irham. Berjalan sambil menenteng kantongan plastik berisi pakaiannya dan kantongan plastik berisi kado pernikahan kami.
Sepanjang jalan aku dan bang irham hanya terdiam, banyak yang ingin aku utarakan tapi ku tahan karena sesungguhnya aku tak mampu tak sanggup untuk meneteskan air mata. mobil online yang sudah bang irham pesan pun menelpon menanyakan keberadaan kami, mungkin karena kami berjalan agak lambat sehingga supir mobil online cemas takut karena orderan fiktif.
Supir : posisi di mana pak, saya menunggu di depan warung nasi pojok, bang irham: oh iya pak, kami sudah dekat, kelihatan mobilnya warna hitam kan pak? plat mobil ****?, supir: iya pak di tunggu.
Aku dan bang irham mempercepat langkah kami, setiba di mobil kami langsung naik dan mobilpun jalan,"alamat mana pak?" sang supir bertanya, " jalan merpati pak belakang bengkel yang ada kos kosan berjerejer" kata bang irham. Mobil melaju tanpa kendala, sehingga sekitar limabelas menit kami tiba di kos ku, "terimakasih pak" kata bang irham sambil menurunkan barang bawaan kami.
Kami pub berjalan masuk ke dalam kosan, aku membuka pintu kos, menyimpan semua barang bawaan kami dan setelah itu menyapu dan membersihkan kamar kos ku yang hampir satu minggu tidak ku tempati. Kos ini aku tempati belum sampai satu bulan, karena aku yang baru lagi kembali ke daerah ini setelah satu tahun kembali ke kampung halamanku. Tujuan awalku datang ke sini ingin mencari pekerjaan, aku mendaftar di salah satu rumahsakit di daerah ini di mana bang irham pun bekerja di sini. Tapi ternyata takdir membawaku ke pernikahan ku dengan bang irham, tidak ada yang ku sesali. apa. Yang sudah ku pilih harus bisa ku jalani apapun itu segala macam rintangan harus bisa ku jalani segala masalah harus bisa ku atasi, aku yang awalnya sendiri tanpa dukungan keluarga kandungku sekarang seakan memiliki pegangan setelah menikah dengan bang irham.
Setelah membersihkan kamar, aku membersihkan diri sementara bang irham sudah tertidur karena kecapean, aku pun setelah mencuci muka berbaring di samping bang irham. Tidak ada yang spesial di pernikahan kami, tidak ada upacara adat untuk pasangan pengantin, tidak ada yang menakjubkan semua seakan mendadak dan terpaksa, aku pun sadar dan harus menerima semua ini karena aku pun setuju dengan pernikahan kami.
Sayup sayup terdengar adzan subuh, sepertinya bang irham bangun karena terdengar suara air di Wc, setelah dari Wc bang irham membangunkanku untuk kami melaksanakan shalat berjamaah.
"dek bangunlah, sudah subuh. Shalatlah dulu nanti keburu pagi"
__ADS_1
"aku masih ngantuk bang"
"setelah shlat barulah tidur kalau memang masih ngantuk dek, tidak baik menunda-nunda waktu shalat.
Mendengar bang irham berkata begitu, aku bergegas bangun mencuci muka dan berwudhu. Pertama kali aku dan bang irham shalat berjamaah, sekarang ia telah menjadi imamku, baik buruknya harus ku terima, suka duka susah senang harus ku jalani bersama bang irham.
Setelah shalat, rasanya tidak mungkin untuk tidur kembali aku harus memasak untuk bang irham
" abang mau makan apa? Di sini hanya ada mie instan sama beras, jadi kemungkinan kita hanya bisa makan nasi dan mie"
"yang ada saja dek, yang bisa di masak. Apapun masakan adek abang pasti makan". Bang irham pagi pagi sudah menggombal membuat pipi ini nyaris berwarna pink akibar terlalu merona.
"baiklah dek ayo kita makan, sebungkus mie cukuplah untuk berdua".
Akupun bergegas menyiapkan sarapan, meski sebungkus mie goreng bertemankan nasi cukuplah dan cukup membuat suasana romatis dengan bang irham.
Setelah sarapan, aku merapikan dan bergegas mencuci piring bekas makan kami.
__ADS_1
" dek sinilah ada yang ingin abang bicarakan", bang irham memanggilku dan menyuruhku duduk di sampingnya.
"dek, yang sudah sudah biarkan berlalu, sekarang masalah mama dan papa mu tugas kita berdua untuk menyelesaikannya, dan untuk semua kata kata ibu yang menyinggungmu abang minta maaf.
Air mata yang sudah setengah mati ku tahan beberapa hari ini mengalir juga dengan derasnya, bang irham memelukku " sabar dek, keluarkan semua yang adek pendam, katakan apa yang ingin adek katakan"
"sakit hati ku bang, kenapa tidak ada yang mengerti di posisiku, aku tidak akan langsung menikah denganmu andaikan tidak ada pembicaraan orang tuaku dan orang tuamu bang, tidak mungkin orang tuaku tidak menyetujui pernikahan ini karena mereka sudah menentukan berapa uang yang harus kamu serahkan, kenapa sekarang mesti begini bang aku harus apa? "
"sabar dek, hanya itu bisa abang katakan, terima kasih sudah memilih abang, sekarang kita cari jalan keluarnya bagaimana hingga kita bisa keluar dari masalah ini.
" iya bang terimakasih. Bang kenapa ibu seperti tidak menyukai pernikahan kita? Ini itu aku serba salah, kita bagaikan pengantin yang terabaikan tidak ada yang spesial.
"maaf dek, mungkin ibu belum siap dengan pernikahan kita, semua serba mendadak, ibu mungkin belum mengikhlaskan abang menikah dek, adek tahu kan abang begitu spesial buat ibu pasti berat buat ibu.
" iya bang, semoga semua perlahan lahan aka membaik dan menerima semua ini ya bang"
"iya dek semoga, serahkan semua sama Sang Maha Pencipta, tidak ada tempat mengadu meminta pertolongan selain pada Allah, sudah lah dek masa pagi pengantin baru menangis menagis", bang irham berupaya menggodaku. Aku yang mulai bisa mengendalikan diriku, perlahan tangisanku reda.
__ADS_1
" dek ayo shalat dua raka'at," kata bang irham.aku tahu ini kode dari bang irham, tiba tiba langsung lalot, malu malu dan ya mau tidak mau mengikuti ajakan bang irham, namanya pengantin baru hehehehe. Setelah shalat bang irham membaca doa dan meniupkan di ubun ubunku, lalu terjadilah yang bisa terjadi, pasti mengertilah.
Setelah aktifitas panjang kami, aku bangkit dan membersihkan diri, setelah itu bang irham menyusul. Rasa cape lelah dan mengantuk bergabung menjadi satu,aku memilih kembali memeluk guling dan berlabuh ke alam mimpi dan ternyata bang irham juga kembali berbaring di samping ku dan melayang ke alam mimpi.