
Setelah mereka selesai menyelesaikan pekerjaan rumah kini Alan menempati janjinya untuk segera mengajak Irawan kesuatu tempat tentunya hal itu adalah suatu kejutan yang telah Alan siapakah sebelumnya bahkan Inez sendiri tak pernah tahu.
Selama ini Irawan pergi kuliah hanya mengunakan motor tua peninggalan sang Ayah bahkan saat motornya rusak dia harus bisa dan harus mau menggunakan kendaraan umum untuk ke kampusnya hal itu dia lakukan selama bertahun tahun..
"Kalau kamu sudah siap kita bisa pergi sekarang?"ucap Alan sembari tersenyum menatap kearah Inez dan Ibu Siti yang sedang duduk di ruang tamu..
Inez pun menatap heran kearah suaminya itu dan Alan hanya memberikan senyuman tanpa penjelasan apapun..
"Mas kalian mau kemana? Apakah aku gak boleh ikut?"ucap Inez lirih.
Alan pun tersenyum dan kemudian menatap kearah Irawan..
"Ini urusan laki laki kamu temani Bunda saja kami hanya pergi sebentar."ucap Alan lalu mengajak Irawan untuk pergi..
Irawan sendiri bingung dengan ucapan sang kakak ipar yang dia sendiri tak tahu bahwa dia akan di ajak kemana saja dia tak tahu. Irawan hanya mengikutinya saja bak seorang anak kecil yang menuruti semua ucapan sang Ayah.
"Mas sebenarnya kita mau kemana si?"tanya Irawan sedikit penasaran..
Alan pun hanya mengangguk dan kemudian tersenyum..
"Sebentar lagi kita sampai kok kamu sabar sebentar."jawab Alan dengan datar..
Alan sengaja membuat adiknya itu penasaran karena Alan ingin apa yang dia berikan benar benar manjadi kejutan yang sepesial untuk Irawan..
__ADS_1
Irawan pun tak berani mengatakan apapun lagi dia hanya diam sembari memainkan ponselnya walaupun Irawan sendiri sangat penasaran..
Sesampainya di sebuah diler mobil terbesar di pusat Jakarta dia langsung mengajak Irawan turun dari dalam mobil miliknya.
"Ayo kita sudah sampai.."ucap Alan sembari tersenyum penuh arti.
Irawan pun hanya mengangguk dan kemudian kembali mengekor pada kakak iparnya tersebut..
"Selamat sore Mas Alan wah senang sekali akhirnya saya di izinkan bertemu dengan orang hebat seperti anda.. Oh iya disana sudah ada mobil yang Mas pesan kemarin mari saya antarkan.."ucap Pak Andi selaku pemilik Diler tersebut..
Alan hanya tersenyum dan kemudian kembali menatap Irawan yang mengekor kepadanya..
"Pak Andi ini bisa saja,saya ini hanya orang biasa pada umumnya dan tak ada yang istimewa dari saya. Terima kasih banyak pak karena Bapak telah begitu baik menyambut permintaan saya. Oh iya Pak kenalin ini adik ipar saya."Alan pun memperkenalkan Irawan sebagai adik iparnya..
Setelah itu Alan pun melihat mobil yang dia pesankan untuk Irawan,Alan sendiri ingin agar Irawan bisa hidup dengan layak dan Irawan sekarang juga tanggung jawabnya..
Alan pun menatap kearah Irawan dan tersenyum..
"Wan apa kamu suka mobil yang Mas belikan untuk kamu ini? Atau kamu mau pilih sendiri kamu boleh memilih manapun yang kamu suka dan mana saja yang kamu mau."Alan pun mempersilahkan Irawan untuk memilih.
Irawan pun hanya bisa menelan ludahnya dia sendiri tak penah bermimpi untuk bisa membeli sebuah mobil mewah bahkan berharap pun Irawan tak pernah berani..
"Mas serius? Mas ini gak sedang main main kan?"tanya Irawan serius.
__ADS_1
Alan langsung tertawa dan kemudian menepuk bahu Irawan dengan lembut.
"Apa Mas telihat sedang bercanda? Apa Mas telihat sedang bermain-main? Mas serius kamu boleh pilih manapun yang kamu suka jika menurut Mas ini yang paling keren dan paling cocok buat kamu.."Alan pun menunjukan pilihannya namun bagi Irawan mobil itu terlalu mewah dan juga harganya terlalu mahal..
Irawan pun menatap sang kakak ipar dan menatap mobil itu sekilas..
"Mas ini terlalu mewah buat aku dan mana pantas aku memakai mobil sebagus ini?"ucap Irawan mencoba menolaknya dengan lembut..
Alan pun tersenyum dan menyakinkan Irawan bahwa sekarang dia adalah tanggung jawabnya dan apapun yang dia butuhkan Alan tak akan pernah menolaknya..
"Sekarang kamu adalah adikku adik dari istriku jadi kamu dan Bunda adalah tanggung jawab aku sekarang. sudah kamu pilih saja mana yang kamu mau tinggal bayar beres kan?"ucapan Alan membuat Pak Andi yang mendengarnya merasa tersanjung...
Irawan pun hanya mengikuti apapun yang Alan katakan sesungguhnya dalam hati kecil Irawan dia sangat keberatan dengan kebaikan yang kakak iparnya berikan namun Irawan juga tak kuasa menolaknya.
"Yang mana menurut Mas bagus saja aku ikut dan aku juga akan suka dengan apapun pilihan Mas."jawab Irawan sembari tersenyum..
Setalah itu Alan pun langsung menentukan pilihannya dan hal itu tak bisa di ganggu gugat lagi.. Bagi Alan saat ini lebih baik menyenangkan keluarga istrinya dari pada semua hartanya harus di berikan kepada Thomas orang yang tak berguna sama sekali bahkan Alan masih belum lupa dengan apa yang pernah Thomas lakukan di masa lalu..
Setelah menyelasikan pembayaran Alan langsung menyuruh untuk mengantar mobil itu sesuai alamat yang Alan telah berikan. Setalah menyelesaikan semuanya Alan pun langsung mengajak Irawan untuk pulang. Setelah itu Alan pun langsung tersenyum sembari memberikan sebuah kartu kredit kepada Irawan..
"Ini apa Mas?"tanya Irawan lirih.
"Pakailah semau kamu PINnya adalah ulang tahun Mbak kamu,jangan sungkan untuk menggunakannya kalau kamu menolaknya berarti kamu tak menghargai Mas sebagai kakak ipar kamu."Alan pun berbicara seolah memaksakan keinginannya.
__ADS_1
Irawan pun tak kuasa menahan kesedihannya dia tak pernah menyangka bahwa Alan akan sebaik itu bahkan dia tak segan untuk membelikannya barang barang yang tak penah Irawan pikirkan untuk memilikinya.