
Aku dan Bu Romlah hari ini ditugaskan untuk berbelanja isi dapur karena kebetulan bahan-bahan di dapur sudah habis. Sesampainya di pasar kami pun berbagi tugas untuk membeli bahan dapur untuk mempersingkat waktu kami berdua berpencar.
Setelah hampir 1 jam kami berkeliling semua bahan dapur pun sudah terkumpul dan dimasukkan ke bagasi mobil.
Waktu memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil Ada yang menempuk Bahuku. Saat Aku menoleh ternyata ada Santi di belakangku, mau apa lagi dia pikir hatiku.
" enak ya punya simpanan orang kaya kemana-mana diantar dengan sopir bahkan belanja banyak" ucapnya sedikit meninggikan suara.
Sampai-sampai semua mata yang ada di parkiran pasar itu menatapku seolah-olah aku ini adalah wanita simpanan. Aku malu dibuat Santi seperti ini. Seenaknya saja Dia berbicara seperti itu.
" kamu kalau ngomong bisa sopan nggak sih Bagaimanapun aku ini mantan istri dari kakakmu, Seharusnya kamu bisa menghormati orang yang lebih tua dibanding kamu apa ini didikan kakakmu selama ini,apa ini yang kamu dapat dari bangku sekolahan" jawabku membela diri.
" Halah... kamu itu cuma simpanan orang sekarang,makanya kamu menceraikan kakakku Kamu itu cuma gila di harta saja, dasar wanita murahan"santi terus munghinaku, kesabaranku ada batasnya
PLAKK...
aku melayangkan tanganku kepipi Santi. Kulihat Santi meringis kesakitan dan memegangi pipinya. ini tidak seberapa dengan sakit hati yang Kuterima selama ini.
Santi ingin membalas memukulku tetapi dengan cepat kilat aku menangkis tangannya. entah datang dari mana keberanian itu aku melayangkan tamparan sekali lagi ke pipinya
__ADS_1
PLAKK....
" Jangan harap kamu bisa menyentuhku Santi Kalau kamu tidak ingin ku sakiti, Aku bukan wanita lemah yang engkau pikirkan selama ini aku bisa membalasmu lebih dari ini" aku pun menyuruh Bu Romlah untuk segera naik ke mobil ku tinggalkan Santi di sana. kulihat dari kaca spion mobil Santi masih meringis kesakitan memegang pipinya.
Di dalam mobil aku menangis dipelukan Bu Romlah aku mengeluarkan semua beban di hatiku ini, Apa salahku Kenapa aku selalu dihina oleh iparku sendiri. bu Romlah hanya memelukku dan memberikan aku wejangan untuk tetap sabar melalui semua cobaan ini, Aku merasa bur Romlah seperti ibu kandungku sendiri dia mau mendengarkan keluh kesahku selama ini.
Sesampai dirumah aku segera menghapus air mataku aku tak mau mas wahyu dan mutiara tau kalau aku habis menangis.
Benar dugaanku belum juga aku sampai didapur aku di sambut pelukan dari mutiara. Aku tersenyum dan membalas pelukannya. Sekilas mutiara memandangku dan berkata "kenapa mata tante merah,apa tante habis menangis"
"Tidak sayang tante cima habis kelilipan di pasar tadi" jawabku sekenanya. Aku tak tahu kalau kak wahyu juga memperhatikanku karena mendengar pertanyaan anak gadisnya.
Setelah membantu bu romlah di dapur aku membawakan secangkir kopi ke ruang kerja kak wahyu, tak lupa sebelumnya aku menyuruh mutiara untuk segera tidur.
Sesampainya di ruang kerja ku beranikan mengetuk pintu
tok..
tok..
__ADS_1
tok..
tak lama ada sahutan dari dalam dan aku pun membuka pintu.
"permisi kak ini aku bikinkan kopi" kataku sambil ku letakkan secangkir kopi di meja kerja kak wahyu
"apa sebenarnya yang terjadi di pasar tadi pagi bunga?". tanyanya
" ah...itu..bukan apa apa kak" jawabku singkat.
"apa kamu masih mau menutupinya dariku,tadi pak sopir sudah menceritakannya,kamu bisa membuat laporan ke kantor polisi atas pencemaran nama baik" jelasnya panjang lebar.
"untuk sekarang biarkan saja nanti kalau mereka membuat onar kembali baru aku pikirkan idemu itu kak" jawabku
" baiklah kalau begitu jagang sungkan untuk meminta bantuan dari ku,aku akan membantumu",ucapnya lagi.
Entah kenapa kak wahyu akhir akhir ini sangat perhatian padaku. Ah...kenapa aku berpikir yang tidak tidak siapa lah aku yang mendapat perhatian lebih darinya he..he..he..aku membatin sambil tersenyum seorang diri.
Bangun dari mimpimu bunga apa yang kau bayangkan tak akan jadi kenyataan statusmu disini hanyalah bebysister ocehku lirih sambil tersenyum,udah seperti orang gila yang merindukan bulan he..he..he..
__ADS_1