Aku Melihat Keberuntungan

Aku Melihat Keberuntungan
Fengyin dan mata pandanya


__ADS_3

Seorang Siswa yang duduk di bangku paling belakang memandang papan sejauh enam meter sembari memicingkan mata. Bukan karena dia mengalami gejala rabun atau semacamnya, hanya saja...., Ada yang aneh dengan pandangannya.


“Chao Fengyin..., Ini sudah tiga hari semenjak bapak memperhatikanmu. Kau selalu kehilangan fokus saat berada di kelas, pandanganmu selalu gemetar dan kau memiliki kantung mata yang sangat parah.”


“Apa kau sering begadang belakangan ini? Aiyo...,” imbuh Wang Fuhai sembari menghela nafas, dia merupakan seorang wali kelas dari kelas XII - 3, kelas yang saat ini ditempati oleh Chao Fengyin, karakter utama dalam cerita ini.


Memang kantung mata Chao Fengyin terlihat begitu kentara, hitam seperti mata panda, terlebih dengan badan yang tampak lesu, jelas semua orang akan berfikir kalau pemuda itu sudah menghabiskan malam yang panjang.


Para guru dalam Ruang Guru juga cukup prihatin melihat Fengyin.


“Berhentilah bermain game, Anak Muda. Sebentar lagi kau akan menjalani ujian kelulusan, terlalu banyak begadang untuk bermain game itu tidak baik. Tolong belajarlah dan beristirahatlah dengan cukup,” ujar Wang Fuhai menasihati sang Siswa yang terus menerus menundukkan kepalanya.


“Kau bisa pergi.”


Chao Fengyin mengangguk lalu pemuda itu segera keluar dari Ruang Guru.


“Ya ampun..., Lagi-lagi dia memicingkan matanya dengan aneh. Apa dia sudah rabun?”


“Kalau gejalanya parah, bisa jadi dia akan buta.”


“Ssshh!! Dia bisa mendengar kalian.”


Pemuda itu dengan singkat menjadi sosok yang diperbincangkan oleh orang-orang, rumor buruk tentangnya mulai tersebar sejak dia mendapatkan kantung mata hitam yang menghias wajahnya.


Siswa lain menganggap Fengyin mendapatkan kantung mata itu setelah men-stalker seorang Siswi di kelas yang sama, Siswi yang dikenal sebagai Dewi Kecantikan di kelas itu.


Padahal..., Semua hanya omong kosong.


‘Apa yang aku lalui sampai aku bisa mendapatkan omong kosong ini?’ dalam hati Chao Fengyin.


Penglihatannya sudah tidak normal lagi, bukan dalam artian buruk. Pemuda itu menjadi semakin jeli dan bisa memfokuskan pandangannya pada jarak tertentu. Dan yang lebih uniknya, dia bisa melihat jenis Item yang dikenakan oleh orang-orang disekelilingnya.


Merek, tanggal pembuatan, orang yang membuatnya dan beberapa penjelasan detail lainnya. Semua seakan melayang di udara dan Chao Fengyin bisa membaca semua itu seolah semua tulisan yang tertera terpampang di sebuah buku.

__ADS_1


Hal itu membuatnya tidak terbiasa, dia menjadi sulit untuk tidur karena selalu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


Tak ada sebab yang memicunya, hanya saja begitu dia bangun tidur semuanya sudah berbeda.


Entah itu keberuntungan..., Atau sebuah kutukan, tapi yang jelas itu tidak hilang setelah dia terbangun di hari berikutnya.


Di kantin, semua siswa berkumpul bersama dengan teman sesirkel mereka. Mereka memiliki grup masing-masing, hanya Chao Fengyin yang pergi ke sana seorang diri.


Sikap pendiamnya membuat pemuda itu dijauhi, tapi hal itu tidak membuat Chao Fengyin kepikiran. Dia sudah sangat terbiasa dengan kesendirian, baik di sekolah maupun di rumahnya.


“Kau yang memesan Hamburger, kan?” tanya seorang bibi penjaga kantin.


Tatapan sang Bibi membuat Fengyin sedikit terkejut, pemuda itu segera mengalihkan pandangannya pada Burger yang dijulurkan oleh sang Bibi Kantin.


“Ini Bi, uangnya,” sahut Fengyin memberikan 1 lembar 10 Yuan dan juga 1 lembar 5 Yuan-nya.


“Nak, harganya 10 Yuan. Kau bisa menyimpan 5 Yuan-nya untukmu.”


“Ya ampun, bagaimana bisa kau memikirkannya seperti itu? Padahal belum ada pengumuman tentang pelonjakan harga daging dan roti dari pemerintah, tapi kau sudah mengetahuinya lebih dulu.”


“Dengar Nak, daging itu Bibi dapatkan sebelum harganya naik. Tapi tenang saja, dagingnya masih segar dan bagus kok. Jadi tidak masalah menjualnya 10 Yuan. Bibi masih untung, hihi.”


Chao Fengyin tersenyum senang mendengarnya, siswa itu segera membungkuk pada Bibi Penjaga Kantin sebelum meninggalkan meja antrian.


“Sungguh Siswa yang sangat sopan. Ngomong-ngomong..., Bagaimana dia tau rincian kenaikan harga bahan pokok? Apa dia memiliki orang dekat dalam pemerintahanan?” gumam Bibi Penjaga Kantin sembari menatap punggung Siswa yang berlalu pergi.


Penglihatan Fengyin tidak terbatas pada merek barang saja, kualitas produk pun bisa di deteksi bahkan dengan pembaruan kenaikan harga yang terjadi di dunia. Kapan sebuah bahan akan menjadi mahal dan kapan sebuah bahan akan menjadi murah dapat diketahui oleh Fengyin.


Hanya saja untuk saat ini dia masih meragukan kebenaran informasinya.


‘Seperti yang dikatakan oleh Bibi Penjaga Kantin, kualitas dagingnya masih bagus. Hamburger ini juga dimasak dengan baik, kesalahan proses dalam memasak biasanya akan memperburuk kualitas daging, dan harganya akan turun sebab itu.’


‘Tapi mataku menilainya dengan tinggi. Harganya sungguh sesuai dengan rasa yang disuguhkan.’

__ADS_1


Dalam perjalanannya menikmati Hamburger, di sebuah persimpangan Fengyin bertemu dengan kelompok Siswa yang terkenal akan kenakalan mereka. Kelompok itu dipimpin oleh Zhao Bowen, anak saudagar berada yang juga dikenal karena sikap arogansinya.


Semua orang berkumpul karena Zhao Bowen tampak memamerkan sesuatu.


“Lihat ini, aku menggunakan uang tabunganku untuk membelinya. Haha!” ujar Zhao Bowen sembari memperlihatkan arloji yang melekat pada pergelangannya.


Benda berkilauan dan tampak mewah itu membuat Siswa lain yang melihat berdecak kagum, tak sedikit yang memuji Zhao Bowen karena mampu membelinya.


“Bukankah Arloji yang dipakai oleh Tuan Muda Zhao adalah merk Kreshnik? Ya ampun..., Itu mahal sekali.”


“Khresnik? Harga satuannya kan setara dengan Budget untuk membeli sepeda motor besar. Ya ampun..., Tabungan Tuan Zhao rupanya sebanyak itu. Tuan Muda Zhao sangat keren.”


“Hehe..., Tentu saja,” sahut Zhao Bowen sembari membusungkan dada, harga dirinya seakan naik ke langit setelah dipuji seperti itu.


“Ini adalah Arloji edisi terbatas yang aku dapatkan dari tangan kedua, meskipun begitu..., Aku benar-benar mendapatkannya setelah menawar dengan harga yang tinggi.”


“Dan ternyata aku beruntung setelah mengetahui harga asli dari benda ini, harganya lebih mahal dari harga yang aku tawarkan. Haha...., Aku benar-benar anak pembawa hoki!” bualnya.


Fengyin yang tidak sengaja mendengar dan memperhatikan tingkah Zhao Bowen tanpa sadar mengucapkan sesuatu. “Barang itu palsu,” ucapnya.


Semua orang yang berkumpul terhenyak dan secara serempak mereka menoleh ke arah Fengyin.


“Haa? Mulut siapa itu yang bicara?”


Emosi Zhao Bowen seketika melonjak mendengar kalimat ngawur yang baru saja terucap dari mulut Chao Fengyin.


‘Sial, apa aku secara tidak sengaja mengatakannya?’ dalam hati Fengyin.


“Oh..., Bukankah bocah ini adalah si Stalker itu? Stalker yang terkenal karena menguntit Dewi Kecantikan kelas XII - 3, Liu Mayleen,” tatap Bowen lekat pada Fengyin.


Aura mengancam yang ia keluarkan membuat Fengyin agak tidak nyaman, apa lagi orang-orang disekitarnya juga melihat Fengyin seolah dirinya tidak sedap untuk dipandang.


‘Sepertinya aku dalam masalah.’

__ADS_1


__ADS_2