
Malamnya...,
Zhao Bowen dan yang lain pergi menjemput Fengyin di rumahnya, lalu ada sesuatu yang mereka berempat sadari. “Fengyin..., Dia tinggal di perkampungan kumuh. Ini agak mengejutkanku.”
Raut kasihan tampak di wajah Zhao Bowen, dia tidak menyangka salah satu temannya punya nasib yang kurang baik.
“Umm..., Aku pernah dengar kalau Fengyin itu tidak punya kedua orangtua, mereka semua meninggal akibat insiden kebakaran yang terjadi saat Fengyin masih SD,” ujar Ge Hong.
“Kau tau informasi seperti itu Hong? Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami?” tanggap Xi Qin.
“Ya ampun..., Bukankah akhir-akhir ini kita sering berkumpul bersama Fengyin? Apakah pantas membahas tentang kedua orangtua yang sudah tiada saat berada di depannya? Aku masih punya hati,” jawab Ge Hong.
“Kawan-kawan..., Karena keadaan kita jauh lebih baik dibandingkan dengan Fengyin, kita harus bersikap lebih baik juga padanya.”
“Apa yang dikatakan oleh Su Mu benar, dia juga salah satu kawan kita sekarang, kita akan senang bersama, maka sedih pun kita harus menanggungnya bersama, pula” kata Bowen.
Padahal keempatnya sudah memantapkan hati mereka untuk tidak menunjukkan rasa simpati terhadap Fengyin demi menghormatinya. Tapi setelah melihat keadaan rumah Fengyin, hati mereka terenyuh sehingga ekspresi kasihan tidak dapat menghilang dari raut wajah mereka.
Dinding rumah yang ditumbuhi oleh lumut itu memiliki cat yang pudar dan pelapis yang sudah runtuh, ada bekas Fengyin membersihkan lumutnya secara rutin, tapi tumbuhan korosif itu terus tumbuh dan tumbuh lagi.
Bagian atap rumah terbuat dari genteng, walaupun di beberapa bagian terlihat ada sebuah seng yang menutupi atap berlubang. Dan lagi..., Di sekeliling rumah Fengyin terdapat banyak kardus dan barang bekas.
Bahkan saat Bowen dan kawan-kawannya tiba, dia melihat Fengyin sedang merapikan kardus dengan cara mengikatnya.
“Teman-teman..., Kalian sudah tiba? Aku sudah bersiap-siap tapi masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku lakukan, tunggu aku sebentar lagi.”
Zhao Bowen dan yang lain membuka pagar lalu masuk ke dalam halaman Fengyin, mereka mengambil beberapa utas tali dan membatu Chao Fengyin merapikan kardus-kardusnya.
“Kalian tidak perlu membantuku.”
“Ishh! Sodara Feng, apa yang kau katakan? Kalau begini kan pekerjaanmu jadi lebih cepat. Lagipula hanya mengikat kardus seperti ini bukanlah masalah,” sahut Bowen.
“Fengyin, serahkan yang lainnya pada kami, Hehe.”
‘Preman apanya? Sepertinya aku sudah mendapatkan kawan-kawan yang baik dan solid,’ dalam hati Fengyin tersenyum.
***
__ADS_1
Setelah itu..., Mereka berlima akhirnya berdiri di depan Bazar Judi.
Tempatnya berdiri di tengah tanah lapang sehingga mampu menampung banyak orang di dalamnya. Suasana di tempat itu sangat ramai, didominasi oleh para pria paruh baya yang lalu lalang.
“Ughh..., Kenapa aku berpakaian keren hari ini kalo yang datang hanya paman-paman bangkotan?” kata Su Mu agak kecewa.
“Percayadirilah Su Mu, siapa tau ada Paman yang agak lain di sekitar sini, haha!” celetup Xi Qin bergurau.
“Mulutmu!!”
Karena tidak ada kios pakaian atau perhiasan yang berdiri disekitar Bazar, tentu saja tidak akan ada sosok wanita cantik yang akan terlihat. Memangnya wanita mana yang tertarik dengan judi batu? Begitulah yang dipikirkan oleh Bowen dan yang lain, tapi...,
“Liu Mayleen. Kau pergi ke Bazar Judi? Liu Mayleen, kan?” kata Fengyin.
Dia melihat seseorang dengan jaket kulit hitam yang biasa digunakan seorang pria, dia mengenakan topi yang menutupi seluruh rambut dan berjalan agak menunduk, tapi Fengyin dengan mudah meyakini bahwa orang itu adalah Liu Mayleen teman sekelasnya.
‘Kenapa dia bisa berada di tempat ini? Apa dia mengikutiku? Tidak, dia bersama dengan kelompok Zhao Bowen, jadi ini hanya kebetulan saja kami bertemu,’ pikir Mayleen.
“Sepertinya akan bahaya kalau kau pergi seorang diri di tempat yang kebanyakan orangnya adalah pria, bagaimana kalau kau ikut dengan kami?” tawar Fengyin.
‘Astaga..., Gimana sih cara pria ini mengenali penyamaranku? Kenapa dia jeli sekali?’
Karena sudah terlanjur ketahuan, Liu Mayleen pun melepaskan topinya sehingga rambut hitam panjangnya yang halus tergerai indah. Wajah Zhao Bowen, Su Mu, Xi Qin dan Ge Hong seketika bersemu. Keempatnya terpesona pada keanggunan wanita yang dikenal sebagai Dewi Kecantikan sekolah mereka.
Gulp! Ge Hong menelan ludahnya gugup, “Beneran Mayleen dong,” lirihnya.
“Sudah kubilang kita akan beruntung kalau mengajak Fengyin datang bersama, lihat! Keberuntungannya saja sudah sangat bagus di awal!” bisik Xi Qin.
“Mampu membuat seorang Dewi Kecantikan berdampingan dengan kita semua, Fengyin pastilah seorang titisan Dewa Keberuntungan.”
“Beri hormat padanya!”
Su Mu mengatupkan kedua tangannya dan membungkuk di belakang Fengyin seolah sedang menyembah, lucunya Bowen dan yang lain pun ikut melakukan hal yang sama.
“Kalian kenapa?”
“Ah!! Tidak, hanya sekedar melakukan Stretching, haha!” Jawab Bowen.
__ADS_1
“Aku setuju untuk ikut dengan kalian, ku harap kalian tidak macam-macam padaku,” kata Liu Mayleen sambil menekuk alisnya dengan ketus.
“Liu Mayleen, bisakah kau gunakan topimu seperti tadi? Sepertinya penampilanmu mengundang perhatian orang-orang, mari pergi dengan tenang tanpa menarik minat orang asing, itu akan lebih aman.”
‘Haa.., aku tidak percaya aku akan mengikuti ucapan orang yang katanya suka menguntitku,’ umpat Mayleen dalam hati, gadis itu kemudian menggunakan kembali topinya dengan menyembunyikan rambut indahnya di dalam.
Sekarang mereka berenam masuk bersama ke dalam Bazar, keramaiannya jadi lebih terasa. Meskipun hanya sekedar Bazar Judi, tapi kemeriahannya tidak kalah dengan sebuah pasar malam, orang-orang terlihat dapat menikmati keseruannya.
“Sodara Feng! Lihat disana, ada tempat lotre juga. Haruskah kita main disana dulu?”
“Lotre?!” tanggap Mayleen antusias, gadis itu tampak sangat menyukai yang namanya lotre, mungkin alasan dia datang ke Bazar Judi karena hal ini.
“Ayo kita main lotre kalau begitu,” kata Fengyin.
Bowen membeli satu kartu lotre sedangkan Mayleen membeli lima, gadis itu tentu saja tidak terlihat hanya sekedar antusias saja, tapi dia benar-benar mencintai Lotre.
“Kenapa kau membeli begitu banyak?” tanya Fengyin yang kemudian langsung di jawab oleh Mayleen. “Karena persentase menang itu kecil, dengan membeli banyak kartu Lotre bukankah persentase menangnya jadi bertambah?”
“Yang dikatakan Nona Liu tidak salah,” kata Su Mu.
‘Ya, tapi itu juga tidak sepenuhnya benar,’ dalam hati Fengyin.
“Bolpoin! Aku butuh Bolpoin!” tambah gadis itu semangat.
Peraturan dari Lotrenya sangat mudah, ada lima kotak kosong di dalam kartu yang harus diisi dengan angka, jika dapat menebak kelima angka dengan benar, maka penebak akan dinyatakan sebagai pemenangnya.
Jika tidak ada angka dalam undian yang muncul, maka angka yang mendekati lah yang akan keluar sebagai pemenangnya.
Pada kartu Lotre yang dimiliki oleh semua peserta terdapat lapisan ganda, jadi saat menuliskan sesuatu dilapisan terluar, akan ada cap pada lapisan belakangnya yang terlihat serupa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari tindakan kecurangan.
“Tinggal sepuluh menit tersisa sebelum undiannya dimulai, kita harus secepatnya mengisi kotak yang kosong dengan angka,” ujar Xi Qin.
“Sodara Feng! Kami percayakan angka keberuntungannya padamu!”
Zhao Bowen dan yang lain menatap Fengyin dengan penuh keyakinan.
‘Haa?! Aku yang akan memilih angkanya? Tapi bagaimana?’
__ADS_1