
Saat waktunya Mo Chu hendak bicara, orang-orang yang menyaksikan perjudian batu mulai merapat, rasa tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan sang ahli menarik penuh perhatian mereka.
“Apa kalian pernah melihat batu seperti ini? Batu yang memiliki kandungan mineral langka biasanya memiliki warna yang tidak terlalu gelap, permukaannya akan terasa rapuh dan mudah meninggalkan corak ketika terkena benturan.”
“Persis seperti batu yang saya pilih,” jelas Mo Chu.
Semua orang langsung menatap kagum pada Pak Tua itu, dengan mata berbinar dan mulut mereka yang menganga. Anggukan kepala orang-orang itu menandakan bahwa mereka menjadikan omongan Pak Tua Mo sebagai patokan.
“Bagian luarnya melunak karena mineral yang diserap ke dalam pusatnya, itu membuat sesuatu yang disebut inti mengeras, dan mineral langka pun terlahir dari hal itu.”
“Jadi seperti itu, kalau Tuan Mo sudah mengatakannya demikian pasti benar, kan?” tanggap seorang penonton.
Yang lainnya pun tidak meragukan itu dan dengan polosnya mereka mengangguk. “Tidak salah lagi. Kita harus percaya pada pengamatan Tuan Mo, dia tidak mungkin salah dalam hal ini.”
“Benar, dia satu-satunya ahli yang kita kenal.”
Tentu saja telinga Mo Chu mekar setelah mendengar pujian-pujian itu, kernyih terlihat pada bibirnya, dan diapun melirik ke arah Chao Fengyin.
“Bocah..., Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan baru yang kau cari? Kuharap baru yang kau pilih bisa sebagus batu pilihanku, Haha.”
‘Meskipun itu tidak akan mungkin,’ tambah Pak Tua Mo dalam benaknya.
Chao Fengyin membalas tatapan remeh yang ditujukan padanya, tanpa rasa gentar sedikitpun. “Tuan Penyelenggara..., Saya sudah menemukan batu yang saya cari,” ujar Fengyin pada Ling Zhi.
Pemuda itu memperlihatkan batu yang hanya berukuran satu kepalan tangannya saja, jelas semua orang memandang dengan bingung.
“Fengyin..., Kau bisa ambil batuku saja, lagipula batu yang aku pegang ini dipilihkan olehmu, jadi...,”
“Tidak Nona Liu..., Itu adalah batumu,” balas Fengyin mendorong batu yang Mayleen sodorkan ke arahnya. “Batu yang aku pilih benar-benar ini, dan aku sangat yakin ada sesuatu di dalamnya,” tambah pemuda itu.
Melihat Fengyin kukuh pada pendiriannya untuk memilih batu yang berukuran kecil itu membuat Mo Chu tidak tahan untuk terus tertawa, pria tua itu benar-benar terpingkal-pingkal melihat apa yang dipegang oleh Fengyin.
“Hahaha! Anak muda, itu hanya batu yang ukurannya sedikit lebih besar daripada telur. Apa yang bisa kau temukan di dalamnya? Fosil biji mangga?” ucap Mo Chu dengan maksud meledek dan mengecilkan hati Fengyin.
“Hahaha, dengan beraninya kau menantangku tapi lihat apa yang kau mampu, mengambil batu yang tidak memiliki ciri-ciri apapun sebagai hasilnya..., Kau benar-benar dibesarkan dengan omong kosong belaka.”
__ADS_1
Wajah Fengyin langsung memerah, alisnya mengkerut kesal diikuti oleh kedua tangannya yang terkepal kuat. Mo Chu bahkan tidak tau bagaimana Fengyin dibesarkan, tapi dia malah menyinggung hal itu.
Sebagai anak yang ditinggalkan oleh kedua orangtua sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar, dan ditinggalkan oleh sang Nenek yang merupakan satu-satunya keluarga Fengyin yang tersisa, jelas ucapan Mo Chu yang tak tau apapun itu telah melukai hatinya.
Dengan tangannya yang terkepal kuat Fengyin bersumpah, ‘Aku akan mempermalukan orang itu, menjatuhkan harga dirinya hingga ke bawah, dan membuat dia yang dengan percaya diri mendongak angkuh untuk tertunduk semalu-malunya.’
‘Akan aku bungkam mulutnya yang tidak mengetahui apapun, hingga dia tidak bisa menyinggung perasaan orang lain lagi. Aku bersumpah!’
Fengyin mendekati Ling Zhi dan bertanya sekali lagi, apakah dia bisa memiliki batu itu?
Karena ukuran batu yang dipilih oleh Fengyin terlalu kecil, Ling Zhi sebagai penyelenggara kesulitan untuk menentukan harganya. Dia bahkan tidak mengetahui bagaimana batu sekecil itu ada di atas meja dagangnya.
“Anak muda..., Itu hanya sebuah batu yang tidak sengaja aku masukkan karena kesalahan sortir, kau yakin ingin memilikinya?” tanya Ling Zhi.
Fengyin menganggukkan kepalanya dengan yakin, warna hijau yang dia lihat dari batu itu lebih bersinar dibandingkan batu-batu lain yang ada di atas meja dagang. Tentu saja ada sesuatu yang istimewa di dalamnya.
Sedangkan untuk batu yang sangat dibangga-banggakan oleh Mo Chu, Fengyin melihat...,
‘Kekalahan mutlak baginya.’
Fengyin menjabat tangan sang Penyelenggara Judi Batu seraya tersenyum, “Saya merasa sangat adil dengan harganya.”
Dua batu telah dipilih oleh masing-masing peserta, orang-orang sudah menunggu dengan tidak sabar, mereka ingin melihat siapa yang akan memenangkan taruhannya. Padahal mereka semua sudah begitu yakin Mo Chu akan keluar sebagai pemenang.
Sesuatu yang benar-benar para penonton tunggu adalah saat dimana Fengyin kalah karena kesombongannya menantang seorang Senior, orang-orang tengah menanti untuk mempermalukannya.
“Anak muda, kau bisa meminta batumu untuk dibongkar lebih dulu,” tawar Mo Chu sambil tersenyum sungging.
“Tidak Tuan Mo, orang-orang disini telah menunggu untuk melihat munculnya sebuah harta, bukankah itu berarti anda harus membongkar lebih dulu? Itupun kalau anda yakin di dalamnya ada harta,” balas Fengyin tersenyum dengan cara yang sama.
‘Kurang ajar,’ dalam hati Mo Chu.
“Tolong bongkar batuku lebih dulu!” seru Mo Chu.
Batunya segera diangkut dan diletakkan di bawah alat pembelah, membawa rasa penasaran orang-orang untuk lebih mendekat demi melihat apa yang akan terjadi.
__ADS_1
“Aku percaya kali ini Tuan Mo pasti menemukan giok lagi.”
“Tentu saja, masih belum ada catatan yang menyatakan kesalahan Tuan Mo dalam memilih batunya, kali ini dia juga akan menemukan harta. Aku yakin!”
Banyak yang berpikir demikian, kecuali Fengyin yang sudah melihat dengan jelas sebelum batu itu dibongkar. ‘Tidak ada catatan yang menyatakan kesalahannya dalam memilih batu? Kalau begitu ini akan menjadi catatan pertamanya,’ ucap Fengyin dalam benaknya.
Roda cakram pada alat pembelah pun berputar, ujung bergeriginya yang tajam mulai mengikis batu pilihan Tuan Mo. Senyum percaya diri ditunjukkan oleh Pak Tua itu, dia menunggu sambil berkacak pinggang dengan angkuhnya.
“Batunya terlihat lunak seperti yang Tuan Mo bilang, itu terkikis dengan mudah.”
“Kita akan melihat harta kali ini!”
‘Tentu saja kalian akan melihatnya, setelah mesin itu membelah batunya sampai ke tengah, mesinnya akan berhenti karena membentur batu mulia yang keras. Kalian akan terkejut,’ pikir Tuan Mo.
Tapi kenyataannya..., Pak Tua itu yang malah dikejutkan, mesin itu membelah batunya menjadi dua bagian, dan tidak terlihat jejak mineral langka dimanapun kecuali batu kapur.
Mo Chu segera mendekat untuk memeriksa, tentunya dengan wajah panik kali ini.
“Tidak, ini tidak benar. Pasti ada kesalahan pada proses pemotongannya!” sergah Mo Chu.
“Tuan Mo.., saya sudah memotongnya dengan benar,” kata Tukang Pemotongan Batu.
“Kalau kau memotongnya dengan benar, bagaimana mungkin Mineral Mulianya masih belum terlihat?” Mo Chu mengatakannya dengan emosi yang meluap-luap.
“Ehem! Apakah saya diperbolehkan untuk menyela? Tuan Mo..., Menurut saya Paman yang bertugas memotong batu tidaklah bersalah dalam hal ini. Justru saya menganggap apa yang terjadi adalah kelalaian anda,” sela Fengyin.
“Apa kau bilang?!”
“Sebagai seorang ahli anda seharusnya memberitahu tempat nadi batunya terlebih dulu sebelum membiarkan Paman itu mulai memotongnya. Jika nadi batunya telah ditemukan, tentu saja Mineral Langka yang tersembunyi akan terlihat ketika batunya mulai terpotong.”
“Tuan Mo..., Sekarang tunjukkan dimana letak nadi batu itu berada.”
Chao Fengyin tersenyum, melihat pemuda itu mengatakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh Mo Chu membuat Pria Tua itu berkeringat.
“Seorang ahli pasti bisa menemukannya dengan mudah, kan?” desak Fengyin.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, seorang Mo Chu pun dipojokkan.